Merajut saat mengandung anak pertama, Nadia Putri Nilam Sari kini mengembangkan ByLin Handmade sebag

Pernah Berhenti Sekolah, Kini Nadia Putri Nilam Sari Mengajarkan Rajutan Cantik lewat ByLin Handmade

Reporter : Brigitta N. Ferdiana
Nadia Putri Nilam Sari bersama putrinya di booth ByLin Handmade, menampilkan berbagai produk rajutan dan kerajinan handmade yang dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan usahanya di Surabaya.

Jejakdanarah.com - “Dulu kuliah jurusan apa, Mbak?”

Pertanyaan itu muncul ketika Nadia Putri Nilam Sari sedang bersiap membuka booth di sebuah kedai kopi di Surabaya Barat. Ia sedang menata barang-barang ketika kami mulai berbincang.

“Saya lulusan SMP,” jawabnya.

Jawaban itu kemudian membawa percakapan kami ke cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar pendidikan formal.

Menjelang magrib, kami duduk sambil menikmati kopi. Nadia bercerita tentang ByLin Handmade, usaha kerajinan yang sedang ia kembangkan, juga tentang bagaimana ia belajar membuat berbagai produk dengan tangannya sendiri.

Dari sana terlihat satu hal yang cukup kuat dari Nadia: ia punya rasa ingin tahu yang besar. Ketika menemukan sesuatu yang menarik, ia akan mencoba, bertanya, belajar, lalu mencoba lagi.

Sebelum ByLin, Ada Banyak Hal yang Nadia Pelajari

Nadia lahir dan tumbuh di Desa Gemarang, Kabupaten Madiun. Sejak kecil ia sudah cukup dekat dengan aktivitas berdagang. Ibunya berjualan bunga dengan nama “Sekar”, sementara ayahnya bekerja sebagai kernet bus dan kemudian berpindah-pindah pekerjaan.

Saat remaja, Nadia sempat melanjutkan sekolah di SMK di Madiun. Ia mulai menikmati kegiatan sekolah dan bahkan pernah membuat kerajinan dari kain flanel untuk dijual.

Namun keadaan keluarga membuatnya harus pindah ke Kalimantan bersama ibu dan kakaknya. Di sana ia mencoba membantu ekonomi keluarga dengan berjualan es kopyor di sekolah.

Usaha kecil itu tidak berlangsung lama. Diusianya 14 tahun, Nadia akhirnya memilih berhenti sekolah untuk mengurangi beban keluarga.

Setelah itu, ia mulai bekerja. Dari toko pakaian hingga toko oleh-oleh di sekitar bandara. Di tempat terakhir itulah Nadia banyak belajar tentang produk oleh-oleh, batu akik, bertemu dengan para perajin, sekaligus mengenal bagaimana sebuah produk dibuat dan dijual.

Pada akhir 2015, Nadia kembali ke Surabaya. Januari 2016 ia bekerja sebagai kasir laundry dan bertahan hampir sepuluh tahun.

Masa itu kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan Nadia. Bukan karena semuanya sudah direncanakan, tetapi karena dari berbagai pekerjaan dan pertemuan tersebut ia terus mendapatkan pengalaman.

Nadia Putri Nilam Sari di booth ByLin Handmade dengan produk rajutan

Benang Rajut yang Membawa Nadia ke Dunia Baru

Tahun 2019, Nadia menikah dengan Ferry Pramusi. Tidak lama kemudian ia mengandung anak pertamanya, Fellyn.

Saat hamil, muncul keinginan sederhana: ia ingin membuat sesuatu sendiri untuk anaknya.

Nadia kemudian mulai belajar merajut.

Percobaan pertamanya tidak langsung berhasil. Ia mencoba beberapa jenis benang dan harus berulang kali mencari tahu mana yang lebih mudah digunakan. Dari situ ia mulai mengenal berbagai teknik dan karakter bahan.

Pada Oktober 2019, ia memberanikan diri membeli bahan menggunakan uang mahar pernikahannya yang saat itu masih tersimpan, sekitar Rp230 ribu.

Semua uang tersebut dibelikan benang pollycherry.

Produk pertamanya berupa boneka dan sepatu bayi. Usaha itu sempat berjalan, kemudian berhenti ketika Nadia harus menghadapi masa melahirkan dan mengurus bayi.

Beberapa waktu kemudian, ia kembali mencoba menjual produknya melalui Facebook.

Dari media sosial itu pula kesempatan lain datang. Nadia bertemu dengan Ibu Ida Pungky dari Bali dan kemudian menjadi salah satu pemasok produk rajutnya. Hubungan tersebut masih berjalan hingga sekarang.

Bagi Nadia, kesempatan itu bukan sekadar soal mendapatkan pembeli. Ia juga mendapatkan pengalaman baru tentang bagaimana produk handmade dipasarkan dan diterima oleh orang lain.

ByLin Handmade Tumbuh Bersama Nadia

Usaha yang sebelumnya bernama LynCrochet kemudian berganti nama menjadi ByLin Handmade.

Nama LynCrochet dirasa terlalu sulit diucapkan dan terlalu menggambarkan produk crochet saja. Padahal, Nadia mulai mengembangkan lebih banyak produk.

Nama ByLin sendiri diambil dari bagian nama anaknya, Fellyn.

Kini ByLin Handmade mengembangkan berbagai produk handmade seperti amigurumi, boneka crochet, gantungan kunci, bandana, jepit rambut, pouch mini hingga boneka pocong crochet yang menjadi salah satu produk khasnya.

Produk-produknya telah dipasarkan ke sejumlah daerah, termasuk Bali, Yogyakarta, Surabaya dan Kalimantan.

Nadia juga mulai mengikuti berbagai kegiatan UMKM. Pada 2024, ia mengikuti pelatihan dan bertemu dengan pelaku usaha yang lebih dulu berkembang.

Di situlah kebiasaan Nadia untuk bertanya semakin terlihat.

Ia tidak ragu bertanya kepada orang yang dianggap lebih berpengalaman. Dari pertemuan dan informasi yang didapat, Nadia mulai memahami lebih banyak tentang kurasi produk, pemasaran dan kesempatan untuk masuk ke jaringan UMKM.

Pada Januari 2025, produknya lolos kurasi dan mulai dapat dipasok ke sejumlah pusat oleh-oleh di Surabaya. ByLin Handmade juga masuk dalam pendampingan UMKM Pemerintah Kota Surabaya.

Bagi Nadia, proses itu seperti membuka pintu baru.

Ia mulai bertemu lebih banyak orang, mengikuti seminar, menghadiri kegiatan UMKM dan memperluas relasi.

Ketika Produk Ditiru, Nadia Memilih Tetap Membuat

Seperti banyak pelaku usaha handmade, Nadia juga pernah menghadapi produknya yang dibuat atau ditiru oleh orang lain. Persaingan harga pun menjadi bagian dari perjalanan usahanya.

Namun ia tidak terlalu lama berhenti di situ.

Nadia memilih memikirkan kembali apa yang bisa dikembangkan dari ByLin Handmade.

Menurutnya, setiap pembuat memiliki karakter dan pasarnya sendiri. Karena itu, ia lebih memilih memperkuat produk, mencoba model baru dan mencari orang-orang yang memang menghargai pekerjaan handmade.

Sikap tersebut juga terlihat dari caranya mengembangkan produk.

Tidak hanya membuat dan menjual, Nadia mulai mencari cara agar keterampilannya bisa dibagikan kepada orang lain.

Dari Menjual Rajutan, Nadia Mulai Mengajarkan Rajutan

Tahun 2026 menjadi babak baru bagi ByLin Handmade.

Nadia mulai mengembangkan creative workshop untuk pemula. Gagasan tersebut juga datang dari dorongan Brigitta, penulis Jejakdanarah.com, yang melihat bahwa keterampilan Nadia tidak berhenti pada kemampuan membuat dan menjual produk handmade.

Brigitta melihat workshop sebagai salah satu langkah yang bisa membantu mengembangkan ByLin Handmade sebagai brand. Bukan hanya melalui produk yang dibuat Nadia, tetapi juga melalui pengalaman kreatif yang memungkinkan orang lain mengenal dan mencoba langsung proses di balik karya handmade.

Keduanya kemudian mencoba menjalankan workshop pertama di Excotel. Dari sana, kegiatan creative workshop ByLin Handmade mulai berkembang dan dilakukan bersama berbagai partner.

Konsepnya sederhana: peserta tidak hanya datang, melihat contoh, kemudian pulang. Mereka diajak mencoba membuat sendiri.

Beberapa workshop yang pernah dilakukan antara lain chunky bag, mini crochet, felt keychain, Kirby crochet, felt card holder, kristik keychain, Moru doll hingga clay decorate.

Kegiatannya dilakukan bersama berbagai partner, mulai dari Rumah Literasi Digital, Excotel, Hasans Store, Neve, Trofee Coffee, Bagikopi, JIA Kopi, Hanaka dan beberapa partner lainnya.

Bagi peserta pemula, Nadia membuat prosesnya sesederhana mungkin.

Dalam workshop rajut, misalnya, ia akan mengenalkan alat dan bahan terlebih dahulu, kemudian mengajarkan dasar crochet sebelum peserta mulai membuat produknya.

Untuk kelas jepit rambut, peserta bahkan diarahkan agar bisa menyelesaikan satu jepit rambut handmade dalam waktu sekitar satu jam dan membawanya pulang.

Di titik ini, ByLin Handmade tidak lagi hanya berbicara tentang barang yang dibuat Nadia.

Ada pengalaman membuat sesuatu sendiri yang ikut ditawarkan.

Dan bagi Nadia, melihat orang yang awalnya merasa tidak bisa kemudian berhasil menyelesaikan satu produk memberikan kepuasan tersendiri.

Ada Banyak Orang di Balik Perjalanan Nadia

Perjalanan Nadia tentu tidak berjalan sendirian.

Suaminya, Ferry, menjadi salah satu orang yang sejak awal mendukungnya. Ibunya membantu menjaga Fellyn ketika Nadia harus mengikuti kegiatan. Ayahnya memberikan dukungan melalui doa, sementara kakaknya menjadi tempat Nadia bercerita dan berdiskusi ketika harus mengambil keputusan.

Ada pula Bu Dhe Titik dan Pak Dhe Eni yang ikut membantu menjaga Fellyn.

Dalam perjalanan bisnisnya, Nadia juga bertemu dengan orang-orang yang kemudian menjadi bagian penting dari perkembangannya. Bu Nurul El-Diana, yang pernah memberinya kesempatan bekerja di toko oleh-oleh, menjadi salah satu sosok yang ia ingat. Begitu pula Ibu Ida Pungky yang membuka kesempatan bagi Nadia untuk memasok produk rajut ke Bali.

Dari cerita itu, perkembangan ByLin Handmade terasa bukan sebagai sesuatu yang tiba-tiba.

Ada banyak pertemuan, pekerjaan, pertanyaan, kegagalan kecil dan kesempatan yang dikumpulkan Nadia sedikit demi sedikit.

“Saya Lulusan SMP”

Kembali pada pertanyaan yang mengawali percakapan kami.

Nadia mengaku terkadang masih ada rasa malu ketika mengatakan pendidikan terakhirnya. Namun di sisi lain, ia juga bangga dengan apa yang sudah berhasil ia pelajari setelah meninggalkan sekolah.

Ia belajar dari pekerjaan. Dari orang-orang yang ditemuinya. Dari pelatihan. Dari internet. Dari pelanggan. Dari sesama pelaku UMKM. Bahkan dari pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan ketika merasa belum mengerti.

Pendidikan formal Nadia memang berhenti di SMP.

Tetapi proses belajarnya tidak.

Mungkin itu pula yang membuat perjalanan ByLin Handmade terasa dekat dengan cerita Nadia sendiri. Ia tidak tumbuh dari satu rencana besar yang sudah tersusun sejak awal.

Ia mencoba.

Ketika tidak berhasil, ia mencari tahu.

Ketika menemukan sesuatu yang baru, ia belajar lagi.

Dari benang yang awalnya dibeli dengan uang Rp230 ribu, Nadia kemudian menemukan dunia baru yang membawanya ke berbagai kota, pusat oleh-oleh, kegiatan UMKM, hingga ruang-ruang workshop.

Dan sekarang, benang yang sama tidak hanya ia gunakan untuk membuat produk.

Ia menggunakannya untuk mengajak orang lain belajar membuat sesuatu dengan tangan mereka sendiri.

Yuk, Merajut Jepitan Cantik!

Cerita Nadia dan ByLin Handmade akan berlanjut melalui kegiatan “Yuk, Merajut Jepitan Cantik! Rajut Benangnya, Cantik Jepitannya!”

Poster Workshop “Yuk, Merjaut Jepitan Cantik!” yang diselenggarakan oleh Rumah Literasi Digital dan Markas UKM, Surabaya pada Sabtu, 19 September 2026 di Hanaka Social Space.

Workshop ini akan digelar pada Sabtu, 19 September 2026, di Hanaka Social Space Surabaya, mulai pukul 13.00 hingga selesai.

Peserta akan belajar langsung bersama Mba Nadya dari ByLin Handmade, mulai dari mengenal alat dan bahan, dasar crochet, proses merajut hingga finishing. Kelas dibuat untuk pemula dan peserta dapat membawa pulang hasil jepit rambut yang dibuat sendiri.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Markas UKM (MU) dan Rumah Literasi Digital (RLD) dengan kuota maksimal 50 peserta.

Untuk informasi pendaftaran dan detail kegiatan, pantau media sosial Rumah Literasi Digital, @jejakdan_arah, dan Markas UKM.

Barangkali, satu jepit rambut yang dibuat hari itu bukan hanya menjadi hasil workshop.

Bisa jadi, dari sepotong benang sederhana, ada orang lain yang kemudian menemukan sesuatu yang ingin ia pelajari lebih jauh, seperti yang pernah dialami Nadia.

Editor : Redaksi

Kabar
Populer
Berita Terbaru