Kekurangan guru, fasilitas sekolah, hingga kecemasan soal masa depan membuat suara pelajar semakin k

Pelajar Prancis Turun ke Jalan: Ada Apa dengan Sekolah Mereka?

Reporter : Brigitta N. Ferdiana
Pelajar Prancis berkumpul dalam aksi blokade sekolah pada 29 September 2026 sebagai bagian dari gerakan protes pelajar di Prancis. Foto: Camille Hestaux/Wikimedia Commons (CC0).

Jejakdanarah.com - Ratusan pelajar di Prancis turun ke jalan memprotes kondisi pendidikan, mulai dari kekurangan guru dan fasilitas sekolah hingga kekhawatiran tentang masa depan.

Aksi ini telah berlangsung selama beberapa pekan dan berkembang dari gerakan lokal menjadi protes di berbagai wilayah.

Menurut Le Monde, gerakan bermula pada 21 September 2026 di kawasan pinggiran Paris. Dalam sekitar 10 hari, aksi menyebar ke sejumlah wilayah Prancis. Pada 5 Oktober, sekitar 400 hingga 500 sekolah dilaporkan mengalami penutupan atau gangguan.

Tuntutan pelajar tidak berhenti pada satu kebijakan. Mereka mempersoalkan kelas yang terlalu padat, kondisi sejumlah bangunan sekolah, jadwal belajar, serta keterbatasan fasilitas.

Dari ruang kelas ke jalan

Bagi pelajar, persoalan tersebut menyentuh kehidupan mereka setiap hari.

Sekolah menjadi tempat mereka belajar, membangun relasi, menemukan minat, dan mempersiapkan diri menuju pendidikan lanjutan atau dunia kerja. Saat berbagai persoalan muncul bersamaan, keresahan soal masa depan ikut menguat.

Pada 6 Oktober, aksi nasional yang lebih besar dijadwalkan berlangsung di berbagai wilayah Prancis.

Reuters melaporkan ratusan sekolah masih ditutup atau mengalami gangguan menjelang aksi tersebut. Demonstrasi juga telah diwarnai bentrokan antara pelajar dan aparat di sejumlah lokasi.

Salah satu insiden paling serius terjadi di Lens. Reuters melaporkan seorang pelajar berusia 15 tahun mengalami cedera berat pada tangan dan sebagian lengan bawah setelah mengambil granat pembubaran massa yang kemudian meledak dalam bentrokan dengan polisi.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa protes pendidikan telah memasuki situasi yang semakin tegang.

Kekhawatiran yang lebih besar

Di balik tuntutan tentang guru dan fasilitas, ada persoalan lain yang ikut mendorong keresahan: masa depan.

Pendidikan selama ini dipandang sebagai salah satu jalan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun anak muda juga menghadapi persaingan pendidikan, biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, serta tekanan untuk menentukan masa depan pada usia yang masih sangat muda.

Karena itu, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal jumlah guru atau kondisi bangunan sekolah.

Apakah sistem pendidikan masih memberi mereka rasa percaya bahwa masa depan bisa dibangun?

Gerakan pelajar Prancis menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut sudah dibawa ke ruang publik.

Pemerintah menghadapi tekanan

Pemerintah Prancis kini menghadapi tuntutan untuk merespons persoalan pendidikan sekaligus menjaga agar demonstrasi tidak berkembang menjadi bentrokan yang lebih besar.

Le Monde mencatat gerakan tersebut berkembang cepat dari aksi lokal menjadi gerakan nasional. Jumlah sekolah yang terdampak juga menunjukkan besarnya perhatian pelajar terhadap persoalan pendidikan.

Namun pengalaman dan tuntutan pelajar tidak selalu sama di setiap wilayah. Karena itu, memahami aksi ini membutuhkan perhatian pada kondisi sekolah yang menjadi latar belakang protes, bukan hanya melihat jumlah peserta atau sekolah yang tutup.

Pada akhirnya, pelajar yang turun ke jalan sedang membawa persoalan yang akan mereka jalani sendiri.

Mereka masih berada di bangku sekolah, tetapi sudah berbicara tentang kualitas pendidikan, kesempatan, dan masa depan.

Sekolah mungkin berada di dalam gedung.

Namun pertanyaan tentang masa depan mereka sudah dibawa keluar pagar.

Apa yang membuat mereka merasa suara itu harus sampai ke jalan?

Editor : Redaksi

Kabar
Populer
Berita Terbaru