<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
            xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
            xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
            xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
            xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
            xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel>
                <title>Jejak dan Arah</title>
                <atom:link href="https://jejakdanarah.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
                <link>https://jejakdanarah.com/</link>
                <description>Menulis Jejak. Menentukan Arah : Ruang bagi perempuan dewasa yang tidak lagi hidup reaktif, tetapi sadar dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.</description>
                <lastBuildDate>Tue, 01 Sep 2026 19:03:00 +0700</lastBuildDate>
                <language>id-ID</language>
                <generator>https://jejakdanarah.com/</generator>
                <image>
                    <url>https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/logo/icon-jejak-dan-arah.png</url>
                    <title>Jejak dan Arah</title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/</link>
                </image><item>
                    <title><![CDATA[Kristiani, Warga Surabaya Tolak Rp10 Juta, Pertanyaan Rp1 Juta Justru Belum Selesai]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-49-kristiani-warga-surabaya-tolak-rp10-juta-pertanyaan-rp1-juta-justru-belum-selesai</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-49-kristiani-warga-surabaya-tolak-rp10-juta-pertanyaan-rp1-juta-justru-belum-selesai</guid>
                    <pubDate>Tue, 01 Sep 2026 19:03:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Warga Surabaya Kristiani menolak tawaran Rp10 juta setelah mengaku diminta Rp1 juta untuk mengurus surat pengeluaran kendaraan barang bukti kecelakaan.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com</strong> - Ada yang janggal dari cerita ini jika persoalannya hanya dihitung dengan uang.</p>
<p>Seorang warga Surabaya, Kristiani, mengaku diminta membayar Rp1 juta ketika mengurus surat pengeluaran kendaraan yang menjadi barang bukti kecelakaan di Satlantas Colombo, Surabaya.</p>
<p>Ketika persoalan itu kemudian mencuat, muncul tawaran pengembalian hingga 10 kali lipat, sekitar Rp10 juta. Kristiani menolak. Ia memilih uang Rp1 juta miliknya dikembalikan dan persoalan yang ia alami diproses.</p>
<p>Pilihan tersebut membuat perkara ini layak dilihat lebih jauh. Sebab pertanyaan sebenarnya bukan lagi mengapa warga tidak mengambil Rp10 juta, melainkan mengapa ia sampai harus mengeluarkan Rp1 juta sejak awal?</p>
<p>Terlebih, menurut keterangan kepolisian, pengambilan kendaraan yang menjadi barang bukti kecelakaan tidak dikenai biaya.</p>
<p><strong>Bermula dari pengurusan surat</strong></p>
<p>Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kristiani datang ke Satlantas Colombo berkaitan dengan kendaraan yang sebelumnya menjadi barang bukti kecelakaan. Ia mengurus surat keterangan yang diperlukan untuk proses pengeluaran kendaraan tersebut.</p>
<p>Kepada detikJatim, Kristiani menceritakan bahwa sebelumnya ia memang sudah mendapat informasi kemungkinan adanya biaya di Colombo. Karena itu, ketika diminta membayar Rp1 juta, ia mengaku sempat menganggapnya sebagai pungutan resmi.&nbsp;</p>
<p>Namun ada bagian lain yang kemudian membuatnya mempertanyakan pembayaran tersebut. Menurut pengakuannya, uang Rp1 juta itu diminta melalui transfer ke rekening pribadi atas nama penyidik. Kristiani mengatakan saat itu dirinya mengira pembayaran tersebut merupakan bagian dari pungutan resmi.&nbsp;</p>
<p>Pengalaman tersebut kemudian ia bagikan melalui akun Threads miliknya. Dalam unggahan itu, Kristiani juga melampirkan surat pengeluaran barang bukti kendaraan bermotor serta bukti transfer Rp1 juta.&nbsp;</p>
<p>Unggahan tersebut kemudian menyebar dan mendapat perhatian publik.</p>
<p><strong>Polisi justru mengatakan pengambilan kendaraan gratis</strong></p>
<p>Di sinilah persoalannya mulai memiliki lapisan lain. Sehari setelah cerita tersebut mencuat, Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Galih Bayu Raditya memberikan penjelasan kepada detikJatim.</p>
<p>Galih menegaskan bahwa pengambilan kendaraan yang menjadi barang bukti kecelakaan di Polrestabes Surabaya gratis dan tidak dipungut biaya apa pun. Ia juga mengatakan informasi mengenai dugaan pungutan Rp1 juta tersebut akan segera dicek dan ditindaklanjuti.&nbsp;</p>
<p>Keterangan serupa dimuat Korlantas Polri. Dalam pemberitaan 28 Agustus 2026, Korlantas menyebut masyarakat yang kasus kecelakaannya telah selesai dapat mengambil kendaraan dengan membawa bukti kepemilikan. Jika menemukan dugaan pungutan, masyarakat juga dipersilakan melapor kepada Propam Polrestabes Surabaya.&nbsp;</p>
<p>Artinya, posisi resminya cukup terang: pengambilan barang bukti kendaraan kecelakaan tidak dikenai biaya.</p>
<p>Maka pertanyaan berikutnya menjadi sulit dihindari. Kalau memang gratis, Rp1 juta itu untuk apa?</p>
<p><strong>Kalau ada pembayaran, harus jelas kepada siapa dan untuk apa</strong></p>
<p>Pertanyaan ini bukan berarti langsung menyimpulkan telah terjadi pungutan liar. Sampai pemeriksaan selesai, dugaan tersebut tetap merupakan dugaan. Tetapi ada hal yang memang layak dijelaskan kepada publik.</p>
<p>Jika suatu pelayanan pemerintah atau kepolisian memiliki biaya resmi, masyarakat semestinya dapat mengetahui dasar pembayaran tersebut. Berapa tarifnya, untuk layanan apa, bagaimana mekanisme pembayarannya, dan ke mana uang tersebut disetorkan.</p>
<p>Persoalannya menjadi berbeda ketika pembayaran, sebagaimana pengakuan Kristiani, diarahkan ke rekening pribadi. Bahkan sebelum bicara soal Rp10 juta, pertanyaan mengenai Rp1 juta ini saja sudah membutuhkan jawaban.</p>
<p>Apakah memang ada biaya untuk penerbitan surat tersebut? Jika ada, apa dasar dan mekanismenya? Jika tidak ada, mengapa warga diminta membayar? Dan jika benar pembayaran dilakukan melalui rekening pribadi, mengapa mekanisme tersebut digunakan?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan ini bukan perkara mencari-cari kesalahan. Justru sebaliknya, kejelasan semacam itu diperlukan agar masyarakat dapat membedakan antara biaya resmi dan pungutan yang tidak memiliki dasar.</p>
<p><strong>Dari Rp1 juta menjadi Rp10 juta</strong></p>
<p>Setelah persoalan menjadi perhatian publik, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan merespons dengan meminta Kasatlantas menemui Kristiani. Dalam perkembangan berikutnya, muncul tawaran pengembalian uang hingga 10 kali lipat dari nominal yang sebelumnya dibayarkan.</p>
<p>Namun Kristiani tidak mengambilnya.</p>
<p>Dalam tulisan Siaga Indonesia pada 1 September 2026, sikap Kristiani digambarkan melalui kalimat pendek yang menjadi dasar artikelnya: &ldquo;Saya Bukan Cari Bonus.&rdquo; Ia disebut meminta uangnya dikembalikan sesuai nominal dan dugaan pungutan tersebut diproses.&nbsp;</p>
<p>Keputusan itu sebenarnya menarik. Sebab jika persoalannya adalah kerugian Rp1 juta, pengembalian Rp10 juta tentu secara angka jauh lebih menguntungkan.</p>
<p>Tetapi justru di situlah masalahnya. Rp10 juta tidak menjawab pertanyaan tentang Rp1 juta. Tambahan Rp9 juta tidak menjelaskan siapa yang meminta uang tersebut. Tidak menjelaskan dasar permintaannya. Tidak menjelaskan mengapa rekening pribadi digunakan.</p>
<p>Dan yang paling penting, tidak otomatis menjawab apakah ada masalah dalam pelayanan yang diterima warga.</p>
<p><strong>Mengapa tidak cukup mengembalikan Rp1 juta?</strong></p>
<p>Mengembalikan uang warga tentu merupakan langkah yang perlu dilakukan apabila uang tersebut memang tidak semestinya dibayarkan. Tetapi setelah itu, pekerjaan belum selesai. Justru seharusnya dimulai pertanyaan berikutnya: bagaimana praktik tersebut bisa terjadi?</p>
<p>Sebab seorang warga yang datang ke kepolisian berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya setara dengan petugas yang memberikan pelayanan. Ia datang karena membutuhkan bantuan institusi.</p>
<p>Dalam kasus ini, konteksnya bahkan berkaitan dengan kecelakaan dan kendaraan yang menjadi barang bukti. Warga datang untuk menyelesaikan urusan setelah sebuah peristiwa yang tidak diharapkan.</p>
<p>Di posisi seperti itu, masyarakat membutuhkan prosedur yang jelas. Bukan harus menebak apakah uang yang diminta merupakan kewajiban resmi. Bukan pula harus mencari tahu sendiri apakah rekening yang diberikan merupakan rekening institusi atau rekening pribadi.</p>
<p>Dan ketika muncul persoalan, penyelesaian idealnya tidak berhenti pada kalimat: uang sudah dikembalikan. Karena kalau hanya begitu, masalahnya mudah sekali menjadi sederhana.</p>
<p>Rp1 juta keluar. Rp1 juta kembali. Selesai.</p>
<p>Padahal yang perlu diketahui justru bagaimana Rp1 juta itu bisa keluar.</p>
<p><strong>Polisi menyatakan dugaan tersebut diperiksa</strong></p>
<p>Polrestabes Surabaya menyatakan informasi tersebut ditindaklanjuti. Galih juga mempersilakan masyarakat yang mengalami atau mengetahui dugaan pungutan dalam pengurusan barang bukti kendaraan untuk melaporkannya kepada Propam dengan membawa bukti yang dimiliki.&nbsp;</p>
<p>Dalam perkembangan lain yang diberitakan sejumlah media, apabila petugas terbukti melakukan pelanggaran, terdapat ancaman sanksi internal, termasuk demosi. Namun bagian ini tetap harus menunggu hasil pemeriksaan.</p>
<p>Sebab sampai ada keputusan resmi, belum tepat jika seseorang langsung disebut melakukan pungli sebagai fakta yang telah terbukti. Yang sudah diketahui adalah adanya pengakuan warga mengenai pembayaran Rp1 juta, adanya bukti transfer yang disebut telah dilampirkan, serta penegasan resmi bahwa pengambilan kendaraan barang bukti kecelakaan tidak dipungut biaya. &nbsp;Selebihnya adalah wilayah pemeriksaan.</p>
<p><strong>Yang ditunggu bukan lagi uangnya</strong></p>
<p>Kasus ini mungkin bermula dari Rp1 juta. Tetapi yang dipertaruhkan jauh lebih besar dari nominal tersebut.</p>
<p>Ada kepercayaan masyarakat kepada petugas yang memberikan pelayanan. Ada kewajiban institusi memastikan prosedur berjalan sebagaimana mestinya. Dan ada kebutuhan untuk menjelaskan kepada publik ketika muncul dugaan bahwa seseorang diminta membayar untuk layanan yang secara resmi dinyatakan gratis.</p>
<p>Karena itu, pertanyaan yang layak ditunggu jawabannya bukan: &ldquo;Apakah Kristiani sudah menerima uangnya kembali?&rdquo;. Melainkan: &ldquo;Mengapa uang itu diminta?&rdquo;. Lalu: &ldquo;Mengapa ditransfer ke rekening pribadi?&rdquo;</p>
<p>Dan jika ternyata memang tidak ada dasar untuk meminta uang tersebut, bagaimana institusi memastikan hal serupa tidak dialami warga lain?</p>
<p>Pengembalian Rp1 juta menyelesaikan kerugian seorang warga. Tawaran Rp10 juta mungkin terlihat sebagai bentuk tanggung jawab. Tetapi keduanya belum menjawab akar persoalan.</p>
<p>Sebab masyarakat yang datang ke institusi yang diberi mandat untuk melindungi dan melayani seharusnya tidak perlu memilih antara membayar agar urusannya selesai atau mempertanyakan mengapa ia harus membayar.</p>
<p>Dalam kasus ini, Kristiani memilih yang kedua. Dan sekarang, publik tinggal menunggu apakah pemeriksaan internal kepolisian mampu memberikan jawaban yang lebih jelas daripada sekadar angka Rp1 juta dan Rp10 juta.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202609/dugaan-pungli-pengambilan-barang-bukti-kecelakaan-di-surabaya.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Ilustrasi dugaan pungli Rp1 juta dalam pengambilan barang bukti kecelakaan di Surabaya.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[NEWS]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Junior Barista Showdown 2026, Barista Muda Bereksperimen Lewat Coffee Mixology]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-48-junior-barista-showdown-2026-barista-muda-bereksperimen-lewat-coffee-mixology</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-48-junior-barista-showdown-2026-barista-muda-bereksperimen-lewat-coffee-mixology</guid>
                    <pubDate>Tue, 01 Sep 2026 18:22:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Junior Barista Showdown 2026 di The Alana Surabaya mempertemukan barista muda dan praktisi industri yang menguji kreatif, teknik serta rasa.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com</strong> - Kopi yang biasanya hadir dalam bentuk seduhan sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda ketika bertemu dengan teknik mixology. Bagi barista, proses tersebut bukan hanya soal membuat minuman terasa enak, tetapi juga bagaimana sebuah ide diterjemahkan menjadi sajian yang memiliki rasa dan karakter.</p>
<p>Hal itu terlihat dalam Junior Barista Showdown 2026 &ndash; Coffee Mixology Competition Vol. 3 yang digelar The Alana Surabaya pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Bertempat di Phoenix Lounge & Bar, The Alana Surabaya, kompetisi ini mempertemukan barista muda dengan sejumlah praktisi industri beverages.</p>
<p>Memasuki volume ketiga, Junior Barista Showdown kembali membawa barista muda ke situasi yang berbeda dari rutinitas mereka. Di sini, peserta harus berhadapan dengan waktu, penilaian juri, bahan yang tersedia, sekaligus tuntutan untuk menghasilkan sebuah kreasi yang dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Yang dinilai bukan hanya hasil akhirnya.</p>
<p>Peserta ditantang menunjukkan teknik, kreativitas, serta kemampuan mereka membangun rasa melalui sajian coffee mixology. Dengan kata lain, kopi menjadi titik awal untuk bereksperimen lebih jauh.</p>
<p><strong>Tidak hanya tentang siapa yang menang</strong></p>
<p>Bagi The Alana Surabaya, kompetisi ini memiliki tujuan yang lebih panjang daripada sekadar menentukan pemenang.</p>
<p>General Manager The Alana Surabaya, Fabio P. Simorangkir, mengatakan Junior Barista Showdown dibuat sebagai ruang bagi barista muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus bertemu langsung dengan orang-orang yang sudah lebih dulu bekerja di industri.</p>
<p>&ldquo;Kami ingin Junior Barista Showdown menjadi lebih dari sekadar kompetisi. Kami ingin para barista muda yang memiliki passion di bidang ini mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka, bertemu dengan para profesional, dan belajar dari pengalaman selama kompetisi,&rdquo; ujar Fabio.</p>
<p>Pertemuan antara peserta dan praktisi menjadi salah satu bagian penting dari kompetisi. Sebab bagi barista yang sedang membangun pengalaman, kesempatan untuk mendapatkan penilaian langsung dari profesional bisa memberikan perspektif yang berbeda dari proses belajar sehari-hari.</p>
<p>Fabio melihat pengalaman tersebut bahkan bisa menjadi bagian dari perjalanan profesional peserta setelah kompetisi selesai.</p>
<p>&ldquo;Bisa jadi hari ini mereka datang sebagai peserta, tetapi pengalaman yang mereka dapatkan di sini bisa menjadi salah satu langkah untuk perjalanan mereka sebagai profesional di industri. Itu yang menurut saya membuat acara ini menjadi berarti,&rdquo; tambahnya.</p>
<p>Pernyataan tersebut juga menunjukkan bagaimana kompetisi tidak semata-mata ditempatkan sebagai pertandingan. Ada proses belajar yang berjalan bersamaan dengan kompetisi.</p>
<p><strong><img src="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202609/barista-muda-di-junior-barista-showdown-2026.jpeg" alt="Peserta Junior Barista Showdown 2026 menyiapkan kreasi coffee mixology dalam kompetisi di The Alana Surabaya." width="100%" height="auto" />Ketika barista diberi ruang untuk bereksperimen</strong></p>
<p>Coffee mixology sendiri membuka kemungkinan yang lebih luas bagi seorang barista. Kopi tidak harus berdiri sendiri. Ia dapat dipadukan dengan berbagai bahan untuk menghasilkan rasa dan pengalaman yang berbeda.</p>
<p>Food & Beverage Manager The Alana Surabaya, Miftahol Arifin, melihat sisi eksplorasi tersebut sebagai salah satu daya tarik utama kompetisi.</p>
<p>&ldquo;Coffee mixology memberikan ruang bagi barista untuk menunjukkan kreativitas, tidak hanya dari teknik, tetapi juga dari bagaimana mereka membangun rasa dan karakter sebuah minuman,&rdquo; ujar Miftahol.</p>
<p>Menurutnya, kompetisi menjadi kesempatan bagi peserta untuk membawa gagasan mereka ke dalam satu sajian.</p>
<p>&ldquo;Kami ingin melihat sejauh mana peserta berani bereksplorasi dan membawa ide mereka ke dalam satu sajian,&rdquo; lanjutnya.</p>
<p>Karena itu, coffee mixology dalam kompetisi ini tidak berhenti pada persoalan mencampurkan beberapa bahan. Ada keputusan yang harus dibuat peserta: rasa seperti apa yang ingin dibangun, bahan apa yang digunakan, bagaimana teknik diterapkan, dan bagaimana keseluruhan kreasi tersebut dapat menjadi satu minuman.</p>
<p><strong>Juri datang dari berbagai sisi industri</strong></p>
<p>Untuk menilai kreasi peserta, The Alana Surabaya menghadirkan empat juri dengan pengalaman yang berbeda.</p>
<p>Mereka adalah Ivan Andriansyah, F&B Manager ASTON Sidoarjo City Hotel & Conference Center; Steve Ranu, Mixologist Jumeirah Al Naseem, Dubai; Ade Herlambang, R&D Beverages Excelso & Societe, Evolved Q Arabica Grader serta SCA Barista Foundation & Intermediate; dan Bonny Haruna, Principal Toza Juice Jatim.</p>
<p>Latar belakang yang beragam tersebut membawa sudut pandang yang berbeda ke dalam kompetisi. Hospitality, mixology, pengembangan produk beverages, coffee grading hingga fruit-based beverages menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa para juri.</p>
<p>Bagi peserta, kehadiran mereka tidak hanya berarti mendapatkan nilai. Ada kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah kreasi dinilai dari perspektif profesional yang berbeda.</p>
<p>Miftahol berharap pengalaman tersebut dapat membantu peserta membawa pulang pengetahuan yang bisa digunakan setelah kompetisi.</p>
<p>&ldquo;Bertemu dengan juri yang memiliki pengalaman di bidangnya tentu menjadi kesempatan belajar yang tidak setiap hari mereka dapatkan. Kami berharap setelah kompetisi ini, peserta bisa membawa pulang insight baru dan semakin percaya diri untuk mengembangkan kemampuan mereka,&rdquo; katanya.</p>
<p><strong>Brand ikut membuka ruang eksplorasi rasa</strong></p>
<p>Eksperimen yang dilakukan peserta juga mendapat dukungan dari sejumlah brand yang berkaitan dengan industri coffee dan beverages.</p>
<p>Excelso menjadi salah satu partner yang mendukung aspek coffee dalam kompetisi. Sementara Delifru Flavor Expert, Yakult, dan Toza turut memberikan dukungan dalam menghadirkan pilihan bahan dan pengalaman eksplorasi rasa bagi peserta.</p>
<p>Kehadiran berbagai produk tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat lebih banyak kemungkinan dalam menyusun sebuah kreasi minuman.</p>
<p>Di sisi lain, keterlibatan brand juga mempertemukan barista muda dengan nama-nama yang sudah lebih dahulu hadir dalam industri beverages. Relasi semacam ini menjadi bagian lain dari pengalaman yang mungkin tidak terlihat dari hasil akhir kompetisi.</p>
<p><strong>Lebih dari hadiah</strong></p>
<p>Seperti kompetisi pada umumnya, Junior Barista Showdown 2026 juga menyediakan hadiah dengan total nilai jutaan rupiah bagi peserta dengan performa terbaik.</p>
<p>Namun bagi The Alana Surabaya, hadiah bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan acara.</p>
<p>&ldquo;Juara tentu menjadi sebuah pencapaian, tetapi kami berharap setiap peserta pulang dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar hadiah. Bisa berupa ilmu baru, pengalaman, koneksi, atau bahkan kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh di industri ini,&rdquo; kata Fabio.</p>
<p>Pada akhirnya, tidak semua peserta akan membawa pulang gelar juara. Tetapi setiap peserta memiliki kesempatan membawa pulang pengalaman yang berbeda: pernah diuji oleh para profesional, pernah mempertanggungjawabkan sebuah kreasi, dan pernah melihat bagaimana ide mereka diterima oleh orang lain.</p>
<p>Junior Barista Showdown 2026 menjadi penyelenggaraan ketiga dari Coffee Mixology Competition yang digelar The Alana Surabaya. Melalui kegiatan ini, hotel tersebut berharap dapat terus mempertemukan talenta muda, komunitas, brand, dan profesional beverages dalam satu ruang.</p>
<p>Sebab dalam industri yang terus berkembang, kemampuan meracik kopi mungkin menjadi dasar. Tetapi keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru bisa menjadi langkah yang membuat seorang barista menemukan arahnya sendiri.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202609/junior-barista-showdown-2026-the-alana-surabay.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Pemenang Junior Barista Showdown 2026 – Coffee Mixology Competition Vol. 3 di The Alana Surabaya.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[NEWS]]></category><category><![CDATA[LIFESTYLE]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Petani PG Pradjekan Didorong Jaga Tebu MBS untuk Optimalkan Rendemen]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-47-petani-pg-pradjekan-didorong-jaga-tebu-mbs-untuk-optimalkan-rendemen</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-47-petani-pg-pradjekan-didorong-jaga-tebu-mbs-untuk-optimalkan-rendemen</guid>
                    <pubDate>Tue, 01 Sep 2026 18:02:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Petani PG Pradjekan Bondowoso didorong menjaga tebu MBS untuk mendukung kualitas bahan baku, rendemen, hasil panen, dan pendapatan petani.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com </strong>- Ada satu hal yang menentukan perjalanan tebu setelah meninggalkan kebun: kualitas.</p>
<p>Bagi petani, pekerjaan tidak selesai ketika tebu berhasil dipanen. Tebu masih harus sampai ke pabrik dalam kondisi yang baik. Di PG Pradjekan, Bondowoso, perhatian itu dirangkum dalam prinsip MBS: Manis, Bersih, dan Segar.</p>
<p>Prinsip tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas tebu sejak dari kebun hingga masuk ke pabrik. Kualitas bahan baku kemudian berkaitan dengan proses pengolahan dan rendemen yang dihasilkan.</p>
<p>Karena itu, petani didorong tidak hanya mengejar hasil panen. Mereka juga perlu memperhatikan bagaimana tebu dipanen, dijaga kebersihannya, dan dikirim ke pabrik.</p>
<p><strong>Bukan Sekadar Tebu yang Dipanen</strong></p>
<p>Tebu berkualitas dimulai dari waktu panen. Petani perlu memanen tebu ketika mencapai tingkat kemasakan yang optimal. Setelah itu, mereka perlu menjaga tebu tetap minim kotoran.</p>
<p>Hal berikutnya adalah kesegaran. Petani perlu segera mengirim tebu setelah menebangnya. Dengan cara tersebut, petani membantu menjaga kualitas bahan baku yang diterima PG Pradjekan.</p>
<p>Tiga hal itu menjadi inti dari MBS. Manis karena matang optimal, bersih dari kotoran, dan segar karena segera dikirim setelah ditebang.</p>
<p>Kualitas tersebut kemudian masuk ke tahap berikutnya, yaitu proses pengolahan di pabrik.</p>
<p><strong>Kualitas Tebu Bertemu dengan Rendemen</strong></p>
<p>Bagi petani, istilah rendemen memiliki kaitan dengan hasil yang mereka dapatkan dari tebu yang ditanam.</p>
<p>Semakin baik kualitas tebu yang dikirim ke pabrik, semakin besar peluang memperoleh hasil pengolahan dan rendemen yang optimal. Kondisi itu juga dapat mendukung hasil usaha dan pendapatan petani.</p>
<p>Di PG Pradjekan, pasokan tebu berkualitas dari petani turut mendukung kinerja pabrik. SGN menyebut PG Pradjekan secara konsisten menunjukkan hasil dan rendemen yang baik. Di sinilah hubungan antara kebun dan pabrik menjadi penting.</p>
<p>Petani menentukan kualitas bahan baku melalui proses budidaya dan panen. Setelah itu, pabrik mengolah tebu tersebut menjadi gula. Keduanya berada dalam satu rangkaian yang sama.</p>
<p>Dengan demikian, kualitas tebu tidak hanya menjadi urusan petani. Kualitas juga menjadi bagian dari proses pengolahan di pabrik.</p>
<p><strong>APTRI: Petani Harus Terus Menjaga Kualitas</strong></p>
<p>Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPC APTRI) PG Pradjekan Bondowoso, Rolis Wikarsono, mengajak petani terus meningkatkan kualitas tebu.</p>
<p>Menurut Rolis, prinsip MBS perlu menjadi perhatian petani ketika mengirimkan tebu ke pabrik.</p>
<p>&ldquo;Petani harus terus menjaga kualitas tebunya. Tebu yang Manis, Bersih, dan Segar akan memberikan hasil yang lebih baik ketika masuk ke pabrik.&rdquo;</p>
<p>Rolis juga mengajak petani mengirimkan tebu dengan mutu MBS ke PG milik PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).</p>
<p>Tujuannya adalah mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Namun, ia juga melihat persoalan ini dari sisi pendapatan petani.</p>
<p>&ldquo;Dengan hasil yang baik, tentu harapannya pendapatan petani juga dapat meningkat,&rdquo; ujar Rolis.</p>
<p>Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kualitas tebu memiliki kepentingan langsung bagi petani. Mereka tidak hanya berbicara mengenai bahan baku untuk pabrik, tetapi juga mengenai hasil dari usaha budidaya yang mereka jalankan.</p>
<p><strong>Dari Kebun ke Pabrik</strong></p>
<p>Ada proses yang harus dilalui tebu sebelum menjadi gula. Tebu tumbuh dan dirawat di kebun. Petani kemudian menentukan waktu panen. Setelah ditebang, mereka perlu menjaga tebu tetap bersih dan segera mengirimkannya ke pabrik.</p>
<p>Setiap tahap memiliki peran dalam menjaga kualitas. Ketika tebu tiba di PG Pradjekan, pabrik menerima bahan baku untuk masuk ke proses pengolahan. Kualitas tebu yang baik kemudian mendukung proses tersebut dan peluang memperoleh rendemen yang optimal.</p>
<p>Karena itu, prinsip MBS sebenarnya menggambarkan satu rangkaian sederhana: menjaga kualitas sejak sebelum tebu meninggalkan kebun hingga masuk ke pabrik.</p>
<p>Bagi petani, rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya mendapatkan hasil yang lebih baik dari panen mereka.</p>
<p><strong>SGN Perkuat Sinergi dengan Petani</strong></p>
<p>PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) melihat hubungan dengan petani sebagai bagian penting dalam ekosistem pergulaan.</p>
<p>Perusahaan terus memperkuat sinergi dengan petani melalui pengelolaan bahan baku dan proses pengolahan yang optimal. SGN berharap kolaborasi tersebut dapat membangun ekosistem pergulaan yang semakin produktif.</p>
<p>Selain itu, perusahaan mengaitkan kerja sama tersebut dengan pemberian nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan petani tebu.</p>
<p>PG Pradjekan sendiri menjadi salah satu pabrik gula SGN yang bermitra dengan petani di Bondowoso. Di tempat ini, tebu petani masuk ke proses pengolahan untuk menghasilkan gula.</p>
<p>SGN merupakan sub-holding gula PT Perkebunan Nusantara III (Persero) yang bergerak di bidang agroindustri komoditas gula. Perusahaan berdiri pada 17 Agustus 2021 sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis gula PTPN Group.</p>
<p><strong>MBS dan Harapan Petani</strong></p>
<p>Tidak ada angka dalam keterangan SGN yang menunjukkan berapa persen rendemen meningkat setelah petani menerapkan prinsip MBS. Tidak ada pula angka yang menunjukkan kenaikan pendapatan petani.</p>
<p>Karena itu, MBS tidak bisa disebut sebagai jaminan peningkatan pendapatan dengan besaran tertentu.</p>
<p>Yang disampaikan SGN adalah hubungan antara kualitas dan peluang hasil. Tebu yang matang optimal, minim kotoran, serta segera dikirim dapat membantu menjaga kualitas bahan baku. Kualitas yang baik kemudian mendukung proses pengolahan dan peluang memperoleh rendemen yang optimal.</p>
<p>Bagi petani, harapannya sederhana: kualitas tebu yang mereka jaga sejak dari kebun dapat menghasilkan nilai yang lebih baik ketika sampai di pabrik.</p>
<p>Di PG Pradjekan, harapan itu bertemu dengan upaya SGN memperkuat sinergi bersama petani. Sebab, sebelum menjadi gula di pabrik, setiap hasil pengolahan bermula dari tebu yang ditanam, dipanen, dijaga, dan dikirim oleh petani.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202609/pg-pradjekan-bondowoso-dan-tebu-mbs.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Pabrik Gula Pradjekan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Bondowoso, Jawa Timur, yang menjadi salah satu pabrik gula yang bermitra dengan petani tebu.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[NEWS]]></category><category><![CDATA[BUSINESS]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Perempuan Hebat di Sekitar Kita: Melia dan Gerakan Sunyi dari Dapur yang Menjaga Bumi]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-46-perempuan-hebat-di-sekitar-kita-melia-dan-gerakan-sunyi-dari-dapur-yang-menjaga-bumi</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-46-perempuan-hebat-di-sekitar-kita-melia-dan-gerakan-sunyi-dari-dapur-yang-menjaga-bumi</guid>
                    <pubDate>Tue, 01 Sep 2026 17:10:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Melia adalah perempuan hebat berusia 60 tahun yang menjadikan eco enzym dan biopori sebagai cara hidup.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com </strong>- Di sekitar kita, ada perempuan-perempuan hebat yang bekerja tanpa banyak suara. Mereka tidak selalu berdiri di panggung, tidak selalu disebut dalam berita, namun jejaknya terasa: rumah lebih bersih, halaman lebih hijau, dan kebiasaan baik perlahan menular ke orang lain. Melia, Perempuan berusia 60 tahun adalah salah satunya sosok yang menjadikan eco enzym dan biopori bukan sekadar kegiatan, melainkan cara hidup.</p>
<p>Perjalanannya dimulai sejak 2016, ketika kepedulian pada lingkungan menemukan ruangnya di rutinitas rumah tangga. Dari informasi seorang rekan di masa pandemi, rasa ingin tahu Melia menjelma menjadi kesungguhan: mengolah limbah organik menjadi cairan yang ia sebut penuh manfaat. Awalnya sederhana, campuran air pel lantai. Tetapi hidup sering meyakinkan kita lewat pengalaman kecil: luka irisan pisau di dapur yang dicelupkan ke cairan <strong>eco enzym</strong> terasa cepat &ldquo;tenang&rdquo;, kulit yang memerah karena panci panas tak berujung pada lepuh seperti yang ia khawatirkan. Dari situ, keyakinannya tumbuh bahwa yang alami pun bisa punya daya, selama dipahami dan dipraktikkan dengan benar.</p>
<p>Melia lalu memproduksi eco enzym dengan lebih serius, bahkan membagikannya tanpa meminta apa pun kembali. Ia menemukan fungsinya bukan hanya sebagai pembersih, tapi juga sebagai &ldquo;penolong&rdquo; dalam momen-momen rumah tangga yang sering kita anggap remeh, dari menetralkan bau, merawat rambut yang lelah oleh bahan kimia, hingga mendampingi aktivitas harian yang tak pernah benar-benar berhenti.</p>
<p>Namun kepeduliannya tidak berhenti pada cairan dalam botol. Di pekarangannya, Melia merawat lubang-lubang biopori, ruang kecil di tanah yang diam-diam bekerja. Sampah dapur yang menyengat, kulit udang yang sulit diolah, semua ia kembalikan ke bumi dengan cara yang lebih bijak. Dari situ, ia memanen sesuatu yang tak bisa dibeli: pupuk yang membuat tanaman buah lebih subur, buah lebih besar, rasa lebih manis. Dan lebih dari itu, ia memutus mata rantai yang kerap tak terlihat, tumpukan sampah di TPA, gas metana yang mengintai, dan dampak panjang yang menunggu generasi berikutnya.</p>
<p>Yang membuat kisah Melia terasa penting bukan hanya karena ia melakukan, melainkan karena ia mengajak. Bersama komunitas, dari Lions Club hingga Polwan, ia ikut terlibat dalam aksi lingkungan di ruang publik: menuangkan eco enzym ke Sungai Kalimas dan kawasan Monkasel, membawa harapan bahwa air bisa kembali lebih jernih, bahwa kota bisa kembali lebih bernapas. Mungkin langkah itu terlihat kecil dibanding luasnya masalah, tetapi justru dari langkah-langkah kecil yang konsistenlah perubahan belajar berjalan.</p>
<p>Dan dari sini kita diingatkan: di lingkungan, di circle, di sekitar kita, banyak perempuan hebat seperti Melia. Mereka mengolah, merawat, membagikan, menggerakkan. Mereka menjadikan kepedulian sebagai kebiasaan, bukan sekadar wacana. Sudah waktunya kisah-kisah mereka kita suarakan, bukan untuk mengagungkan, melainkan untuk menyalakan: agar semakin banyak orang percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah, dari dapur, dari halaman, dan dari hati yang tidak lelah peduli.</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202609/1000065649.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Perempuan Hebat di Sekitar Kita: Melia dan Gerakan Sunyi dari Dapur yang Menjaga Bumi]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Deasy Arista Sari]]></dc:creator><category><![CDATA[LIFESTYLE]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Judi Online Jadi Alternatif Penghasilan, Ketika Jalan Pintas Terlihat Seperti Jalan Keluar]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-45-judi-online-jadi-alternatif-penghasilan-ketika-jalan-pintas-terlihat-seperti-jalan-keluar</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-45-judi-online-jadi-alternatif-penghasilan-ketika-jalan-pintas-terlihat-seperti-jalan-keluar</guid>
                    <pubDate>Sun, 30 Aug 2026 22:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Kasus Yudi Surya membuka refleksi tentang judi online sebagai alternatif penghasilan, kebutuhan ekonomi, dan tanggung jawab ekosistem digital.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com</strong> - Sepuluh ribu rupiah.</p>
<p>Mungkin bagi sebagian orang, uang sebesar itu tidak terasa berarti. Bisa habis untuk ongkos, kopi, rokok, atau sekadar membeli sesuatu di minimarket.</p>
<p>Tetapi dalam perkara Yudi Surya, angka Rp10.000 menjadi bagian dari cerita yang akhirnya membawanya ke ruang sidang.</p>
<p>Warga Surabaya tersebut dijatuhi hukuman satu tahun penjara setelah dinyatakan terbukti tanpa izin ikut serta bermain judi. Dalam perkara tersebut, Yudi diketahui memainkan sejumlah permainan slot melalui Higgs Games Island (HGI), salah satunya Mahjong Ways 3.</p>
<p>Dalam persidangan, Yudi mengaku telah bermain judi slot online sejak 2021. Alasannya terdengar sederhana: mencari tambahan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keluarganya. Koin yang diperoleh dari permainan tersebut juga disebut kemudian dijual kembali kepada rekan-rekannya dengan nilai sekitar Rp50.000 hingga Rp60.000.</p>
<p>Kalau berhenti sampai di sini, kasus Yudi mungkin terlihat seperti perkara hukum biasa.</p>
<p>Seorang pria bermain judi online.</p>
<p>Ia tertangkap.</p>
<p>Ia diadili.</p>
<p>Ia dihukum.</p>
<p>Selesai.</p>
<p><em>Tapi benarkah selesai?</em></p>
<p>Sebab ada satu bagian dari perkara ini yang rasanya jauh lebih panjang daripada putusan satu tahun penjara: alasan mengapa ia mulai bermain.</p>
<p>Ia mencari tambahan penghasilan.</p>
<p>Dan alasan itu membuat persoalannya menjadi sedikit lebih rumit.</p>
<p><strong>Judi yang Awalnya Hanya &ldquo;Coba-Coba&rdquo;</strong></p>
<p>Ada sesuatu yang membuat judi online begitu mudah masuk ke kehidupan seseorang.</p>
<p>Ia tidak selalu datang dengan wajah yang menakutkan.</p>
<p>Kadang ia datang dengan angka kecil.</p>
<p>Rp10.000.</p>
<p>Tidak terasa seperti sebuah keputusan besar.</p>
<p>Tidak seperti mengambil utang puluhan juta. Tidak seperti mempertaruhkan rumah. Tidak seperti menjual sesuatu yang berharga.</p>
<p>Hanya sepuluh ribu rupiah.</p>
<p>Kalau kalah, mungkin tinggal berhenti.</p>
<p>Kalau menang, lumayan.</p>
<p>Begitulah sebuah keputusan kecil bisa mulai terasa masuk akal.</p>
<p>Dalam perkara Yudi, top up koin atau emas disebut dilakukan secara bertahap. Koin tersebut digunakan untuk memainkan sejumlah permainan slot. Dari permainan itu, koin yang diperoleh ketika menang kemudian dapat diperjualbelikan kembali.</p>
<p>Di titik ini, kita mulai melihat bagaimana sebuah aktivitas perjudian dapat terasa seperti aktivitas ekonomi kecil-kecilan.</p>
<p>Ada uang yang dikeluarkan.</p>
<p>Ada sesuatu yang dimainkan.</p>
<p>Ada hasil yang diharapkan.</p>
<p>Dan kalau beruntung, ada uang yang kembali.</p>
<p>Persoalannya, mekanisme itu tidak bekerja seperti pekerjaan.</p>
<p>Tidak ada pendapatan yang bisa diprediksi.</p>
<p>Tidak ada gaji di akhir bulan.</p>
<p>Tidak ada kepastian bahwa uang yang keluar akan kembali.</p>
<p>Tetapi bagi seseorang yang sedang membutuhkan uang, kemungkinan mendapatkan hasil dengan cepat bisa terasa sangat menarik.</p>
<p>Tidak perlu menunggu gajian.</p>
<p>Tidak perlu menunggu pelanggan.</p>
<p>Tidak perlu mencari pekerjaan tambahan.</p>
<p>Cukup ponsel.</p>
<p>Cukup internet.</p>
<p>Cukup uang untuk mulai.</p>
<p>Dan sebuah pikiran kecil:</p>
<p>&ldquo;Siapa tahu menang.&rdquo;</p>
<p>Kalimat itu terdengar sepele.</p>
<p>Tetapi mungkin banyak keputusan besar dalam hidup memang dimulai dari sesuatu yang terdengar sepele.</p>
<p><strong>Mungkin yang Dicari Bukan Judi, Melainkan Uang</strong></p>
<p>Kita sering menyederhanakan pemain judi online sebagai orang yang memang ingin berjudi.</p>
<p>Mungkin benar.</p>
<p>Tetapi tidak selalu sesederhana itu.</p>
<p>Ada orang yang bermain karena penasaran. Ada yang ikut teman. Ada yang mengejar kemenangan. Ada yang merasa permainan itu bisa menjadi hiburan. Ada pula yang akhirnya terjebak dan kesulitan berhenti.</p>
<p>Dan ada orang yang melihatnya sebagai cara mendapatkan uang tambahan.</p>
<p>Di sinilah kasus Yudi menjadi menarik untuk direnungkan.</p>
<p>Sebab mencari tambahan penghasilan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.</p>
<p>Banyak orang melakukannya.</p>
<p>Ada yang berjualan makanan setelah pulang kerja. Ada yang menjadi pengemudi online pada malam hari. Ada yang membuka toko kecil dari rumah. Ada yang mengambil pekerjaan freelance. Ada yang menjual barang bekas. Ada yang menerima pekerjaan apa saja selama bisa menambah pemasukan.</p>
<p>Motivasinya sama: kebutuhan.</p>
<p>Bedanya, pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan proses.</p>
<p>Ada tenaga yang harus dikeluarkan.</p>
<p>Ada waktu yang harus diberikan.</p>
<p>Ada pelanggan yang harus dicari.</p>
<p>Ada risiko gagal yang juga harus diterima.</p>
<p>Judi online menawarkan sesuatu yang berbeda.</p>
<p>Kecepatan.</p>
<p>Kemungkinan uang datang dalam waktu singkat.</p>
<p>Dan ketika seseorang sedang membutuhkan uang sekarang, kata &ldquo;sekarang&rdquo; sering kali lebih kuat daripada kata &ldquo;risiko&rdquo;.</p>
<p>Itulah salah satu alasan mengapa membicarakan judi online hanya sebagai persoalan moral terasa belum cukup.</p>
<p>Kita perlu melihat keadaan yang membuat seseorang bersedia mengambil risiko tersebut.</p>
<p><strong>Ketika Uang Cepat Mulai Terlihat Seperti Penghasilan</strong></p>
<p>Ada perbedaan besar antara mendapatkan uang dan mendapatkan penghasilan.</p>
<p>Penghasilan biasanya lahir dari sesuatu yang dikerjakan secara berulang. Ada pekerjaan, usaha, keterampilan, jasa, atau produk yang ditukar dengan uang.</p>
<p>Judi tidak bekerja seperti itu.</p>
<p>Ia tidak menjanjikan penghasilan.</p>
<p>Ia menjanjikan kemungkinan menang.</p>
<p>Tetapi dalam praktiknya, seseorang bisa mulai mencampurkan keduanya.</p>
<p>Ketika sekali bermain menghasilkan uang, pengalaman itu mudah diingat.</p>
<p>Kalah mungkin terasa sebagai kesialan.</p>
<p>Menang dianggap sebagai bukti bahwa permainan tersebut memang bisa menghasilkan.</p>
<p>Lalu muncul pikiran:</p>
<p>Kalau kemarin bisa, mungkin hari ini bisa lagi.</p>
<p>Kalau Rp10.000 bisa menjadi lebih banyak, mungkin besok bisa lebih banyak lagi.</p>
<p>Di sinilah masalah mulai bergeser.</p>
<p>Seseorang tidak lagi sekadar mencoba.</p>
<p>Ia mulai mengandalkan kemungkinan.</p>
<p>Dan ketika kalah, ada dorongan untuk mencoba sekali lagi agar uang yang hilang kembali.</p>
<p>Satu putaran.</p>
<p>Satu taruhan.</p>
<p>Satu kesempatan.</p>
<p>Lalu satu lagi.</p>
<p>Tanpa sadar, tujuan awal untuk mendapatkan tambahan uang bisa berubah menjadi usaha untuk mengejar uang yang sudah terlanjur hilang.</p>
<p>Yang tadinya ingin menambah pemasukan, akhirnya justru mengurangi pemasukan.</p>
<p><strong>Yang Berbahaya Bukan Hanya Saat Kalah</strong></p>
<p>Kita sering menganggap kekalahan sebagai titik paling berbahaya dalam perjudian.</p>
<p>Padahal kemenangan juga bisa menjadi masalah.</p>
<p>Bayangkan seseorang bermain dengan nominal kecil lalu menang.</p>
<p>Uang masuk.</p>
<p>Perasaan senang muncul.</p>
<p>Ia merasa pilihannya tidak sepenuhnya salah.</p>
<p>Pengalaman itu kemudian menjadi alasan untuk kembali bermain.</p>
<p>Besok mencoba lagi.</p>
<p>Lusa mencoba lagi.</p>
<p>Kalau menang, ia semakin yakin.</p>
<p>Kalau kalah, ia merasa masih punya kesempatan untuk mengembalikan uangnya.</p>
<p>Di sinilah perjudian bisa membentuk lingkaran.</p>
<p>Bukan lagi soal satu kali menang atau satu kali kalah.</p>
<p>Melainkan tentang terus kembali.</p>
<p>Dan teknologi membuat proses itu semakin mudah.</p>
<p>Tidak ada perjalanan menuju tempat perjudian.</p>
<p>Tidak ada pintu yang harus dibuka.</p>
<p>Tidak ada meja yang harus didatangi.</p>
<p>Semuanya bisa berlangsung dari layar ponsel.</p>
<p>Seseorang bisa sedang duduk di rumah bersama keluarga, berada di warung kopi, sedang beristirahat dari pekerjaan, atau sekadar berbaring di tempat tidur.</p>
<p>Judi online bisa berada di tempat yang sama dengan aplikasi untuk bekerja, berkomunikasi, berbelanja, dan melakukan pembayaran.</p>
<p>Jaraknya hampir tidak ada.</p>
<p><strong>Lalu Di Mana Tanggung Jawab Platform?</strong></p>
<p>Di sinilah pembicaraan tentang judi online seharusnya tidak berhenti pada pemain.</p>
<p>Sebab di balik seseorang yang duduk di depan layar, ada sebuah sistem yang membuat permainan itu bisa berlangsung. Ada platform, teknologi, akses, transaksi, hingga berbagai mekanisme yang memungkinkan seseorang masuk dan terus bermain.</p>
<p>Maka pertanyaannya menjadi lebih besar: ketika pemain ditangkap dan dihukum, bagaimana dengan pihak-pihak yang menyediakan ruang dan sistem tempat aktivitas itu berlangsung?</p>
<p>Seberapa jauh pengawasan dilakukan?</p>
<p>Seberapa cepat aktivitas perjudian terdeteksi?</p>
<p>Bagaimana transaksi di dalamnya dapat berlangsung?</p>
<p>Dan ketika sebuah platform diketahui digunakan untuk aktivitas perjudian, apa yang dilakukan untuk menghentikannya?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena pemberantasan judi online tidak seharusnya hanya mengejar orang yang berada di ujung rantai.</p>
<p>Pemain memang terlihat.</p>
<p>Tetapi di belakang layar ada ekosistem yang membuat perjudian dapat terus berjalan.</p>
<p>Kalau hanya pemain yang ditangkap sementara sumber dan jalurnya tetap terbuka, kita mungkin hanya sedang mengganti satu nama dengan nama lainnya.</p>
<p>Hari ini Yudi.</p>
<p>Besok bisa orang lain.</p>
<p>Ketika sebuah layanan digital digunakan untuk aktivitas ilegal, sejauh mana tanggung jawab penyedia layanan tersebut?</p>
<p>Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena platform digital bukan sekadar tempat kosong.</p>
<p>Ada sistem di belakangnya.</p>
<p>Ada mekanisme transaksi.</p>
<p>Ada pengelolaan akun.</p>
<p>Ada teknologi.</p>
<p>Ada aturan penggunaan.</p>
<p>Ada kemampuan untuk mendeteksi pola tertentu.</p>
<p>Dan pada banyak layanan digital, ada pula mekanisme untuk membatasi atau menindak aktivitas yang dianggap melanggar aturan.</p>
<p>Karena itu, ketika membicarakan pemberantasan judi online, rasanya kurang lengkap jika seluruh perhatian hanya diarahkan kepada orang yang berada di ujung layar.</p>
<p>Sekali lagi, pemain memang terlihat.</p>
<p>Tetapi ekosistem yang memungkinkan aktivitas tersebut berjalan juga layak diperhatikan.</p>
<p>Siapa yang menyediakan akses?</p>
<p>Bagaimana transaksi berlangsung?</p>
<p>Bagaimana aktivitas ilegal terdeteksi?</p>
<p>Seberapa cepat laporan ditindak?</p>
<p>Dan bagaimana sebuah sistem memastikan layanannya tidak menjadi ruang yang memudahkan aktivitas yang melanggar hukum?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti kita sedang mencari siapa yang harus disalahkan.</p>
<p>Justru sebaliknya.</p>
<p>Kita sedang mencari cara agar persoalan tidak terus berulang.</p>
<p>Karena jika satu pemain dihukum sementara sistem yang memungkinkan perjudian tetap mudah ditemukan, maka akan selalu ada kemungkinan muncul pemain berikutnya.</p>
<p><strong>Yudi Tetap Harus Bertanggung Jawab</strong></p>
<p>Di tengah refleksi ini, satu hal tetap harus jelas.</p>
<p>Yudi memiliki tanggung jawab atas pilihannya.</p>
<p>Kesulitan ekonomi tidak otomatis membuat perjudian menjadi benar.</p>
<p>Kebutuhan keluarga bukan alasan yang menghapus konsekuensi hukum.</p>
<p>Dan keputusan seseorang untuk bermain tetap merupakan keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Pengadilan Negeri Surabaya telah menjatuhkan hukuman satu tahun penjara setelah majelis hakim menyatakan Yudi terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana tanpa izin ikut serta bermain judi.</p>
<p>Dalam putusannya, hakim juga mempertimbangkan beberapa hal yang meringankan, termasuk pengakuan dan penyesalan terdakwa serta statusnya sebagai tulang punggung keluarga.</p>
<p>Hukum memiliki jalannya sendiri.</p>
<p>Tetapi kehidupan di luar ruang sidang memiliki pertanyaan yang lebih panjang.</p>
<p>Setelah seorang pemain dihukum, apa yang berubah?</p>
<p>Apakah orang lain menjadi lebih sulit menemukan judi online?</p>
<p>Apakah aksesnya berkurang?</p>
<p>Apakah promosi dan ajakannya berhenti?</p>
<p>Apakah orang yang sudah kecanduan mendapatkan jalan untuk berhenti?</p>
<p>Apakah orang yang sedang kesulitan ekonomi punya pilihan lain yang cukup mudah untuk ditemukan?</p>
<p>Kalau jawabannya belum, maka mungkin pekerjaan kita memang belum selesai.</p>
<p>Karena Orang yang Butuh Uang Akan Selalu Mencari Jalan</p>
<p>Ini bagian yang mungkin paling tidak nyaman untuk dibicarakan.</p>
<p>Orang yang sedang membutuhkan uang akan mencari uang.</p>
<p>Sesederhana itu.</p>
<p>Tagihan tidak menunggu kondisi ekonomi membaik.</p>
<p>Kebutuhan rumah tangga tidak berhenti hanya karena penghasilan sedang turun.</p>
<p>Anak tetap membutuhkan makan.</p>
<p>Transportasi tetap membutuhkan biaya.</p>
<p>Listrik tetap harus dibayar.</p>
<p>Dan ketika pemasukan tidak cukup, seseorang akan mencari tambahan.</p>
<p>Persoalannya adalah pilihan yang tersedia.</p>
<p>Kita sering mengatakan kepada orang-orang agar tidak mengambil jalan pintas.</p>
<p>Tetapi apakah kita sudah menyediakan jalan lain yang mudah ditemukan?</p>
<p>Kalau seseorang membutuhkan Rp100.000 tambahan hari ini, apakah ada cara legal yang bisa ia lakukan tanpa modal besar?</p>
<p>Kalau seseorang kehilangan pekerjaan, apakah ia tahu harus mencari ke mana?</p>
<p>Kalau seseorang memiliki keterampilan sederhana, apakah ada ruang untuk menjadikannya penghasilan?</p>
<p>Kalau seseorang sudah terlanjur kecanduan judi online, apakah ada tempat yang bisa membantunya keluar?</p>
<p>Pertanyaan seperti ini mungkin tidak menghasilkan berita yang dramatis.</p>
<p>Tidak ada penangkapan.</p>
<p>Tidak ada konferensi pers.</p>
<p>Tidak ada foto tersangka.</p>
<p>Tetapi justru pekerjaan seperti inilah yang menentukan apakah kasus yang sama akan terus berulang.</p>
<p><strong>Setelah Berita Ini Tidak Lagi Ramai</strong></p>
<p>Hari ini nama Yudi Surya muncul dalam pemberitaan.</p>
<p>Orang membaca.</p>
<p>Orang berkomentar.</p>
<p>Ada yang marah.</p>
<p>Ada yang menyayangkan.</p>
<p>Ada yang mengatakan hukuman pantas diberikan.</p>
<p>Ada pula yang melihat kasus tersebut dari sisi kehidupan keluarganya.</p>
<p>Beberapa waktu lagi, perhatian publik mungkin berpindah.</p>
<p>Akan ada kasus baru.</p>
<p>Berita baru.</p>
<p>Nama baru.</p>
<p>Judi online mungkin kembali muncul ketika ada penangkapan berikutnya.</p>
<p>Siklusnya berulang.</p>
<p>Tetapi bagi Yudi, berita itu tidak berhenti ketika artikel terakhir tentang dirinya turun dari halaman utama.</p>
<p>Ada hukuman satu tahun yang harus dijalani.</p>
<p>Ada keluarga yang harus melanjutkan kehidupan.</p>
<p>Ada pekerjaan yang mungkin harus dicari kembali.</p>
<p>Ada konsekuensi yang tidak selesai dalam satu siklus pemberitaan.</p>
<p>Dan mungkin di situlah kita perlu melihat kasus ini dengan sedikit lebih pelan.</p>
<p>Yudi tidak memulai semuanya dengan sebuah keputusan besar.</p>
<p>Ia tidak tiba-tiba bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk menghancurkan hidupnya.</p>
<p>Ada langkah-langkah kecil.</p>
<p>Ada uang yang relatif kecil.</p>
<p>Ada permainan.</p>
<p>Ada kemenangan yang mungkin terasa menyenangkan.</p>
<p>Ada kekalahan.</p>
<p>Ada keinginan mencoba lagi.</p>
<p>Ada harapan mendapatkan tambahan penghasilan.</p>
<p>Kemudian semuanya bergerak semakin jauh.</p>
<p>Sampai akhirnya permainan yang sebelumnya hanya berada di layar ponsel berubah menjadi perkara hukum.</p>
<p>Dari Rp10.000 menuju satu tahun penjara.</p>
<p>Jaraknya panjang.</p>
<p>Tetapi dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.</p>
<p>Jadi, Apa yang Sebenarnya Harus Kita Takuti?</p>
<p>Mungkin bukan hanya kekalahan.</p>
<p>Bukan hanya kehilangan uang.</p>
<p>Bukan hanya hukuman.</p>
<p>Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang mulai percaya bahwa judi adalah salah satu cara untuk bertahan hidup.</p>
<p>Karena pada saat itu, masalahnya sudah lebih dalam.</p>
<p>Judi tidak lagi sekadar permainan.</p>
<p>Ia sudah masuk ke dalam cara seseorang melihat masa depannya.</p>
<p>Dan ketika seseorang yang sedang membutuhkan uang melihat perjudian sebagai alternatif penghasilan, kita seharusnya tidak hanya bertanya, &ldquo;Kenapa dia berjudi?&rdquo;</p>
<p>Kita juga perlu bertanya:</p>
<p>&ldquo;Kenapa jalan itu terlihat sebagai pilihan?&rdquo;</p>
<p>Pertanyaan tersebut tidak membebaskan siapa pun dari tanggung jawab.</p>
<p>Tetapi mungkin bisa membuat kita memahami persoalan dengan lebih lengkap.</p>
<p>Pemain harus bertanggung jawab.</p>
<p>Penyedia layanan harus menjalankan tanggung jawabnya sesuai hukum dan ketentuan yang berlaku.</p>
<p>Platform digital perlu memiliki pengawasan yang memadai.</p>
<p>Negara perlu memastikan penegakan hukum berjalan sampai ke ekosistemnya, bukan hanya berhenti pada orang yang paling mudah ditemukan.</p>
<p>Dan masyarakat perlu menyediakan lebih banyak ruang bagi orang-orang yang sedang mencari jalan untuk mendapatkan penghasilan secara legal.</p>
<p>Sebab selama kebutuhan tetap ada, manusia akan terus mencari jalan.</p>
<p>Dan kalau jalan yang salah ternyata jauh lebih mudah ditemukan daripada jalan yang benar, selalu ada kemungkinan seseorang akan memilihnya.</p>
<p><strong>Bukan Alternatif Penghasilan</strong></p>
<p>Mungkin sudah waktunya kita berhenti menggunakan istilah &ldquo;alternatif penghasilan&rdquo; untuk judi online.</p>
<p>Karena judi tidak pernah memberikan penghasilan.</p>
<p>Ia memberikan kemungkinan.</p>
<p>Dan dua hal itu berbeda.</p>
<p>Penghasilan lahir dari sesuatu yang bisa dibangun.</p>
<p>Kemungkinan menang lahir dari sesuatu yang hasil akhirnya tidak bisa kita kendalikan.</p>
<p>Kasus Yudi Surya mungkin akan dikenang sebagai satu perkara judi online di Surabaya.</p>
<p>Tetapi bagi kita yang melihatnya dari luar ruang sidang, ada pelajaran yang lebih besar.</p>
<p>Jangan sampai seseorang baru menyadari bahwa judi bukan jalan keluar setelah ia kehilangan uang.</p>
<p>Jangan sampai keluarga baru menyadari bahayanya setelah utang menumpuk.</p>
<p>Jangan sampai negara baru bergerak setelah korban semakin banyak.</p>
<p>Dan jangan sampai kita hanya sibuk menghitung berapa pemain yang sudah dihukum tanpa bertanya mengapa selalu ada pemain berikutnya.</p>
<p>Karena pada akhirnya, persoalannya bukan hanya tentang satu orang yang duduk di depan layar.</p>
<p>Persoalannya adalah tentang sebuah masyarakat yang masih harus menjawab pertanyaan sederhana:</p>
<p>Kalau seseorang sedang butuh uang, sudahkah kita menyediakan jalan lain yang sama mudahnya untuk ditemukan?</p>
<p>Sebab jalan pintas memang terlihat menarik ketika seseorang sedang terburu-buru.</p>
<p>Tetapi ada jalan pintas yang tidak membawa kita lebih cepat sampai tujuan.</p>
<p>Ia hanya membawa kita lebih cepat ke tempat yang tidak pernah kita rencanakan.</p>
<p>Dan dalam kasus Yudi, tempat itu bernama penjara.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202608/judi-online-yudi-surya-surabaya.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Ilustrasi seseorang menghadapi tekanan keuangan yang menggambarkan dampak judi online.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[REFLEKSI REDAKSI]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Saat Pemain Judi Online Dipidana, Djoni Pertanyakan Sistem Pengawasannya]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-44-saat-pemain-judi-online-dipidana-djoni-pertanyakan-sistem-pengawasannya</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-44-saat-pemain-judi-online-dipidana-djoni-pertanyakan-sistem-pengawasannya</guid>
                    <pubDate>Sun, 30 Aug 2026 16:52:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Djoni Sudjatmoko mempertanyakan sistem pengawasan platform judi online saat membahas kasus Yudi Surya dalam diskusi Ekonomi Pancasila di Jombang.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com </strong>- Penindakan terhadap pemain judi online tidak serta merta menyelesaikan persoalan. Di balik orang yang ditangkap dan diproses hukum, masih ada pertanyaan tentang sistem yang memungkinkan platform digital menjangkau masyarakat.</p>
<p>Pertanyaan itu muncul dari Djoni Sudjatmoko dalam diskusi dan bedah buku Ekonomi Pancasila yang digelar TIMES Indonesia di Posko TIMES Indonesia, Arena Muktamar NU ke-35, Perumahan Bahrul Ulum Menara Asri, Tambakberas, Jombang.</p>
<p>Djoni membawa kasus Yudi Surya sebagai salah satu contoh. Yudi, warga Surabaya, terseret perkara judi online setelah bermain judi slot melalui aplikasi Higgs Games Island (HGI).</p>
<p>Ia kemudian menjalani proses hukum dan mendapat hukuman satu tahun penjara dari Pengadilan Negeri Surabaya.</p>
<p><strong>Ketika Pemain Menjadi Titik Akhir Penindakan</strong></p>
<p>Bagi Djoni, persoalan tersebut tidak berhenti pada tindakan pemain. Masyarakat yang bermain judi tentu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.</p>
<p>Namun, menurut dia, penanganan judi online juga perlu melihat bagaimana aplikasi yang menjadi sarana permainan dapat beredar dan diakses masyarakat.</p>
<p>Di titik itu, Djoni mempertanyakan peran pengawasan.</p>
<p>&ldquo;Jangan masyarakat yang dikorbankan. Kalau aplikasinya bisa beredar, siapa yang bertanggung jawab terhadap aplikasi-aplikasi judol ini?&rdquo; kata Djoni.</p>
<p>Pertanyaan tersebut menggeser pembahasan dari sekadar perilaku pemain menuju sistem yang berada di belakangnya.</p>
<p>Jika sebuah aplikasi dapat masuk ke ruang digital masyarakat dan kemudian digunakan sebagai sarana perjudian, Djoni menilai pemerintah perlu melihat bagaimana mekanisme pengawasan berjalan.</p>
<p><strong>Djoni Soroti Perizinan dan Pengawasan</strong></p>
<p>Djoni mempertanyakan mekanisme pemerintah dalam mengawasi platform permainan digital.</p>
<p>Menurut dia, persoalan tersebut perlu dilihat dari berbagai sisi. Perizinan, pengawasan, hingga dampak ekonomi terhadap masyarakat menjadi bagian yang perlu diperiksa.</p>
<p>Ia tidak ingin penangkapan pemain menjadi satu-satunya cara pemerintah menunjukkan penanganan terhadap judi online.</p>
<p>Menurut Djoni, pemerintah juga perlu mengevaluasi aturan apabila masih terdapat celah dalam sistem pengawasan.</p>
<p>&ldquo;Kalau ada sesuatu yang belum diatur atau sudah diatur tetapi aturannya tidak benar, itu harus kita bedah bersama dan dicarikan solusinya,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Pernyataan itu menunjukkan satu hal penting: penegakan hukum terhadap individu dan pembenahan sistem tidak harus berjalan sendiri-sendiri.</p>
<p><strong>Ekonomi Pancasila sebagai Cara Melihat Persoalan</strong></p>
<p>Djoni kemudian menghubungkan persoalan judi online dengan gagasan ekonomi Pancasila yang menjadi tema diskusi.</p>
<p>Menurut dia, ekonomi Pancasila tidak hanya berbicara mengenai kegiatan ekonomi. Konsep tersebut juga harus menempatkan kepentingan masyarakat luas sebagai orientasi.</p>
<p>Karena itu, Djoni menilai kepemimpinan etik memiliki posisi penting dalam menjalankan prinsip tersebut.</p>
<p>&ldquo;Kepemimpinan etik itu intinya para pemimpin harus mementingkan kepentingan yang lebih luas, kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya,&rdquo; tegasnya.</p>
<p>Bagi Djoni, prinsip tersebut tidak hanya berlaku bagi pemerintah. Ia menyebut eksekutif, legislatif, yudikatif, media, lembaga swadaya masyarakat hingga organisasi sosial sebagai bagian dari ekosistem yang memiliki tanggung jawab sosial.</p>
<p>Dalam konteks judi online, kepemimpinan etik berarti keberanian melihat persoalan secara utuh. Bukan hanya siapa yang melakukan, tetapi juga bagaimana persoalan tersebut bisa terus menjangkau masyarakat.</p>
<p><strong>Jangan Sampai Korban Kembali Menanggung Beban</strong></p>
<p>Djoni juga membawa pembahasan pada kelompok masyarakat yang rentan terdampak kebijakan.</p>
<p>Ia menyoroti persoalan bantuan sosial bagi masyarakat tidak mampu yang dikaitkan dengan data perbankan dan aktivitas judi online. Menurut dia, kebijakan semacam itu perlu melihat kondisi masyarakat secara lebih menyeluruh.</p>
<p>Ia khawatir masyarakat yang sudah terdampak persoalan judi online justru kembali menerima beban dari kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah.</p>
<p>&ldquo;Saya menilai masyarakat yang telah menjadi korban persoalan judi online jangan sampai kembali menerima beban akibat kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah,&rdquo; jelasnya.</p>
<p>Persoalan itu membuat penanganan judi online tidak cukup hanya mengandalkan penangkapan dan pemidanaan. Djoni mendorong adanya proses yang lebih panjang untuk membaca masalah di tengah masyarakat.</p>
<p><strong>Dari Ramai Sesaat Menuju Pembahasan Berkelanjutan</strong></p>
<p>Djoni menilai persoalan sosial sering kali mendapat perhatian besar ketika kasusnya muncul. Setelah itu, perhatian publik dapat kembali turun tanpa menghasilkan perubahan yang berarti.</p>
<p>Ia meminta persoalan masyarakat dihimpun dan dibahas secara berkelanjutan.</p>
<p>&ldquo;Jangan panas-panas tai ayam. Sudah ramai, kemudian hilang sendiri. Permasalahan di masyarakat harus digali, dibuat hipotesis kemudian membahasnya, sampai ditarik solusinya,&rdquo; kata Djoni.</p>
<p>Dalam pandangan tersebut, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima kebijakan. Masyarakat juga dapat memberikan masukan dan mengawasi bagaimana pemerintah merespons persoalan yang muncul.</p>
<p><strong>Kontrol Sosial, Bukan Sekadar Kritik</strong></p>
<p>Djoni berharap forum ekonomi Pancasila berkembang menjadi ruang kontrol sosial terhadap pemerintah.</p>
<p>Ia menegaskan kontrol tersebut bukan bertujuan mencari kesalahan pemerintah. Masyarakat, menurut dia, justru dapat membantu memberikan masukan agar kebijakan tetap mengarah pada kepentingan publik.</p>
<p>&ldquo;Ini bukan untuk mencari kesalahan pemerintah. Kita masyarakat di bawah membantu memberikan kontrol kepada pemerintah dan kabinetnya,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Dari persoalan judi online, Djoni melihat kebutuhan untuk mengevaluasi lebih dari satu sisi. Penegakan hukum terhadap pemain tetap berjalan, tetapi sistem yang memungkinkan perjudian digital menjangkau masyarakat juga perlu mendapat perhatian.</p>
<p>Kasus Yudi Surya menjadi salah satu pintu masuk untuk membicarakan persoalan itu. Di satu sisi, hukum menjangkau pemain. Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang bagaimana platform dan mekanisme pengawasannya bekerja.</p>
<p>Pertanyaan tersebut belum berhenti pada siapa yang harus dihukum. Lebih jauh, Djoni mendorong agar sistem yang memungkinkan masyarakat terpapar judi online ikut diperiksa dan dievaluasi.</p>
<p>&ldquo;Jangan sampai masyarakat yang menjadi korban malah dihukum, sementara sistem yang membuat mereka bisa menjadi korban tidak diperbaiki atau dievaluasi,&rdquo; pungkasnya.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202608/djoni-sudjatmoko-soroti-pengawasan-platform-judi-online-dalam-diskusi-ekonomi-pancasila.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Djoni Sudjatmoko berbicara dalam diskusi dan bedah buku Ekonomi Pancasila di Arena Muktamar NU ke-35, Jombang.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[NEWS]]></category><category><![CDATA[TEKNOLOGI]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[EXCOTEL Surabaya Gandeng LVRI, 10 Veteran Bawa Cerita Sejarah ke Meja Wedang Jawi]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-43-excotel-surabaya-gandeng-lvri-10-veteran-bawa-cerita-sejarah-ke-meja-wedang-jawi</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-43-excotel-surabaya-gandeng-lvri-10-veteran-bawa-cerita-sejarah-ke-meja-wedang-jawi</guid>
                    <pubDate>Fri, 28 Aug 2026 18:06:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[EXCOTEL Surabaya menggandeng LVRI dalam Mixology with Veteran. Sebanyak 10 veteran meracik Wedang Jawi sambil berbagi cerita sejarah.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com</strong> - EXCOTEL Design Hotel Surabaya menggandeng Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) dalam kegiatan &ldquo;Mixology with Veteran: Meracik Kehangatan, Merangkai Kenangan&rdquo;. Sebanyak 10 veteran mengikuti kegiatan tersebut di The Ramoe Restaurant, Kamis, 27 Agustus 2026.</p>
<p>Mayoritas peserta merupakan Veteran Pembela dan pelaku sejarah langsung. Mereka tidak hanya duduk sebagai tamu. Para veteran ikut meracik Wedang Jawi dari jahe, lemon, dan sereh sebelum menikmati minuman tersebut bersama.</p>
<p>Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar EXCOTEL Design Hotel Surabaya.</p>
<p><strong>Bukan Sekadar Kegiatan CSR</strong></p>
<p>EXCOTEL mengemas pertemuan tersebut dalam suasana sederhana dan singkat agar para veteran tetap nyaman.</p>
<p>Namun, aktivitas meracik minuman menjadi pintu masuk untuk tujuan yang lebih besar. EXCOTEL ingin mempertemukan generasi saat ini dengan orang-orang yang pernah mengalami langsung perjalanan sejarah bangsa.</p>
<p>General Manager EXCOTEL Design Hotel Surabaya, Odek Damanik, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan kegiatan yang memiliki makna lebih dari sekadar pemberian apresiasi.</p>
<p>&ldquo;Kami ingin membuat kegiatan yang sederhana tetapi bermakna. Bukan hanya memberikan sesuatu kepada para veteran, tetapi juga memberikan kesempatan kepada kami untuk duduk bersama, mendengarkan cerita mereka, dan belajar dari pengalaman mereka.&rdquo;</p>
<p>Menurut Odek, momentum kemerdekaan menjadi kesempatan untuk kembali mengingat para pelaku sejarah yang masih dapat ditemui secara langsung.</p>
<p>&ldquo;Mereka adalah bagian dari sejarah yang masih bisa kita temui dan dengarkan ceritanya secara langsung,&rdquo; ujarnya.&nbsp;</p>
<p><strong>Cerita Veteran Menjadi Bagian dari Pertemuan</strong></p>
<p>Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi ruang berbagi cerita.</p>
<p>Ketua SSA, Adit, menilai interaksi langsung dapat mendekatkan generasi muda dengan sejarah. Ia menekankan bahwa pengalaman para veteran memiliki nilai yang berbeda ketika generasi muda mendengarnya secara langsung.</p>
<p>&ldquo;Sejarah jangan hanya dibaca, tetapi juga perlu didengarkan langsung dari orang yang mengalaminya.&rdquo;</p>
<p>Adit menyebut para veteran yang hadir sebagai pelaku sejarah. Menurutnya, kesempatan duduk bersama dan mendengarkan pengalaman mereka menjadi pengalaman yang berharga.&nbsp;</p>
<p>Suasana pertemuan juga tidak berlangsung kaku. Odek menyebut para veteran menikmati momen tersebut dengan bercerita dan bernyanyi di The Ramoe Restaurant.&nbsp;</p>
<p><strong>LVRI: Kegiatan Sederhana, tetapi Membuat Veteran Dihargai</strong></p>
<p>Ketua LVRI Surabaya, Drs. H Eko Pranoto, S.E. M.M, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.</p>
<p>Menurut Eko, pertemuan sederhana seperti itu tetap memiliki arti bagi para veteran.</p>
<p>&ldquo;Kami senang bisa berkumpul dan mendapatkan perhatian seperti ini. Kegiatannya sederhana, tetapi membuat kami merasa dihargai. Semoga generasi muda terus mengingat perjuangan dan sejarah bangsa.&rdquo;&nbsp;</p>
<p>Pernyataan tersebut memperkuat posisi kegiatan sebagai ruang pertemuan, bukan sekadar agenda seremonial. Para veteran mendapat kesempatan untuk berkumpul, sementara generasi saat ini mendapat ruang untuk mendengar pengalaman mereka.</p>
<p><strong>Mengapa Wedang Jawi?</strong></p>
<p>Wedang Jawi menjadi bagian penting dari konsep &ldquo;Mixology with Veteran&rdquo;.</p>
<p>Para peserta meracik jahe, lemon, dan sereh menjadi minuman hangat. Mereka kemudian menikmati hasil racikan tersebut bersama.</p>
<p>EXCOTEL memaknai minuman itu sebagai simbol kehangatan. Aktivitas sederhana tersebut mempertemukan berbagai generasi dalam satu meja untuk berbagi cerita.&nbsp;</p>
<p>Pilihan ini juga membuat kegiatan berjalan dalam format yang lebih cair. Tidak ada jarak antara aktivitas meracik minuman dan percakapan yang muncul setelahnya.</p>
<p>Di tengah suasana tersebut, pengalaman para veteran menjadi bagian dari cerita yang bisa didengar langsung oleh generasi berikutnya.</p>
<p><strong>Menutup Rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan</strong></p>
<p>&ldquo;Mixology with Veteran&rdquo; menjadi penutup rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di EXCOTEL Design Hotel Surabaya.</p>
<p>Sebelumnya, EXCOTEL menggelar upacara kemerdekaan untuk pertama kalinya di rooftop hotel. Karyawan mengikuti upacara tersebut sebelum rangkaian berlanjut dengan berbagai kegiatan internal.</p>
<p>EXCOTEL juga menggelar gathering bersama travel agent serta berbagai lomba Agustusan dalam suasana santai dan penuh kebersamaan.&nbsp;</p>
<p>Melalui kegiatan bersama LVRI, EXCOTEL berharap semangat kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni. Hotel tersebut ingin menghadirkan penghargaan kepada orang-orang yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia.</p>
<p>Pada akhirnya, Wedang Jawi hanya menjadi medium. Yang lebih penting adalah pertemuan antara mereka yang mengalami sejarah dan generasi yang kini memiliki kesempatan untuk mendengarkannya secara langsung.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202608/excotel-surabaya-gelar-mixology-with-veteran-wedang-jawi-jadi-bagian-perayaan-kemerdekaan.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Proses peracikan Wedang Jawi dalam kegiatan “Mixology with Veteran” EXCOTEL Design Hotel Surabaya bersama LVRI, menggunakan jahe, lemon, dan sereh.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[LIFESTYLE]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[UMKM Sukodono dan AI, Langkah Baru Menjemput Pasar Digital]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-42-umkm-sukodono-dan-ai-langkah-baru-menjemput-pasar-digital</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-42-umkm-sukodono-dan-ai-langkah-baru-menjemput-pasar-digital</guid>
                    <pubDate>Wed, 26 Aug 2026 17:23:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Sekitar 100 pelaku UMKM Sukodono belajar AI dan digitalisasi bersama BFM Jatim dan Pemerintah Kecamatan Sukodono untuk mengembangkan usaha dan menjangkau pasar.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com</strong> - Sebuah produk yang baik tidak selalu otomatis menemukan pembelinya. Di tengah perubahan cara orang mencari informasi dan berbelanja, pelaku UMKM juga perlu memahami teknologi yang ikut mengubah cara sebuah produk dikenal.</p>
<p>Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam pelatihan bertema &ldquo;AI dan Digitalisasi&rdquo; di Pendopo Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Rabu (26/8/2026).</p>
<p>Sekitar 100 pelaku UMKM dari Sukodono dan sekitarnya mengikuti pelatihan yang digelar Bikers FKPPI Motherland (BFM) Jawa Timur bersama Pemerintah Kecamatan Sukodono.</p>
<p>Pelatihan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Pelatihan Kemerdekaan yang berlangsung selama dua hari.</p>
<p>Arifin, Founder Sohib Digital, mengisi materi pada hari pertama. Ia mengenalkan pemanfaatan AI dan digitalisasi untuk mendukung pengembangan usaha.</p>
<p>Di titik ini, pembicaraan tentang UMKM tidak lagi berhenti pada soal produk. Ada persoalan lain yang ikut menentukan perjalanan sebuah usaha: bagaimana produk itu tampil, ditemukan, dikenal, dan akhirnya dipilih konsumen.</p>
<p><strong>Ketika AI Masuk ke Ruang UMKM</strong></p>
<p>Camat Sukodono Inneke Dwi Setiawati membuka kegiatan tersebut. Ia meminta peserta memanfaatkan kesempatan belajar dan pengetahuan dari mentor untuk mengembangkan usaha.</p>
<p>&ldquo;Semoga para peserta bisa memanfaatkan pelatihan ini. Belajar dari mentor yang ada dan bisa membantu UMKM untuk makin naik kelas,&rdquo; ujar Inneke.</p>
<p>Pesan itu menunjukkan bahwa transformasi digital bagi UMKM tidak cukup berhenti pada pengenalan teknologi.</p>
<p>Pelaku usaha perlu menemukan cara menggunakan teknologi sesuai kebutuhan mereka. AI dapat menjadi salah satu alat untuk mendukung proses tersebut, sementara pemasaran digital membuka ruang bagi produk untuk bertemu dengan calon konsumen di luar lingkungan terdekatnya.</p>
<p>Bagi UMKM yang selama ini mengandalkan pasar sekitar, perubahan itu bisa menjadi langkah penting.</p>
<p>Bukan berarti teknologi menggantikan kemampuan pelaku usaha. Justru sebaliknya, teknologi membutuhkan pelaku usaha yang tahu apa yang ingin mereka bangun.</p>
<p><strong>BFM Membawa Touring Sosial ke Masyarakat</strong></p>
<p>Bagi BFM Jawa Timur, pelatihan UMKM ini juga menjadi bagian dari cara komunitas tersebut hadir di tengah masyarakat.</p>
<p>Sekretaris BFM Jawa Timur Vera Emylia Setio Waskito mengatakan kegiatan itu merupakan bentuk kontribusi komunitas kepada masyarakat.</p>
<p>&ldquo;Acara ini diselenggarakan selama dua hari. Sesuai dengan tujuan kami, kami ingin berbuat dan mengabdi kepada bangsa dan negara serta ikut berperan aktif bagi masyarakat,&rdquo; kata Vera.</p>
<p>Vera menjelaskan BFM merupakan komunitas bikers yang beranggotakan anak-anak TNI/Polri dan purnawirawan.</p>
<p>&ldquo;BFM ini komunitas bikers anak-anak TNI/Polri dan purnawirawan yang senang sekali dengan touring, yaitu touring sosial,&rdquo; imbuhnya.</p>
<p>Semangat tersebut kemudian hadir dalam bentuk yang tidak hanya berkaitan dengan aktivitas komunitas. Pelatihan, pemeriksaan kesehatan, hingga kegiatan bersama masyarakat menjadi bagian dari rangkaian acara.</p>
<p><strong>Dari AI ke Internet yang Aman</strong></p>
<p>Perjalanan pelatihan tidak berhenti pada AI.</p>
<p>Pada hari kedua, Kamis (27/8/2026), panitia mengangkat tema &ldquo;Cybersecurity, Internet Sehat, Internet Aman&rdquo;.</p>
<p>Koko Mahargyo, Ketua Umum Markas UKM, akan menjadi pemateri. Peserta sesi kedua berasal dari unsur PKK desa serta Komite Sekolah SD dan SMP se-Kecamatan Sukodono.</p>
<p>Jumlah peserta pada sesi kedua juga mencapai sekitar 100 orang.</p>
<p>Pilihan tema tersebut memperlihatkan sisi lain dari digitalisasi. Ketika masyarakat semakin banyak menggunakan internet, kemampuan memanfaatkan teknologi perlu berjalan bersama dengan pemahaman mengenai keamanan dan penggunaan internet yang sehat.</p>
<p>Dengan begitu, literasi digital tidak hanya berbicara tentang bagaimana teknologi bisa membantu, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan secara aman.</p>
<p><strong>Ada Ruang Sosial di Tengah Pelatihan</strong></p>
<p>Rangkaian kegiatan juga membawa sisi sosial yang lebih dekat dengan masyarakat.</p>
<p>RS Assakinah mendukung pemeriksaan dan pengobatan gratis. Panitia juga membagikan puluhan doorprize dengan dukungan sejumlah sponsor, di antaranya GoJo dan Bank Mandiri.</p>
<p>Setelah pelatihan hari pertama, peserta mengikuti makan bersama. Mereka juga mendapatkan dawet gratis dari PT Santos serta kuliner khas Sidoarjo, lontong kupang.</p>
<p>Hal-hal tersebut mungkin bukan inti pelatihan AI. Namun, kehadirannya membuat kegiatan tidak berhenti sebagai ruang belajar formal.</p>
<p>Ada pertemuan, percakapan, dan pengalaman bersama yang mempertemukan pelaku usaha dengan komunitas serta lingkungan masyarakat di sekitarnya.</p>
<p><strong>Langkah Kecil Menuju Pasar yang Lebih Luas</strong></p>
<p>Pelatihan dua hari itu tidak serta-merta mengubah sebuah UMKM menjadi usaha digital.</p>
<p>Namun, pengenalan AI dan digitalisasi memberi pelaku usaha satu hal penting: pilihan baru dalam mengembangkan bisnis.</p>
<p>Produk tetap menjadi fondasi. Tetapi di era ketika konsumen semakin sering menemukan produk melalui ruang digital, kemampuan membawa produk tersebut ke hadapan pasar menjadi bagian dari perjalanan yang tidak kalah penting.</p>
<p>Dari Sukodono, langkah itu dimulai dari ruang pelatihan sederhana. Sekitar 100 pelaku UMKM belajar mengenal AI, sementara rangkaian berikutnya mengajak masyarakat memahami keamanan dalam menggunakan internet.</p>
<p>Arah akhirnya tetap sama: bukan sekadar membuat UMKM memiliki produk, tetapi membantu mereka menemukan cara agar produk tersebut memiliki jalan untuk bertemu dengan pasar.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202608/pelatihan-ai-dan-digitalisasi-untuk-umkm-sukodono.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Camat Sukodono Inneke Dwi Setiawati saat membuka pelatihan AI dan digitalisasi bagi sekitar 100 pelaku UMKM dalam rangkaian Gebyar Pelatihan Kemerdekaan 2026 di Kecamatan Sukodono, Sidoarjo.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[NEWS]]></category><category><![CDATA[BUSINESS]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Meracik Parfum, Menemukan Aroma yang Lebih Personal di Small Party with Arroma]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-41-meracik-parfum-menemukan-aroma-yang-lebih-personal-di-small-party-with-arroma</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-41-meracik-parfum-menemukan-aroma-yang-lebih-personal-di-small-party-with-arroma</guid>
                    <pubDate>Mon, 24 Aug 2026 09:58:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Small Party with Arroma di Surabaya mengajak peserta meracik parfum sendiri sambil mengeksplorasi aroma gourmand, karamel, dan cokelat secara personal.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com</strong> - Sebuah parfum kadang lebih dari sekadar wangi yang dipilih dari botol yang sudah jadi. Ia bisa menjadi sesuatu yang diracik sendiri, dicoba berkali-kali, lalu akhirnya terasa dekat dengan karakter orang yang menggunakannya.</p>
<p>Pengalaman semacam itu hadir dalam Small Party with Arroma, kegiatan kolaborasi Arroma dan Studio Tujuh Pagi yang berlangsung di Surabaya, Sabtu, 22 Agustus 2026.</p>
<p>Bertempat di Studio Tujuh Pagi, Jalan Kaca Piring Nomor 6, kegiatan ini mengajak peserta mengenal berbagai karakter aroma sekaligus membuat parfum sendiri. Bukan sekadar memilih wangi yang tersedia, peserta diberi ruang untuk mencoba, memadukan, dan menentukan sendiri komposisi yang mereka sukai.</p>
<p><strong>Ketika Parfum Tidak Lagi Sekadar Pilihan</strong></p>
<p>Dalam kegiatan tersebut, berbagai bahan aroma disediakan untuk dieksplorasi peserta dengan pendampingan pengajar official Arroma.</p>
<p>Rosana, pengajar official Arroma, mengatakan kegiatan tersebut dibuat sebagai ruang untuk mengembangkan hobi dengan biaya yang lebih terjangkau. Salah satu alasannya adalah sistem penggunaan bahan yang memungkinkan peserta mencoba berbagai aroma tanpa harus membawa seluruh bahan pulang.</p>
<p>&ldquo;Kegiatan ini merupakan sebuah wadah kesempatan untuk mengembangkan hobi dengan biaya yang terjangkau. Official Arroma bisa memberikan harga murah karena bahan-bahan yang kami gunakan sifatnya display.&rdquo;</p>
<p>Bahan-bahan tersebut memang tidak dibawa pulang. Peserta dapat mencium dan menggunakan aroma yang tersedia selama proses meracik parfum berlangsung.</p>
<p>Ada sesuatu yang menarik dari cara tersebut. Peserta tidak harus langsung tahu aroma apa yang mereka sukai. Mereka justru diberi kesempatan untuk mengenalinya melalui proses mencoba.</p>
<p>Dari satu aroma ke aroma lain, kemudian mencampurnya, pengalaman itu perlahan mengubah parfum dari sebuah produk menjadi proses kreatif.</p>
<p><strong>Dari Cokelat ke Aroma Gourmand</strong></p>
<p>Kolaborasi dengan Studio Tujuh Pagi menambahkan lapisan lain dalam pengalaman tersebut.</p>
<p>Studio Tujuh Pagi dikenal sebagai kedai cokelat di Surabaya yang juga membuka ruang untuk berbagai aktivitas kreatif. Karena itu, pertemuan antara parfum dan cokelat dalam satu ruang terasa cukup alami.</p>
<p>Pemilik Studio Tujuh Pagi, Ardhia, mengatakan peserta dapat mengeksplorasi karakter aroma yang lebih manis, termasuk gourmand, karamel, dan cokelat.</p>
<p>&ldquo;Peserta juga bisa mengeksplorasi aroma jika ingin membuat aroma gourmand, karamel, atau cokelat yang manis,&rdquo; kata Ardhia.</p>
<p>Aroma gourmand memiliki karakter yang mengingatkan pada makanan atau hidangan manis. Cokelat, karamel, dan aroma pencuci mulut menjadi bagian dari dunia wewangian yang menawarkan kesan berbeda dari aroma segar atau floral yang lebih umum dikenal.</p>
<p>Di titik ini, pengalaman membuat parfum bersinggungan dengan sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian: makanan, minuman, dan kenangan yang muncul dari aroma.</p>
<p><strong>Aroma yang Tidak Harus Sama dengan Orang Lain</strong></p>
<p>Bagi Amanda, salah satu peserta, kebebasan menciptakan aroma menjadi bagian paling menarik dari kegiatan tersebut.</p>
<p>&ldquo;Seru dan bebas berkreasi menciptakan aroma yang unik sesuai karakter saya. Kalau membeli parfum refill, aromanya biasanya sudah template dan merupakan aroma yang mirip atau meniru brand lain. Kalau membuat sendiri, tentu hasilnya akan unik dan jarang dimiliki orang lain,&rdquo; ujar Amanda.</p>
<p>Pernyataan tersebut memperlihatkan alasan mengapa pengalaman meracik parfum memiliki daya tarik tersendiri.</p>
<p>Ketika parfum dibuat sendiri, pilihan tidak berhenti pada merek atau varian yang sudah tersedia. Ada ruang untuk menentukan apakah wanginya ingin terasa manis, hangat, segar, elegan, atau sekadar sesuai dengan selera pribadi.</p>
<p>Pada akhirnya, setiap racikan bisa memiliki cerita yang berbeda karena dibuat melalui preferensi orang yang berbeda pula.</p>
<p><strong>Dari Hobi Menjadi Pengalaman Kreatif</strong></p>
<p>Small Party with Arroma juga memperlihatkan bagaimana aktivitas sederhana dapat dikembangkan menjadi sebuah pengalaman.</p>
<p>Peserta tidak membutuhkan pengalaman khusus untuk mengikuti proses tersebut. Mereka cukup mengenal aroma yang tersedia, mencoba kombinasi, lalu menentukan racikan yang dianggap paling sesuai.</p>
<p>Dalam kegiatan ini, hasil racikan peserta dikemas dalam parfum berukuran 10 mililiter untuk dibawa pulang.</p>
<p>Arroma sendiri merupakan brand parfum artisan yang menghadirkan pengalaman eksplorasi dan kreasi aroma secara personal. Sementara Studio Tujuh Pagi merupakan kedai cokelat yang juga dikembangkan sebagai ruang berkumpul dan berkolaborasi.</p>
<p>Pertemuan keduanya membuat kegiatan tidak hanya berbicara tentang parfum. Ada ruang, makanan, aroma, percakapan, dan pengalaman mencoba sesuatu yang sebelumnya mungkin belum pernah dilakukan.</p>
<p><strong>Ketika Sebuah Aroma Menjadi Pengalaman Personal</strong></p>
<p>Ada alasan mengapa aroma sering terasa lebih personal dibandingkan sekadar benda yang digunakan sehari-hari. Satu wangi dapat mengingatkan seseorang pada tempat, makanan, suasana, atau bahkan seseorang.</p>
<p>Karena itu, meracik parfum sendiri memberikan kemungkinan yang berbeda: seseorang tidak hanya memilih aroma, tetapi ikut menentukan aroma seperti apa yang ingin melekat pada dirinya.</p>
<p>Small Party with Arroma berlangsung pada 22 Agustus 2026 di Studio Tujuh Pagi Surabaya. Kolaborasi tersebut mempertemukan pengalaman meracik parfum dengan karakter ruang kreatif dan eksplorasi aroma yang terinspirasi dari dunia cokelat.</p>
<p>Dari sana, parfum kembali ditempatkan bukan hanya sebagai produk siap pakai, tetapi sebagai sesuatu yang bisa dicoba, diracik, dan dibuat lebih personal oleh pemiliknya.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202608/eksplorasi-aroma-dalam-small-party-with-arroma-di-studio-tujuh-pagi.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Peserta mengeksplorasi berbagai aroma dalam kegiatan Small Party with Arroma di Studio Tujuh Pagi, Surabaya.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[LIFESTYLE]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Dari Meja Domino ke Porprov 2027, Orado Surabaya Menyusun Jalan Menuju Lima Emas]]></title>
                    <link>https://jejakdanarah.com/news-40-dari-meja-domino-ke-porprov-2027-orado-surabaya-menyusun-jalan-menuju-lima-emas</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://jejakdanarah.com/news-40-dari-meja-domino-ke-porprov-2027-orado-surabaya-menyusun-jalan-menuju-lima-emas</guid>
                    <pubDate>Mon, 24 Aug 2026 09:38:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Orado Surabaya menyiapkan atlet menuju Porprov Jatim 2027 lewat Gebu Minang Cup 4. Kompetisi ini diikuti 128 peserta dari berbagai daerah.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jejakdanarah.com</strong> - Orado Surabaya mulai menyiapkan kekuatan untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027. Gebu Minang Cup 4 menjadi salah satu ruang awal untuk melihat pemain yang berpotensi memperkuat Kota Surabaya.</p>
<p>Kompetisi tersebut berlangsung di Surabaya, Sabtu (22/8). Sekitar 64 tim atau 128 peserta ikut ambil bagian. Mereka tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga dari sejumlah daerah lain.</p>
<p>Ketua Orado Surabaya Rio Gahari mengatakan kompetisi ini sekaligus menjadi bagian dari sosialisasi keikutsertaan Orado Surabaya dalam Porprov Jatim 2027.</p>
<p>Pemain yang meraih hasil terbaik berpeluang mengikuti pembekalan. Orado Surabaya akan mempersiapkan mereka untuk menjadi atlet Kota Surabaya.</p>
<p>&ldquo;Siapa pun nanti yang menang hari ini, mungkin akan kita ajak untuk pembekalan menjadi atlet Kota Surabaya untuk dipersiapkan bertanding di Porprov tahun 2027,&rdquo; kata Rio.</p>
<p><strong>Sebuah Kompetisi, Sebuah Titik Awal</strong></p>
<p>Gebu Minang Cup 4 digelar melalui kolaborasi Orado Surabaya dengan Yayasan Gebu Minang. Tahun ini menjadi penyelenggaraan yang keempat.</p>
<p>Bagi Orado Surabaya, kompetisi tersebut bukan hanya soal hasil pertandingan. Ajang ini memberi kesempatan untuk melihat kemampuan pemain dalam situasi kompetitif.</p>
<p>Dari sana, Orado dapat melihat pemain yang berpotensi untuk mendapat pembekalan lebih lanjut. Proses tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju Porprov yang masih berlangsung lebih dari setahun lagi.</p>
<p>Orado juga masih menunggu kepastian nomor pertandingan yang akan diperlombakan pada Porprov Jatim 2027. Jumlah nomor tersebut nantinya akan ikut menentukan fokus persiapan tim.</p>
<p><strong>Lima Emas yang Ingin Dibawa ke Surabaya</strong></p>
<p>Orado Surabaya memasang target lima medali emas pada Porprov Jatim 2027.</p>
<p>Rio menyebut target tersebut masih menyesuaikan nomor yang nantinya dipertandingkan. Jika terdapat lima nomor yang menjadi fokus, Orado berharap seluruhnya dapat menghasilkan medali emas.</p>
<p>&ldquo;Harapannya Orado Kota Surabaya dapat menyumbangkan emas untuk Kota Surabaya. Karena ini kita masih melihat nomor yang dilombakan berapa untuk di Porprov, targetnya katakanlah kita fokus di nomor yang dilombakan adalah lima, ya kita harus menyumbang lima emas nanti itu,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Target tersebut membuat proses pencarian dan pembinaan pemain menjadi bagian penting. Mereka yang muncul dari kompetisi seperti Gebu Minang Cup 4 masih perlu mengikuti tahap pembekalan sebelum dipersiapkan menghadapi Porprov.</p>
<p><strong>Antusiasme yang Menjadi Modal</strong></p>
<p>Kompetisi ini juga memperlihatkan tingginya antusiasme terhadap olahraga domino. Sebanyak 128 peserta mengikuti pertandingan, sementara penonton turut memadati lokasi kegiatan.</p>
<p>&ldquo;Luar biasa antusiasnya, banyak sekali penonton dan saat ini pun pertandingan masih berlangsung,&rdquo; pungkas Rio.</p>
<p>Pembukaan Gebu Minang Cup 4 turut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh organisasi olahraga. Di antaranya Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Ketua KONI Surabaya, Sekretaris Umum Pengprov Jatim, Ketua Yayasan Gebu Minang, serta Ketua DPD Gebu Minang Jawa Timur.</p>
<p>Gebu Minang Cup 4 akhirnya tidak berhenti sebagai satu agenda kompetisi. Bagi Orado Surabaya, ajang ini menjadi salah satu langkah untuk menemukan pemain dan membangun kekuatan menuju Porprov Jawa Timur 2027. Targetnya jelas: lima medali emas untuk Kota Surabaya.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://jejakdanarah.com/po-content/uploads/202608/ketua-orado-surabaya-siapkan-atlet-menuju-porprov-jatim-2027.png" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Rio Gahari menyampaikan kesiapan Orado Surabaya membangun kekuatan atlet domino untuk menghadapi persaingan di Porprov Jawa Timur 2027.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator><category><![CDATA[SPORTS & OTOMOTIF]]></category></item></channel></rss>