x jejakdanarah.com skyscraper
x jejakdanarah.com skyscraper

Lilin-Lilin Kecil Itu Bernama Manusia

Avatar Brigitta N. Ferdiana

Jejak

Kabar meninggalnya pencipta lagu legendaris Lilin-Lilin Kecil, James F. Sundah, membuat banyak orang kembali mengingat lagu yang tumbuh bersama generasi 90-an dan awal 2000-an.

Kalau kalian hidup di era itu, mungkin penggalan lirik ini masih terasa familiar sampai hari ini,

"Dan kau lilin-lilin kecil..."

Pelan.
Sederhana.
Namun selalu terasa hangat.

Pagi ini aku membaca berita dari Liputan6.com tentang kepergian musisi legendaris tersebut di New York pada usia 70 tahun setelah cukup lama melawan kanker paru-paru.

Dan entah kenapa, setelah membaca berita itu, lagu tersebut terasa berbeda ketika diputar kembali hari ini.

Mungkin karena semakin dewasa, kita akhirnya mengerti bahwa Lilin-Lilin Kecil bukan sekadar lagu lama.

Ia adalah cerita tentang banyak manusia.

Lagu yang Ternyata Tentang Manusia Biasa
Belakangan aku baru tahu, lagu ini ternyata lahir dari keresahan James F. Sundah terhadap teman-temannya yang sedang kesulitan hidup, sementara generasi yang lebih tua tampak sudah menemukan keberhasilannya masing-masing. Hal itu disebutkan dalam penjelasan tentang lagu tersebut di Wikipedia Indonesia - Lilin-Lilin Kecil.

Dan jujur saja, rasanya keresahan itu masih sangat relevan sampai sekarang.

Banyak orang tumbuh dengan mimpi besar.
Ingin berhasil.
Ingin hidup mapan.
Ingin menjadi seseorang yang dianggap sukses.

Namun semakin dewasa, hidup ternyata tidak selalu bergerak sesuai harapan.

Ada teman yang kariernya melesat lebih cepat.
Ada yang hidupnya terlihat stabil sebelum usia 30.
Ada yang perlahan mencapai semua target hidup yang dulu hanya dibicarakan saat nongkrong malam.

Sementara sebagian lainnya masih sibuk bertahan dengan hidupnya sendiri.

Bangun pagi.
Pergi bekerja.
Menghadapi tekanan.
Menyimpan lelah.
Lalu mengulang semuanya lagi esok hari.

Dan di tengah dunia yang terlalu sibuk memuja pencapaian, banyak manusia diam-diam mulai merasa dirinya kecil.

Tidak cukup berhasil.
Tidak cukup hebat.
Tidak cukup bersinar.

Ketika Hidup Membuat Banyak Orang Merasa Tertinggal
Hari ini, rasa tertinggal mungkin menjadi salah satu emosi paling umum yang diam-diam dirasakan banyak orang.

Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat selalu lebih cepat. Ada yang sudah membeli rumah di usia muda. Ada yang kariernya terus naik. Ada yang hidupnya terlihat mapan dan bahagia hampir setiap hari.

Sementara sebagian lainnya masih mencoba bertahan dari tagihan bulanan, pekerjaan yang melelahkan, atau mimpi-mimpi yang belum juga menemukan jalannya.

Dan tanpa sadar, banyak manusia mulai merasa dirinya gagal hanya karena hidupnya tidak terlihat bercahaya seperti orang lain.

Padahal kenyataannya, tidak semua orang hidup sebagai matahari.

Sebagian besar dari kita mungkin memang hanya lilin kecil.

Cahayanya sederhana.
Kadang redup.
Kadang hampir padam.

Tetapi tetap mencoba menyala.

Mungkin itu sebabnya lagu Lilin-Lilin Kecil terasa begitu dekat dengan banyak orang Indonesia.

Karena lagu itu tidak berbicara tentang orang-orang besar.

Ia justru berbicara tentang manusia biasa.

Tentang mereka yang tetap mencoba hidup baik meski berkali-kali lelah.
Tentang mereka yang terus berjalan pelan tanpa pernah benar-benar tahu kapan hidup akan terasa lebih ringan.

Dunia Tidak Selalu Membutuhkan Cahaya Besar
Kadang kita terlalu sibuk mengagumi cahaya besar sampai lupa bahwa dunia juga ditopang oleh cahaya-cahaya kecil yang sederhana.

Ayah yang pulang malam demi keluarganya.
Ibu yang menyembunyikan lelah agar rumah tetap terasa tenang.
Orang-orang yang tetap bekerja meski burnout.
Teman yang selalu terlihat kuat padahal diam-diam kehilangan arah hidupnya.

Mereka mungkin tidak viral.
Tidak terkenal.
Tidak dianggap luar biasa.

Tetapi dunia tetap berjalan karena ada orang-orang seperti mereka.

Dan mungkin, itulah makna paling sederhana dari lilin kecil.

Ia tidak harus menjadi cahaya terbesar untuk tetap berarti.

Kadang keberadaannya cukup untuk membuat seseorang merasa sedikit lebih hangat.

Lilin-Lilin Kecil di Kehidupan Sehari-hari
Semakin dewasa, kita mulai sadar bahwa hidup ternyata lebih banyak ditopang oleh orang-orang sederhana.

Orang yang tetap mendengarkan ketika kita lelah.
Orang yang tetap hadir meski tidak banyak bicara.
Orang yang terus mencoba menjadi baik di tengah dunia yang semakin keras.

Mereka tidak selalu terlihat.

Tetapi kehadirannya membuat hidup terasa sedikit lebih manusia.

Dan mungkin, karya-karya seperti Lilin-Lilin Kecil tetap hidup sampai hari ini karena berhasil mengingatkan kita tentang hal itu.

Bahwa hidup bukan hanya tentang siapa yang paling bersinar.

Tetapi juga tentang siapa yang tetap memilih menjadi hangat di tengah dunia yang perlahan dingin.

Kepergian James F. Sundah mungkin bukan hanya tentang kehilangan seorang musisi.

Tetapi juga pengingat bahwa karya yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk hidup lebih lama dari penciptanya.

Sebab beberapa lagu memang tidak hanya diciptakan untuk didengar.

Mereka diciptakan untuk menemani manusia bertahan hidup.

Dan mungkin, kita semua memang sedang hidup sebagai lilin-lilin kecil.

Dengan cahaya yang sederhana.
Dengan luka yang sering disembunyikan.
Dengan hidup yang kadang terasa berat.

Tetapi tetap mencoba menyala.

Karena pada akhirnya, dunia ini tidak hanya membutuhkan matahari.

Dunia juga membutuhkan lilin-lilin kecil yang tetap bertahan memberi hangat, meski perlahan habis oleh waktu.

 

 

Artikel Terbaru
Sabtu, 17 Okt 2026 23:04 WIB | Bisnis

Shibori, Peluang Usaha Kreatif Anak Muda lewat Olah Kain

Shibori membuka peluang usaha kreatif anak muda lewat motif kain unik, produk fesyen, dan pemanfaatan kain tidak terpakai dengan pendekatan bernilai tambah. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 15:25 WIB | Feature

GMNI Surabaya Raya Asah Nalar Kritis Kader Lewat Jurnalistik

GMNI Surabaya Raya dan RLD melatih 28 kader jurnalistik untuk memperkuat nalar kritis, memverifikasi informasi, dan menyusun kritik berbasis data. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 15:08 WIB | Kabar

Terminal Teluk Lamong Raih Dua Penghargaan Internasional, Petikemas Global Tumbuh 78,69 Persen

Terminal Teluk Lamong meraih dua penghargaan Global Ports Forum Awards 2026 di Singapura. Arus petikemas internasional tumbuh 78,69 persen hingga Agustus ...
Jumat, 16 Okt 2026 21:19 WIB | Feature

Spaghetti Hitam The Alana Hotel Surabaya, Kreasi Seafood Chef Anton untuk Halloween

The Alana Hotel Surabaya menghadirkan spaghetti hitam kreasi Chef Anton dengan tinta cumi, udang, dan cumi di Oryza Restaurant, 20 Oktober–30 November 2026. ...
Jumat, 16 Okt 2026 13:54 WIB | Feature

Menjelajahi Masa Lalu Surabaya Lewat Living Museum di Kokoon Hotel

Menjelajahi masa lalu Surabaya lewat Living Museum Kokoon Hotel, dengan koleksi artefak perkantoran era 1900-an di kawasan Kota Tua. ...
Selasa, 13 Okt 2026 07:35 WIB | Sekitar Kita

Dari Dunia Usaha ke Sengketa Investasi, DPO Pamekasan Ditangkap di Bojonegoro

DPO kasus dugaan investasi di Pamekasan ditangkap di Bojonegoro. Perkara ini menyoroti kepercayaan, transparansi, dan risiko kerja sama investasi. ...