Rindu terbangun pukul 01.14.
Rumah sunyi dengan cara yang utuh tidak ada suara,
tidak ada gangguan,
tidak ada alasan yang bisa ditunjuk.
Tubuhnya saja yang tiba-tiba menolak melanjutkan tidur.
Seperti ada sesuatu yang diam-diam menunggu jam ini.
Di sampingnya, Bagas tidur lelap.
Napasnya stabil, dalam, tanpa gelisah.
Cara tidur seseorang yang menutup hari dengan tuntas.
Rindu menatapnya sebentar.
Punggung yang familiar.
Bahu yang pernah terasa dekat.
Jarak yang sekarang tidak perlu dijelaskan.
Ada waktu ketika ia bisa langsung meraih tangan itu tanpa berpikir.
Sekarang, bahkan untuk sekadar mendekat,
ia perlu alasan dan sering kali ia memilih tidak mencarinya.
Ia bangkit perlahan, mengambil laptop, lalu keluar kamar tanpa suara.
Ruang tengah terasa lebih luas di jam seperti ini.
Ia duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa,
memangku laptop dengan cahaya layar yang terlalu terang,
lalu, perlahan, matanya menyesuaikan.
Dokumen baru terbuka.
Kosong.
Kursor berkedip, sabar, seolah tahu ia akan menunggu.
Rindu diam cukup lama sampai waktu terasa kehilangan bentuknya.
Kepalanya penuh, tapi tidak ada satu pun yang bersedia keluar lebih dulu.
Semua berdesakan, saling menahan.
Lalu satu kalimat jatuh.
Ada hari-hari ketika aku memasak untuk orang-orang yang kucintai dan tidak satu pun dari mereka tahu bahwa aku sedang menangis di dalam.
Itu bukan kesedihan..
Hanya karena aku tidak ingat lagi kapan terakhir kali ada yang bertanya aku mau makan apa.
Ia membaca ulang.
Ada sesuatu yang longgar di dadanya.
Seperti segel lama yang akhirnya terbuka tanpa suara.
Ia tidak berhenti.
Aku perempuan yang pandai mengurus.
Ini bukan keluhan, ini hanya fakta.
Aku tahu jadwal vaksin anak-anak,
aku tahu mana tagihan yang jatuh tempo minggu ini,
aku tahu suamiku tidak suka bawang merah digoreng terlalu kering.
Aku hafal hal-hal kecil tentang semua orang di rumah ini.
Tapi kalau seseorang bertanya apa yang aku inginkan untuk diriku sendiri, aku harus diam lebih lama dari yang seharusnya.
Seolah pertanyaan itu sudah terlalu jarang datang,
sampai aku lupa bahwa aku pernah punya jawaban.
Kalimat-kalimat berikutnya mengalir tanpa disaring.
Tidak rapi, tidak disusun, tidak dipoles.
Seperti seseorang yang akhirnya berhenti menahan napas.
Ia sempat berhenti sejenak,
bukan untuk mencari kata,
tapi karena ia tiba-tiba ingat sesuatu yang hampir terasa asing.
Dulu ini mudah.
Dulu ia tidak perlu menunggu rumah benar-benar sunyi untuk bisa jujur.
Tidak perlu memastikan semua orang tidur.
Tidak perlu merasa bahwa apa yang ia tulis harus disembunyikan,
bahkan dari dirinya sendiri.
Dulu, menulis bukan sesuatu yang ia curi dari waktu.
Itu bagian dari hidupnya.
Sekarang, rasanya seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang,
tapi belum yakin apakah ia berhak mengambilnya lagi.
Jam bergerak tanpa terasa.
01.14.
01.39.
01.57.
Ia baru sadar waktu ketika tangannya berhenti sendiri.
Tulisan itu belum selesai.
Bahkan terasa seperti baru mulai.
Tapi ada momen ketika kejujuran terasa terlalu terang,
dan ia belum siap menatapnya terlalu lama.
Ia menyimpan dokumen itu.
Tanpa judul.
Hanya tanggal.
Layar meredup pelan.
Di luar, hujan turun.
Awalnya tipis, lalu semakin jelas.
Bunyi yang akrab, seperti sesuatu yang tidak meminta izin untuk hadir,
dan justru karena itu terasa melegakan.
Seperti hal-hal yang selama ini ia tahan sendiri.
Rindu membuka ponselnya.
Langsung ke chat.
Dimas masih online.
Masih di sini.
Pesan itu sudah ada, seolah ia datang terlalu cepat,
atau mungkin memang sudah menunggu.
Rindu menatap layar beberapa detik.
Ada satu momen kecil sebelum ia bertindak.
Bukan ragu, lebih seperti sadar bahwa ini bukan hal yang netral.
Setelah ini, ada sesuatu yang tidak bisa ia pura-pura tidak terjadi.
Ia menyalin dua paragraf pertama.
Mengirim.
Tanpa pengantar.
Ponsel diletakkan menghadap bawah.
Ia memilih mendengar hujan daripada menunggu balasan.
Getaran datang beberapa menit kemudian.
“Rindu.”
Hanya namanya.
Seperti seseorang yang membaca dengan penuh,
lalu perlu jeda sebelum bicara.
“Ini kamu tulis kapan?”
“Barusan.”
Jam satu pagi. Di lantai ruang tengah.
Balasan berikutnya datang lebih cepat.
“Kenapa kamu berhenti nulis seperti ini?”
Rindu menarik napas kecil.
Pertanyaan itu tidak asing.
Hanya saja, kali ini terasa lebih tepat seperti diarahkan langsung ke sesuatu yang selama ini ia hindari.
“Kamu sudah pernah tanya.”
“Iya.”
“Tapi sekarang aku tahu jawabanmu waktu itu tidak benar.”
Rindu menatap kalimat itu lebih lama dari yang seharusnya.
Tidak ada nada menghakimi di sana. Justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
Percakapan mereka berjalan sampai pukul tiga.
Topiknya berputar di sekitar tulisan,
tentang kalimat yang terasa hidup dan yang hanya terdengar indah,
tentang kejujuran yang tidak selalu nyaman dibaca,
tentang bagaimana sesuatu bisa terasa dekat tanpa bisa dijelaskan kenapa.
Di tengah percakapan itu,
ada satu-dua momen ketika pembicaraan hampir bergeser.
Lebih personal.
Lebih dekat dari yang aman.
Tapi selalu berhenti setengah langkah sebelum melewati batas.
Seperti keduanya sama-sama tahu,
dan sama-sama memilih untuk tidak menyebutkannya.
Rindu berbicara dengan versi dirinya yang lama tidak muncul.
Tanpa menyaring.
Tanpa merapikan.
Tanpa memastikan semuanya aman.
Ia bahkan beberapa kali berhenti di tengah kalimat.
bukan karena bingung, tapi karena pikirannya melompat lebih cepat dari kata-kata.
Dan Dimas tidak mencoba mengejar arah.
Ia hanya mengikuti.
Memberi ruang yang cukup luas untuk semua yang belum selesai.
Menjelang pukul tiga lewat,
Rindu menulis:
“Aku harus tidur. Anak-anak bangun jam enam.”
“Iya.”
Jeda.
“Rindu. Tulisan tadi.. simpan. Jangan diapa-apakan dulu. Biarkan ada.”
Kalimat itu tinggal lebih lama di layar.
Biarkan ada.
Bukan cuma tentang tulisan.
Tentang dirinya.
Tentang bagian-bagian yang selama ini ia rapikan, ia kecilkan, supaya tidak mengganggu keseimbangan hidup yang sudah penuh.
“Oke.”
Ia menutup chat.
Menutup laptop.
Lalu berdiri, sedikit kaku di lutut.
Lorong terasa lebih gelap saat ia kembali ke kamar.
Ia melewati pintu kamar anak-anak, memastikan semuanya masih seperti seharusnya.
Bagas bergerak ketika ia masuk.
Tidak sepenuhnya bangun.
Tangannya bergeser ke sisi tempat Rindu biasanya tidur.
Terbuka, tanpa mencari..
hanya ada..
Seperti tubuhnya masih mengingat sesuatu yang tidak lagi dilakukan saat sadar.
Rindu berdiri di samping tempat tidur.
Menatap tangan itu.
Detailnya masih ia hafal.
Garisnya.
Kebiasaannya.
Tangan yang dulu sering ia genggam tanpa berpikir di tempat-tempat kecil yang sekarang bahkan jarang ia ingat.
Sekarang terasa seperti sesuatu yang ia kenali,
tapi tidak sepenuhnya ia miliki lagi.
Ia berbaring.
Tidak menggenggam tangan itu.
Cukup dekat sampai kulit mereka bersentuhan tipis.
Dan di dalam dadanya, sesuatu berubah.
Tidak pecah.
Lebih seperti retakan halus pada tanah yang lama kering, lalu tersentuh air.
Ada nyeri di sana.
Tapi juga lega yang datang pelan.
Seperti merindukan seseorang yang masih ada di sebelahmu.
Seperti mencintai..
lalu mulai mempertanyakan bentuknya.
Apakah ini masih sama.
Atau hanya kebiasaan yang bertahan lebih lama dari perasaan.
Alarm berbunyi pukul 05.47.
Rindu bangun dengan tubuh berat,
tapi pikirannya jernih dengan cara yang aneh.
Seperti malam tadi mengambil sesuatu,
alu menggantinya dengan sesuatu yang lain.
Ia ke dapur.
Membuat kopi.
Pagi belum benar-benar datang.
Jalanan masih basah, udara masih menyimpan sisa hujan.
Ponselnya menyala.
Pesan dari Dimas.
“Aku baca lagi tulisanmu. Kalimat terakhir di paragraf kedua, itu bukan suara orang yang lupa. Itu suara orang yang baru sadar.”
Rindu membaca pelan.
Kalimat itu tidak terasa seperti pujian.
Lebih seperti sesuatu yang membuka pintu kecil,
yang selama ini ia tahu ada, tapi tidak pernah benar-benar ia dorong.
Ia duduk di meja dapur, kopi di tangan, rumah masih diam.
Ada sesuatu yang ikut duduk bersamanya pagi itu.
Bukan rencana.
Bukan kewajiban.
Lebih kecil dari itu.
Dan justru karena itu terasa nyata.
Keinginan.
Ia tidak tahu bentuknya apa.
Belum.
Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama,
ia tidak langsung menyingkirkannya.
Ia membuka laptop.
Dokumen semalam masih di sana.
Ia membacanya ulang.
Dengan mata pagi, dengan kepala yang lebih tenang.
Dan kali ini, ia tidak merasa perlu memperbaiki apa pun.
Ia membiarkannya seperti adanya.
Ia memberi judul.
Bukan tentang perannya.
Bukan tentang hidup yang ia jalani.
Tentang seseorang yang perlahan kembali ia temui.
Perempuan Ini.
Laptop ditutup.
Hari tetap berjalan.
Anak-anak akan bangun.
Sarapan harus disiapkan.
Rutinitas tidak menunggu siapa pun.
Tapi ada pergeseran kecil yang tidak bisa ia abaikan.
Hampir tidak terlihat.
Namun cukup untuk membuatnya sadar,
yang berubah mungkin bukan hidupnya.
Melainkan keberaniannya untuk akhirnya melihatnya dengan jujur.
— Bersambung ke Episode 5 —
Editor : Redaksi