Jejakdanarah.com - Rak-rak pakaian bekas di Tokyo kini menarik perhatian yang datang dari jauh. Wisatawan asing berburu denim lama, kaus vintage, jaket, pakaian desainer hingga barang-barang yang sudah sulit ditemukan di toko biasa. Bagi sebagian pengunjung, mencari satu potong pakaian di antara deretan barang lama bahkan mulai menjadi bagian dari pengalaman berwisata di Jepang.
Perubahan itu ikut membentuk pasar secondhand fashion Jepang. Dalam laporan Juli 2026, The Japan Times menulis bahwa meningkatnya wisatawan, yen yang melemah, media sosial, serta pertumbuhan platform resale membuat bisnis pakaian bekas Jepang semakin terhubung dengan pasar global. Sejumlah pemilik toko melihat lonjakan pembeli dari luar negeri, sementara reseller asing datang untuk mencari barang yang dapat dijual kembali di negara mereka.
Fenomena tersebut muncul di tengah arus kunjungan internasional yang masih tinggi. Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat 3.442.100 kedatangan wisatawan asing ke Jepang pada Juli 2026, menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juli.
Tokyo dan Seni Berburu Barang Lama
Salah satu kawasan yang ikut menikmati perubahan itu adalah Shimokitazawa.
Berjarak hanya beberapa menit dari Shibuya dan Shinjuku, kawasan ini dikenal dengan toko pakaian vintage, toko musik, kafe, bar, serta ruang-ruang kreatifnya. Panduan resmi GO TOKYO menggambarkan Shimokitazawa sebagai salah satu tujuan utama untuk mencari pakaian vintage dan barang unik. Pilihannya membentang dari toko dengan harga relatif terjangkau hingga butik kecil yang mengkhususkan diri pada gaya tertentu.
Perkembangannya juga terlihat dari munculnya toko-toko dengan pendekatan baru.
CIRCULABLE SUPPLY, misalnya, dibuka di Shimokitazawa pada 2025 dengan konsep reuse yang menghubungkan fashion dan keberlanjutan. Toko tersebut membawa pakaian dari berbagai merek, termasuk desainer Jepang dan label internasional, sekaligus menjalankan sistem pengumpulan dan pemanfaatan kembali barang.
Ada pula Notime Shimokitazawa yang menerapkan sistem operasional 24 jam, dengan jam tertentu tanpa staf dan transaksi mandiri. Pilihan barangnya mencakup pakaian kasual, kaus band, denim hingga item retro. Pakaian yang dibeli dari lelang dicuci dan diperbaiki sebelum kembali dijual.
Di akhir pekan, Shimokitazawa Flea Market menghadirkan sekitar 30 penjual pakaian vintage, kerajinan, aksesori dan barang impor. Menurut GO TOKYO, pasar tersebut dapat menarik sekitar 10.000 pengunjung dalam satu sesi.
Pasar Lama yang Menemukan Pembeli Baru
Popularitas fashion secondhand Jepang punya konsekuensi bagi harga dan ketersediaan barang.
The Japan Times melaporkan sejumlah pembeli dari luar negeri datang ke Jepang untuk mengisi kembali stok toko mereka. Sebagian pedagang mengatakan biaya mendapatkan barang untuk pasar luar negeri telah meningkat hingga dua atau tiga kali lipat.
Artinya, sebuah pakaian yang sebelumnya mungkin hanya dilihat sebagai barang bekas di pasar domestik kini dapat memiliki nilai berbeda setelah ditemukan oleh pembeli dari negara lain.
Pasar reuse Jepang sendiri sudah memiliki skala yang besar. Data yang ditampilkan FaW TOKYO menunjukkan nilai industri reuse Jepang mencapai sekitar ¥3,1 triliun pada 2023, dengan produk fashion menyumbang sekitar ¥1 triliun. Industri tersebut diproyeksikan mencapai sekitar ¥4 triliun pada 2030.
Pertumbuhan ini juga memperlihatkan bahwa pakaian bekas telah berkembang menjadi sektor bisnis dengan ekosistem sendiri. Ada perdagangan, lelang, perawatan, autentikasi, logistik, hingga cross-border e-commerce.
Jadi, yang berpindah dari Jepang ke negara lain bukan cuma pakaian. Bersama barang-barang tersebut ikut bergerak sebuah model bisnis yang memberikan kehidupan kedua kepada produk yang sudah pernah digunakan.
Mengapa Barang Lama Terasa Lebih Menarik?
Ada alasan mengapa seseorang rela menghabiskan waktu menyusuri toko demi menemukan jaket yang sudah berusia puluhan tahun.
Barang vintage memiliki batas yang tidak dimiliki produk massal. Jumlahnya terbatas. Model tertentu mungkin sudah tidak dibuat lagi. Ada pula pakaian yang membawa jejak era, subkultur, musik, atau gaya tertentu.
Itulah sebabnya pengalaman membeli pakaian secondhand berbeda dari mencari koleksi terbaru di pusat perbelanjaan.
Di Shimokitazawa, misalnya, wisatawan bisa berpindah dari toko pakaian ke toko rekaman, kemudian berhenti di kafe atau bar. GO TOKYO menggambarkan kawasan ini sebagai lingkungan yang mempertemukan fashion dengan musik, seni, dan kehidupan malam.
Belanja akhirnya menjadi bagian dari cara mengenal sebuah kota.
Seorang wisatawan yang membeli kaus lama di Tokyo tidak membawa pulang barang yang sepenuhnya baru. Namun, ia membawa sesuatu yang tidak tersedia dalam jumlah tak terbatas. Bisa jadi pakaian itu berasal dari era tertentu, pernah dikenakan seseorang yang tidak dikenal, lalu bertahun-tahun kemudian ditemukan oleh orang lain di sebuah toko kecil di Tokyo.
Ada semacam perjalanan kedua di sana.
Ilustrasi suasana jalanan Tokyo yang memperlihatkan pengunjung mengenakan fashion vintage dan pakaian secondhand di kawasan dengan toko-toko pakaian bekas.
Dari Thrifting ke Gaya Hidup
Popularitas resale juga memperlihatkan perubahan cara orang memandang pakaian.
Selama bertahun-tahun, industri fashion bergerak dengan logika koleksi baru: musim baru, tren baru, warna baru, dan alasan baru untuk membeli. Pasar secondhand menawarkan ritme yang berbeda. Pembeli datang tanpa tahu persis apa yang akan ditemukan.
Pilihan akhirnya tidak selalu ditentukan oleh apa yang sedang dipajang di etalase musim ini. Ada unsur pencarian, kejutan, dan selera pribadi.
Jepang punya modal budaya yang kuat untuk perkembangan tersebut. Negara ini sudah lama dikenal melalui desainer seperti Yohji Yamamoto, Issey Miyake dan Comme des Garçons, sekaligus berbagai subkultur fashion yang tumbuh di jalanan Tokyo. Reputasi tersebut membuat pakaian lama dari Jepang memiliki konteks yang lebih luas bagi penggemar fashion internasional.
Media sosial kemudian memperpendek jarak antara toko kecil di Tokyo dan calon pembelinya di luar negeri. Sebuah item yang ditemukan seseorang dapat menjadi rekomendasi bagi ribuan orang lain dalam hitungan hari.
Dulu, seseorang mungkin datang ke Jepang lalu menemukan toko vintage secara kebetulan. Sekarang, ia bisa datang dengan daftar toko yang sudah disimpan di ponselnya.
Oleh-Oleh yang Punya Cerita
Perubahan ini juga menarik jika dilihat dari sisi perjalanan.
Suvenir biasanya dipilih karena merepresentasikan tempat yang dikunjungi. Fashion vintage menawarkan kemungkinan lain: wisatawan membawa pulang sesuatu yang tidak selalu dibuat khusus untuk turis.
Sebuah denim lama dari Tokyo, kaus band yang ditemukan di Shimokitazawa, atau jaket vintage dari toko kecil dapat menjadi pengingat perjalanan yang lebih personal.
Barang tersebut kemudian hidup lagi di tempat lain.
Mungkin itu pula yang membuat fashion secondhand terasa relevan dengan gaya hidup hari ini. Di tengah begitu banyak produk yang dibuat untuk segera digantikan, barang lama menawarkan pengalaman yang lebih lambat: mencari, memilih, menunggu, lalu menemukan sesuatu yang terasa tepat.
Jepang sedang memperlihatkan bahwa pakaian lama tidak selalu berarti masa lalu. Di tangan pemilik berikutnya, ia bisa menjadi bagian dari cerita yang sama sekali baru.
Dan mungkin, bagi wisatawan yang berjalan keluar dari sebuah toko vintage dengan satu jaket di tangan, itulah suvenir yang paling menarik: bukan benda yang dibuat untuk mengingatkan seseorang pada Jepang, melainkan benda yang sudah memiliki ceritanya sendiri sebelum akhirnya menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Editor : Redaksi