x jejakdanarah.com skyscraper
x jejakdanarah.com skyscraper

Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi, Abu Vulkanik Berdampak Pada Penerbangan dan Aktivitas Warga

Avatar Brigitta N. Ferdiana

Sekitar Kita

Jejakdanarah.com - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih menunjukkan aktivitas erupsi pada Senin, 7 September 2026. Abu vulkanik yang terbawa angin telah bergerak jauh dari pusat erupsi dan mulai memengaruhi ruang udara, penerbangan, serta aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah.

Dampaknya sudah terlihat dalam skala besar. Dilansir ANTARA, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan 1.558 penerbangan terdampak akibat penutupan delapan bandara, dengan sekitar 170.000 penumpang tertahan. Penutupan dilakukan untuk menjaga keselamatan operasional penerbangan di tengah pergerakan abu vulkanik. 

Peristiwa yang bermula dari sebuah gunung api di tengah Selat Sunda itu akhirnya bergerak melampaui kawasan sekitar kawah. Abu mengikuti atmosfer, pesawat harus mengubah jadwal, dan masyarakat di beberapa daerah menyesuaikan kegiatan mereka.

Erupsi Dimulai Jumat Malam

Aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau mulai teramati pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.

Dalam laporan BNPB, aktivitas tersebut disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran. Pada malam hari, pengamat juga melihat fenomena lava fountain, berupa semburan material pijar dari aktivitas erupsi. 

Pemantauan pada 5 September pukul 00.00–06.00 WIB mencatat satu kejadian letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi yang tercatat selama 21.600 detik. Pendaran merah dari aktivitas erupsi juga terlihat terus-menerus.

Dalam siaran pers Kementerian ESDM pada 6 September, PVMBG memastikan status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga setelah aktivitas erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam. 

PVMBG merekomendasikan masyarakat, wisatawan dan pengunjung tidak mendekati kawasan gunung dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. 

Abu Vulkanik Bergerak Jauh dari Gunung

Persoalan terbesar bagi aktivitas masyarakat dan penerbangan bukan semata-mata letusan yang terlihat dari laut, melainkan abu vulkanik yang bergerak di atmosfer.

BNPB, berdasarkan pemantauan PVMBG, satelit Himawari dan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, melaporkan sebaran abu sempat mencapai sekitar FL480 atau 14,6 kilometer di atas permukaan laut. 

Sementara itu, BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap atmosfer, penerbangan dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Analisis citra satelit pada 6 September pukul 08.00 WIB menunjukkan dua klaster sebaran abu yang mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. 

Arah abu tidak bersifat tetap. Perubahan arah dan kecepatan angin pada ketinggian berbeda dapat mengubah wilayah yang terdampak dalam waktu relatif singkat.

Karena itu, persoalan erupsi tidak berhenti pada pertanyaan tentang di mana gunung berada. Untuk penerbangan, pertanyaan yang lebih penting adalah ke mana abu bergerak.

1.558 Penerbangan Terdampak

Gangguan penerbangan menjadi salah satu dampak terbesar dari erupsi ini.

Melalui laporan ANTARA, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut 1.558 penerbangan terdampak dan sekitar 170.000 penumpang tertahan. Angka tersebut mencakup penerbangan keberangkatan maupun kedatangan dari delapan bandara yang operasionalnya terdampak sebaran abu. 

Delapan bandara tersebut meliputi:

  • Soekarno-Hatta, Tangerang
  • Halim Perdanakusuma, Jakarta
  • Radin Inten II, Lampung
  • Husein Sastranegara, Bandung
  • Budiarto, Curug
  • Pondok Cabe, Tangerang Selatan
  • Taufik Kiemas, Pesisir Barat
  • Atung Bungsu, Pagar Alam

Menurut laporan ANTARA, pemerintah juga menyiapkan bandara alternatif, antara lain Kertajati, Ahmad Yani Semarang, Juanda Surabaya, Yogyakarta International Airport dan Solo. InJourney bersama Angkasa Pura menyiapkan transportasi darat bagi penumpang yang penerbangannya dialihkan. 

Dalam laporan lain, ANTARA juga menyebut Kementerian Perhubungan bersama BMKG, AirNav, pengelola bandara dan pihak terkait terus melakukan evaluasi terhadap perkembangan abu vulkanik sebelum menentukan pemulihan operasional. 

Jadi, keputusan sebuah bandara untuk berhenti beroperasi bukan semata-mata karena gunung sedang meletus. Faktor penentunya adalah apakah ruang udara di sekitar jalur penerbangan masih aman.

Pemantauan Dilakukan Setiap Saat

Keselamatan penerbangan membuat pemantauan abu dilakukan secara terus-menerus.

Dalam laporan ANTARA, Menteri Perhubungan menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak. Pergerakan abu dipantau seiring perubahan arah angin sehingga keputusan operasional dapat disesuaikan dengan kondisi terbaru. 

BMKG juga menerbitkan informasi meteorologi khusus bagi penerbangan dan melakukan pengamatan atmosfer menggunakan data satelit. Citra Himawari menjadi salah satu instrumen untuk melihat pergerakan awan abu di wilayah yang luas. 

Ada alasan kuat di balik kewaspadaan tersebut.

Abu vulkanik memiliki partikel yang dapat membahayakan mesin pesawat dan sistem penerbangan. Karena itu, pesawat dapat menghadapi risiko meskipun berada jauh dari sumber erupsi.

Dalam konteks Anak Krakatau, jarak geografis ternyata bukan ukuran yang cukup untuk menentukan dampak.

Dampaknya Sudah Menjadi Perhatian Internasional

Dimensi internasional mulai terlihat dari jalur penerbangan yang terdampak.

Reuters melaporkan delapan bandara Indonesia masih menghadapi penutupan pada Senin pagi akibat abu vulkanik, dengan sekitar 170.000 penumpang terdampak. Media tersebut juga melaporkan abu mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki di sisi Sumatra dan 20.000 kaki di sisi Jawa. 

Associated Press (AP) melaporkan dua erupsi pada Minggu berlangsung sekitar 30 detik dan 16 detik. Abu mencapai ketinggian hingga 20.000 kaki di sisi Jawa dan 50.000 kaki di sisi Sumatra. Laporan itu juga mencatat penutupan delapan bandara dan dampaknya terhadap 1.558 penerbangan serta sekitar 170.000 penumpang. 

Sementara itu, The Guardian menyoroti gangguan terhadap rute internasional menuju dan dari Singapura, Doha, Sydney serta Kuala Lumpur. Sejumlah maskapai melakukan pembatalan atau perubahan jadwal karena risiko abu terhadap pesawat. 

Di titik ini, alasan Anak Krakatau layak ditempatkan dalam kanal Internasional menjadi jelas.

Gunungnya berada di Indonesia. Namun, ruang udara yang terdampak terhubung dengan jaringan penerbangan regional dan global.

Warga Juga Harus Menyesuaikan Aktivitas

Gangguan tidak berhenti di bandara.

BNPB mengimbau masyarakat di wilayah yang terkena sebaran abu untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga juga diminta mengikuti informasi resmi karena arah penyebaran dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer. 

Sekolah di sejumlah wilayah juga melakukan penyesuaian kegiatan belajar. Reuters melaporkan Jakarta dan Lampung menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai bagian dari upaya melindungi siswa dari paparan abu. 

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana dampak sebuah erupsi dapat hadir dalam bentuk yang sangat berbeda.

Bagi penumpang pesawat, dampaknya berupa penerbangan yang tertunda.

Bagi siswa, sekolah dapat berpindah ke rumah.

Bagi pekerja lapangan dan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, udara dan kondisi lingkungan menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan.

Satu fenomena alam, tetapi pengalaman yang berbeda bagi setiap orang.

Bagaimana dengan Ancaman Tsunami?

Nama Anak Krakatau juga membawa ingatan kuat terhadap tsunami 2018.

Pada Desember 2018, longsoran tubuh gunung ke laut berkaitan dengan aktivitas vulkanik Anak Krakatau dan memicu tsunami di pesisir Banten serta Lampung. Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 400 orang.

Kekhawatiran yang sama kembali muncul setelah aktivitas terbaru, tetapi kondisi saat ini perlu dinilai berdasarkan pemantauan terbaru.

BNPB menyatakan tidak ada ancaman tsunami segera akibat aktivitas erupsi saat ini. Masyarakat tetap diminta menjauhi kawasan kawah dan mengikuti informasi resmi. Reuters juga melaporkan bahwa pemerintah tidak mengeluarkan perintah evakuasi akibat erupsi terbaru. 

Artinya, kewaspadaan tetap diperlukan tanpa menciptakan kepanikan yang tidak didukung data.

Sejarah yang Membuat Anak Krakatau Selalu Diperhatikan

Anak Krakatau tumbuh dari kawasan yang memiliki sejarah vulkanik luar biasa.

Letusan Krakatau pada 1883 menjadi salah satu letusan paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah modern. Publikasi Badan Geologi mencatat lebih dari 36.000 orang meninggal akibat rangkaian letusan dan tsunami yang ditimbulkannya. 

Anak Krakatau kemudian muncul dari kawasan kaldera tersebut dan terus mengalami aktivitas vulkanik.

Sejarah itu menjelaskan mengapa nama Anak Krakatau memiliki bobot tersendiri setiap kali muncul dalam pemberitaan. Tetapi sejarah tidak boleh menggantikan data.

Erupsi 2026 perlu dibaca melalui kondisi yang sedang berlangsung: aktivitas gunung, ketinggian abu, arah angin, keadaan ruang udara, kondisi laut dan hasil pemantauan lembaga terkait.

Sebuah Gunung, Banyak Dampak

Ada sesuatu yang menarik dari erupsi kali ini.

Gunungnya berada di laut, tetapi sebagian orang yang terdampak berada jauh dari sana.

Abu bergerak mengikuti angin. Pesawat mengikuti jalur udara. Penumpang mengikuti jadwal perjalanan. Sekolah mengikuti kegiatan belajar.

Semua bertemu pada sesuatu yang tidak terlihat mata: atmosfer.

Di sanalah sebuah peristiwa vulkanik lokal berubah menjadi persoalan yang memiliki dimensi internasional.

Satu letusan dapat membuat penerbangan menuju Singapura atau Sydney berubah jadwal. Penumpang dari negara lain dapat tertahan di Jakarta. Maskapai harus mengatur ulang jaringan penerbangan. Pemerintah harus berkoordinasi dengan berbagai lembaga untuk membaca kondisi ruang udara secara terus-menerus.

Dan bagi masyarakat di daratan, dampaknya hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: mengenakan masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, atau menunggu sekolah kembali normal.

Gunung Anak Krakatau masih menjadi bagian dari lanskap Indonesia, tetapi dampaknya memperlihatkan betapa terhubungnya dunia hari ini.

Sebuah aktivitas vulkanik di Selat Sunda dapat bergerak bersama angin, masuk ke jalur penerbangan, mengubah perjalanan ribuan orang, lalu menjadi perhatian media dari berbagai negara.

Untuk saat ini, status Anak Krakatau masih Level III atau Siaga dan pemantauan terus dilakukan. Abu vulkanik menjadi perhatian utama bagi keselamatan penerbangan dan masyarakat di wilayah terdampak. 

Artikel Terbaru
Sabtu, 17 Okt 2026 23:04 WIB | Bisnis

Shibori, Peluang Usaha Kreatif Anak Muda lewat Olah Kain

Shibori membuka peluang usaha kreatif anak muda lewat motif kain unik, produk fesyen, dan pemanfaatan kain tidak terpakai dengan pendekatan bernilai tambah. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 15:25 WIB | Feature

GMNI Surabaya Raya Asah Nalar Kritis Kader Lewat Jurnalistik

GMNI Surabaya Raya dan RLD melatih 28 kader jurnalistik untuk memperkuat nalar kritis, memverifikasi informasi, dan menyusun kritik berbasis data. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 15:08 WIB | Kabar

Terminal Teluk Lamong Raih Dua Penghargaan Internasional, Petikemas Global Tumbuh 78,69 Persen

Terminal Teluk Lamong meraih dua penghargaan Global Ports Forum Awards 2026 di Singapura. Arus petikemas internasional tumbuh 78,69 persen hingga Agustus ...
Jumat, 16 Okt 2026 21:19 WIB | Feature

Spaghetti Hitam The Alana Hotel Surabaya, Kreasi Seafood Chef Anton untuk Halloween

The Alana Hotel Surabaya menghadirkan spaghetti hitam kreasi Chef Anton dengan tinta cumi, udang, dan cumi di Oryza Restaurant, 20 Oktober–30 November 2026. ...
Jumat, 16 Okt 2026 13:54 WIB | Feature

Menjelajahi Masa Lalu Surabaya Lewat Living Museum di Kokoon Hotel

Menjelajahi masa lalu Surabaya lewat Living Museum Kokoon Hotel, dengan koleksi artefak perkantoran era 1900-an di kawasan Kota Tua. ...
Selasa, 13 Okt 2026 07:35 WIB | Sekitar Kita

Dari Dunia Usaha ke Sengketa Investasi, DPO Pamekasan Ditangkap di Bojonegoro

DPO kasus dugaan investasi di Pamekasan ditangkap di Bojonegoro. Perkara ini menyoroti kepercayaan, transparansi, dan risiko kerja sama investasi. ...