Jejakdanarah.com - Karhutla Indonesia masih menjadi ancaman pada awal Oktober 2026. Jumlah hotspot menurun, namun kondisi panas dan kering membuat risiko kebakaran tetap tinggi, terutama di kawasan gambut.
Kabar tentang turunnya titik panas memang membawa sedikit kelegaan. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menyatakan musim kebakaran telah berakhir.
Dalam laporan yang diterbitkan 5 Oktober 2026, Reuters menyebut Indonesia menghadapi kebakaran hutan paling serius dalam sekitar 11 tahun terakhir. Kementerian Kehutanan melaporkan jumlah hotspot turun hampir 50 persen, tetapi kondisi lahan yang kering masih membuat sejumlah wilayah rentan terbakar kembali.
Ada persoalan lain yang membuat karhutla sulit ditangani.
Lahan gambut dapat menyimpan api di bawah permukaan. Lapisan tanah yang kaya bahan organik bisa terus membara dalam kondisi kering, lalu kembali memunculkan api di permukaan. Hujan memang dapat membantu memadamkannya, tetapi prosesnya tidak selalu cepat.
NASA menjelaskan bahwa kebakaran pada lahan gambut dapat berlangsung di bawah permukaan tanah dan menghasilkan asap dalam waktu lama. Kondisi kering membuat gambut semakin mudah terbakar dan api lebih sulit dipadamkan.
Artinya, jumlah hotspot hanya menggambarkan salah satu bagian dari persoalan.
Data Pantau Gambut menunjukkan bahwa pada periode 1–14 September 2026 terdapat 139.378 titik panas di Indonesia. Sekitar 78 persen titik tersebut berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, sementara lebih dari separuhnya berada di kawasan dengan fungsi perlindungan gambut.
Kondisi tersebut memperlihatkan betapa pentingnya menjaga lahan gambut tetap basah dan sehat.
Menurut data yang dikutip Reuters dari Pantau Gambut, sekitar 16 juta dari 24 juta hektare lahan gambut Indonesia telah menjadi lebih rentan terhadap kebakaran akibat kerusakan ekosistem, termasuk deforestasi dan penurunan muka air tanah.
Kerusakan itu membuat persoalan karhutla memiliki dampak panjang.
Asap sampai ke kehidupan sehari-hari
Karhutla juga membawa persoalan ke ruang yang jauh dari lokasi api.
Asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah lain. Reuters melaporkan kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, sempat mencapai tingkat yang sangat berbahaya dengan indeks polusi lebih dari 1.000. Asap dari kebakaran Indonesia juga berdampak ke Malaysia dan Singapura.
Dampaknya terasa dalam aktivitas sehari-hari.
Sekolah dapat membatasi kegiatan luar ruangan. Warga memilih mengurangi aktivitas di luar rumah. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan menghadapi risiko lebih besar dari paparan udara yang tercemar.
Persoalan lingkungan akhirnya bertemu dengan persoalan kesehatan.
Dampak karhutla juga dirasakan satwa liar. The Guardian melaporkan kebakaran yang berkaitan dengan kondisi El Niño telah mengancam habitat orangutan di sejumlah wilayah Indonesia. Satwa yang terdampak harus menghadapi kehilangan habitat, luka bakar, dehidrasi, dan paparan asap.
Hutan yang terbakar membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk pulih dibandingkan waktu yang diperlukan api untuk menghanguskannya.
Risiko belum selesai
Data pemerintah juga menunjukkan bahwa situasi masih bergerak.
BNPB dalam laporan perkembangan situasi 3 Oktober 2026 mencatat kejadian karhutla di sejumlah daerah, termasuk Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah. Di Bantaeng, Sulawesi Selatan, kebakaran diperkirakan membakar sekitar 25 hektare lahan.
Sementara itu, Kementerian Kehutanan masih melakukan operasi penanganan karhutla di sejumlah wilayah prioritas. Data SiPongi hingga 2 Oktober mencatat 1.271 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional.
Angka hotspot memang dapat berubah dari hari ke hari. Hujan, angin, kelembapan dan upaya pemadaman ikut memengaruhinya.
Namun ada hal yang tidak berubah: lahan yang sudah rusak tetap membutuhkan pemulihan.
Penanganan karhutla juga tidak berhenti pada pemadaman. Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat memiliki peran dalam menjaga tata kelola lahan, mempertahankan tinggi muka air gambut, mencegah pembakaran, serta memulihkan kawasan yang sudah rusak.
Karhutla tahun ini memberi pengingat bahwa penurunan hotspot adalah perkembangan positif, tetapi belum menjadi tanda bahwa ancaman telah hilang.
Api dapat padam dalam hitungan jam atau hari.
Pemulihan hutannya bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Karena itu, pekerjaan paling penting mungkin bukan menunggu musim kebakaran berikutnya datang, melainkan memastikan lahan yang pernah terbakar tidak kembali menjadi titik awal masalah yang sama.
Indonesia membutuhkan hutan yang tetap berdiri, gambut yang tetap basah, dan udara yang bisa dihirup tanpa rasa khawatir.
Sebab keberhasilan menangani karhutla tidak cukup diukur dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah sebelum api muncul.
Editor : Redaksi