Jejakdanarah.com - Gelombang demonstrasi pelajar di Prancis masih berlanjut pada Oktober 2026. Tuntutan perbaikan kondisi sekolah, penambahan tenaga pengajar, dan peningkatan anggaran pendidikan kini disertai sorotan terhadap tindakan aparat dalam menangani aksi massa.
Perhatian publik meningkat setelah seorang remaja berusia 14 tahun bernama Eden mengalami patah rahang dan kerusakan sejumlah gigi akibat terkena granat gas air mata yang ditembakkan dari jarak dekat. Reuters melaporkan pada 10 Oktober 2026 bahwa seorang petugas polisi telah menjalani penyelidikan formal terkait dugaan kekerasan dalam insiden tersebut.
Puluhan Ribu Orang Turun ke Jalan
Demonstrasi kembali berlangsung di berbagai wilayah Prancis pada Kamis, 8 Oktober 2026. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 71.500 orang mengikuti aksi tersebut, termasuk 24.500 orang di Paris. Para pelajar menuntut perbaikan fasilitas sekolah, pemenuhan kebutuhan guru, dan peningkatan dukungan pemerintah terhadap pendidikan publik.
Aksi ini melibatkan pelajar sekolah menengah, mahasiswa, serta sejumlah kelompok pekerja dan organisasi yang menyatakan solidaritas. Beberapa sekolah mengalami gangguan kegiatan belajar akibat blokade dan demonstrasi.
Pemerintah merespons tuntutan tersebut dengan menjanjikan penempatan 3.000 guru tambahan di sekolah-sekolah yang membutuhkan. Menteri Pendidikan Édouard Geffray menyampaikan rencana pengerahan tenaga pengajar itu sebagai bagian dari upaya menjawab kekurangan guru.
Namun, pengumuman tersebut belum sepenuhnya meredakan ketidakpuasan demonstran. Mereka menginginkan langkah konkret untuk memperbaiki kondisi sekolah, termasuk fasilitas yang tidak memadai dan beban belajar yang dinilai perlu dievaluasi.
Menurut laporan Al Jazeera pada 8 Oktober, kelompok mahasiswa dan organisasi terkait juga meminta pertemuan langsung dengan Perdana Menteri Sébastien Lecornu. Aksi lanjutan direncanakan berlangsung pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Remaja 14 Tahun Terluka, Polisi Diselidiki
Kasus Eden menjadi salah satu perkembangan terbaru yang memperbesar sorotan terhadap penanganan demonstrasi. Insiden tersebut terjadi pada 28 September 2026 di Saint-Ouen-l’Aumône, wilayah di utara Paris.
Menurut laporan Reuters yang mengutip keterangan kejaksaan setempat, seorang petugas mendekati Eden dan memukulnya menggunakan tongkat. Remaja itu kemudian merespons dengan menendang petugas tersebut. Seorang petugas lain lantas menembakkan granat gas air mata menggunakan pelontar Cougar hingga mengenai wajah Eden.
Keluarga dan pengacara Eden menyebut remaja tersebut mengalami patah rahang serta kerusakan sejumlah gigi. Keluarga juga mengajukan pengaduan pidana terkait insiden itu.
Petugas yang diduga terlibat telah menjalani penyelidikan formal atas dugaan kekerasan oleh pejabat publik yang menyebabkan cacat permanen atau kerusakan fisik serius. Proses tersebut masih berlangsung, sehingga status penyelidikan tidak dapat diartikan sebagai putusan bersalah.
Reuters juga mendokumentasikan 28 kasus cedera yang berkaitan dengan penggunaan kekuatan polisi selama rangkaian demonstrasi. Insiden yang tercatat meliputi cedera akibat peluru karet, granat kejut, gas air mata, dan tongkat. Sejumlah dugaan pelanggaran aparat sedang diperiksa oleh Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional Prancis atau IGPN.
Organisasi hak asasi manusia dan sejumlah politikus menyerukan pembatasan penggunaan senjata yang berisiko menyebabkan cedera serius. Sementara itu, perwakilan serikat polisi berpendapat bahwa petugas membutuhkan peralatan tertentu untuk menghadapi demonstrasi yang berubah menjadi kekerasan.
Pendidikan Layak dan Perlindungan Pelajar
Gelombang protes di Prancis memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan tidak berhenti pada jumlah guru atau kondisi bangunan sekolah. Ketersediaan fasilitas, pemerataan sumber daya, dan kemampuan pemerintah merespons kebutuhan peserta didik turut menentukan kualitas pengalaman belajar.
Penambahan 3.000 guru menjadi salah satu langkah yang diumumkan pemerintah. Namun, efektivitas kebijakan tersebut akan bergantung pada pelaksanaannya serta sejauh mana kebutuhan sekolah benar-benar terpenuhi.
Di sisi lain, keselamatan pelajar selama demonstrasi juga menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian. Cedera serius pada usia sekolah dapat memengaruhi proses pemulihan, kegiatan belajar, dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, penyelidikan terhadap tindakan aparat perlu berjalan secara transparan dengan mempertimbangkan bukti dan keterangan dari pihak-pihak yang terlibat.
Pemerintah Prancis menghadapi dua tantangan yang saling berkaitan, yakni menjawab tuntutan perbaikan pendidikan dan memastikan penanganan demonstrasi berlangsung secara proporsional. Pemenuhan kebutuhan sekolah perlu disertai perlindungan terhadap hak pelajar untuk menyampaikan aspirasi secara aman.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kepercayaan generasi muda terhadap institusi publik turut dipengaruhi oleh cara pemerintah mendengar dan merespons persoalan mereka. Penyelesaian yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar janji kebijakan, melainkan langkah nyata yang dapat dirasakan di lingkungan sekolah.
Editor : Redaksi