x jejakdanarah.com skyscraper
x jejakdanarah.com skyscraper

Kaya Rasa di Surabaya, Upaya Menjaga Warisan Kuliner Nusantara di Tengah Tren Modern

Avatar Redaksi

Lifestyle

Jejakdanarah.com – Ketika dunia kuliner bergerak semakin cepat mengikuti tren, ada satu pertanyaan yang tetap relevan: bagaimana makanan tradisional dapat terus hidup tanpa kehilangan jati dirinya?

Pertanyaan tersebut terasa hadir dalam program Kaya Rasa: Legenda Rasa Nusantara yang digelar Djaman Doeloe Resto Surabaya, Four Points by Sheraton Surabaya, Pakuwon Indah pada 18–19 Juni 2026. Berkolaborasi dengan Aussie Beef & Lamb Indonesia dan menghadirkan Chef Freddie Salim, kegiatan ini mempertemukan ragam kuliner Nusantara dalam sebuah pengalaman bersantap yang mengangkat tradisi sekaligus membuka ruang bagi inovasi.

Bagi sebagian orang, makanan mungkin hanya bagian dari kebutuhan sehari-hari. Namun bagi sebuah bangsa, makanan juga merupakan arsip budaya yang hidup. Di dalamnya tersimpan jejak perjalanan sejarah, kebiasaan masyarakat, hingga cara sebuah daerah membangun identitasnya dari generasi ke generasi.

Melalui program Kaya Rasa, Djaman Doeloe Resto Surabaya berupaya menghadirkan kembali kekayaan tersebut ke hadapan publik. Acara dibuka oleh Multi-Property General Manager The Westin Surabaya dan Four Points by Sheraton Surabaya, Pakuwon Indah, Denny Ristyanto, yang menegaskan bahwa Djaman Doeloe ingin menjadi rumah bagi jejak rasa dan warisan kuliner Nusantara.

Pernyataan itu terasa menarik di tengah situasi ketika banyak hidangan tradisional mulai bersaing dengan beragam pilihan makanan global yang hadir semakin dekat melalui media sosial maupun layanan digital. Tantangannya bukan lagi mempertahankan resep, melainkan memastikan cerita di balik resep tersebut tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Chef Freddie Salim menghadirkan dua hidangan yang menjadi sorotan utama, yakni Soto Tangkar khas Betawi dan Sate Rembiga khas Lombok. Keduanya menggunakan Australian Grain Fed Rump Cap yang dipadukan dengan racikan rempah khas Indonesia.

Chef Freddie menjelaskan bahwa Soto Tangkar dipilih karena merupakan salah satu kuliner ikonik Jakarta yang dekat dengan latar belakang dirinya. Sementara Sate Rembiga dihadirkan untuk menunjukkan bahwa tradisi sate Indonesia jauh lebih beragam daripada yang selama ini banyak dikenal masyarakat.

Dalam banyak kesempatan, kuliner kerap dipandang sebagai bagian dari industri pariwisata atau gaya hidup. Padahal, di balik setiap resep terdapat pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Bumbu, teknik memasak, hingga cara penyajian tidak lahir dalam semalam, melainkan terbentuk dari pengalaman panjang sebuah masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan, tradisi, dan zamannya.

Karena itu, ketika sebuah hidangan tetap bertahan hingga hari ini, yang sesungguhnya sedang dipertahankan bukan hanya rasa. Ada cerita, nilai, dan cara pandang hidup yang ikut diwariskan. Kuliner menjadi salah satu medium yang memungkinkan masyarakat mengenali kembali akar budayanya, bahkan ketika dunia di sekitarnya terus berubah.

Pilihan tersebut mengingatkan bahwa Indonesia tidak pernah memiliki satu wajah kuliner yang tunggal. Setiap daerah memiliki cerita, bahan, dan teknik memasak yang berkembang sesuai lingkungan serta budaya masing-masing. Keragaman itulah yang membuat kuliner Nusantara selalu memiliki ruang untuk dieksplorasi tanpa kehilangan akarnya.

Selain dua menu dari Chef Freddie, Chef Judi Kristianto, Head Chef Four Points by Sheraton Surabaya, Pakuwon Indah, memperkenalkan Bebek Mepanggang Base Wangenan khas Bali. Hidangan ini memadukan bebek yang dimasak perlahan dengan kekayaan rempah tradisional Bali, disajikan bersama nasi jeruk hangat, daun singkong, dan sambal matah.

Menariknya, seluruh menu yang dihadirkan malam itu menggunakan bahan premium tanpa meninggalkan karakter asli hidangan yang menjadi inspirasinya. Di sinilah muncul satu pertanyaan lain yang cukup relevan: apakah tradisi harus selalu hadir dalam bentuk yang sama seperti masa lalu?

Barangkali tidak.

Sejarah kuliner menunjukkan bahwa banyak makanan yang kini dianggap tradisional justru lahir dari proses perjumpaan berbagai budaya, bahan baku, dan pengaruh zaman. Kemampuan beradaptasi sering kali menjadi alasan mengapa sebuah tradisi mampu bertahan lebih lama dibandingkan yang hanya berusaha mempertahankan bentuk lamanya.

Kaya Rasa tampaknya mencoba berjalan di jalur tersebut. Tradisi tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang dibekukan dalam waktu, melainkan sebagai warisan yang terus berdialog dengan perubahan. Bahan boleh berkembang, teknik boleh menyesuaikan, tetapi identitas rasa dan cerita yang menyertainya tetap dijaga.

Bagi masyarakat yang ingin merasakan pengalaman tersebut, tiga menu unggulan hasil kolaborasi Chef Freddie Salim dan Chef Judi Kristianto masih dapat dinikmati dalam program buffet reguler Legenda Rasa Nusantara hingga 30 Juli 2026. Menu-menu tersebut dihadirkan dalam korner khusus di Djaman Doeloe Resto Surabaya sebagai kelanjutan dari program Kaya Rasa.

Program Legenda Rasa Nusantara tersedia setiap Kamis hingga Sabtu untuk makan malam serta Minggu untuk makan siang dengan harga mulai Rp308.000++ per orang. Pengunjung juga dapat memanfaatkan sejumlah penawaran yang tersedia, termasuk program Buy 1 Get 1 pada hari Kamis serta Beli 2 Gratis 1 untuk periode Jumat hingga Minggu.

Namun pada akhirnya, yang membuat sebuah hidangan bertahan bukan semata karena rasanya enak atau bagaimana ia disajikan. Ada cerita yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, hidup dalam resep, tradisi keluarga, dan pengalaman yang diwariskan dari waktu ke waktu.

Di tengah perubahan yang terus berlangsung, kuliner Nusantara mengajarkan bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan di ruang pamer atau buku sejarah. Ia juga hidup di meja makan, dalam aroma rempah yang akrab, dan dalam upaya berbagai pihak untuk memastikan jejak rasa itu tetap dikenang.

Mungkin itulah makna yang paling terasa dari Kaya Rasa. Bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan, melainkan menemukan cara agar akar budaya tetap tumbuh di tanah yang berbeda. Sebab selama masih ada yang memasak, menceritakan, dan memperkenalkannya kepada generasi baru, warisan kuliner Nusantara akan terus memiliki jejak untuk dikenang dan arah untuk dituju.

Artikel Terbaru
Rabu, 17 Jun 2026 15:38 WIB | Cermin Peristiwa

Polemik Penghapusan Berita Jadi Pengingat Pentingnya Dialog dalam Ekosistem Informasi Digital

RLD mengapresiasi permohonan maaf PT Siber Shop Teknologi Indonesia terkait polemik penghapusan berita dan mengajak semua pihak memperkuat di ...
Rabu, 13 Mei 2026 18:28 WIB | Hidup & Makna

Ketika Kasus Chromebook dan Nadiem Membuat Generasi Kita Kembali Bertanya Soal Pendidikan

Kasus Chromebook dan nama Nadiem Makarim kembali memunculkan pertanyaan tentang digitalisasi pendidikan. ...
Senin, 11 Mei 2026 09:14 WIB | Refleksi Redaksi

Kita Tidak Gagal, Hanya Terlalu Sibuk Membandingkan Hidup

Media sosial membuat banyak orang diam-diam merasa tertinggal. comparison culture, quarter life crisis, burnout, dan kehilangan rasa cukup di era digital. ...
Jumat, 08 Mei 2026 10:05 WIB | Hidup & Makna

Lilin-Lilin Kecil Itu Bernama Manusia

Kepergian James F. Sundah membuat banyak orang kembali mengingat lagu Lilin-Lilin Kecil. Refleksi tentang manusia biasa, rasa tertinggal, dan cahaya-cahaya keci ...
Kamis, 07 Mei 2026 15:37 WIB | Cermin Peristiwa

Pembunuhan Lansia di Pekanbaru dan Rumah yang Perlahan Kehilangan Hangatnya

Kasus pembunuhan lansia di Pekanbaru bukan hanya tentang kriminalitas keluarga, tetapi juga refleksi tentang kesepian, hubungan manusia yang rapuh. ...
Sabtu, 11 Apr 2026 12:55 WIB | Refleksi Redaksi

Quit Playing Games with My Heart

Ilustrasi seorang wanita berjalan dengan penuh keyakinan mengambil keputusan keluar dari lingkungan kerja toxic dan pentingnya menjaga kesehatan mental. ...