Sore itu, aku duduk cukup lama sambil scrolling media sosial tanpa tujuan jelas.
Awalnya terasa seperti biasa saja. Sampai perlahan muncul perasaan aneh yang menurutku sulit dijelaskan.
Di sela scrolling itu, ada teman yang baru membeli rumah.
Ada yang membagikan pencapaian kariernya.
Ada yang terlihat bahagia bersama pasangannya.
Ada juga yang hidupnya tampak berjalan begitu mulus.
Satu per satu kutonton kontennya sampai habis.
Dan tanpa sadar, setelah melihat semua itu, aku malah mulai mempertanyakan hidup sendiri.
“Kenapa semua orang terlihat sudah jauh berjalan?”
Mungkin terdengar berlebihan. Tapi rasanya banyak orang pernah mengalami hal seperti itu.
Cukup beberapa menit membuka media sosial, lalu tiba-tiba hidup sendiri terasa kurang berhasil.
Menurut tren pencarian di Google Trends Indonesia, topik tentang burnout, quarter life crisis, produktivitas, hingga tekanan hidup modern terus ramai dicari belakangan ini.
Dan mungkin, salah satu penyebabnya adalah karena media sosial perlahan membuat hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.
Ketika Hidup Orang Lain Terlihat Lebih Cepat
Dulu, manusia mungkin hanya membandingkan dirinya dengan lingkungan terdekat.
Termasuk aku.
Ya, benar. Aku melihat pencapaian mereka seperti begitu mudah diraih.
Tetangga.
Teman sekolah.
Saudara sendiri.
Dan tanpa sadar, dalam hati aku mulai berpikir:
“Kok aku stuck ya? Gini-gini saja.”
Media sosial membuat seseorang bisa membandingkan hidupnya dengan ribuan orang dalam satu hari.
Dan anehnya, semakin sering melihat kehidupan orang lain, semakin sulit banyak manusia merasa cukup dengan hidupnya sendiri.
Melihat seseorang yang berhasil membangun bisnis di usia muda, lalu mulai mempertanyakan arah hidup kita sendiri.
Melihat teman lama yang terlihat mapan, lalu diam-diam merasa tertinggal.
Melihat pasangan yang tampak bahagia, lalu mulai merasa hidup kita kurang sempurna.
Yang tidak kita sadari, kadang yang terlihat di media sosial sering kali hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang.
Kita melihat hasil akhirnya.
Bukan proses panjangnya.
Kita melihat senyumnya.
Tapi jarang melihat kecemasannya.
Kita melihat pencapaiannya.
Atau malam-malam ketika mereka hampir menyerah.
Kita tidak melihat bagian hidup yang tidak sempat direkam.
Dan lucunya, otak manusia sering lupa membedakan itu.
Akhirnya, media sosial perlahan berubah menjadi panggung besar tempat semua orang berusaha terlihat berhasil.
Quarter Life Crisis dan Tekanan untuk “Jadi Seseorang”
Hari ini, quarter life crisis menjadi istilah yang semakin dekat dengan kehidupan banyak anak muda.
Ada tekanan untuk cepat sukses.
Tekanan untuk punya arah hidup yang jelas.
Tekanan untuk terlihat produktif setiap saat.
Dan media sosial memperbesar semua tekanan itu.
Setiap hari kita melihat orang lain mencapai sesuatu. Sementara hidup kita sendiri mungkin masih berjalan pelan dan penuh kebingungan.
Ada orang yang sebelum usia 30 sudah punya rumah, karier stabil, bahkan bisnis sendiri.
“Wow.”
Sementara sebagian lainnya masih berusaha bertahan dari tagihan bulanan, pekerjaan yang melelahkan, atau mimpi-mimpi yang belum menemukan jalannya.
Dan karena terlalu sering melihat pencapaian orang lain, banyak manusia mulai merasa hidupnya gagal hanya karena tidak berjalan secepat timeline media sosial.
Padahal semakin ke sini aku mulai sadar, hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai. Karena bahkan manusia pun sering tidak benar-benar tahu sedang berlomba ke mana.
Tidak semua orang punya garis start yang sama.
Tidak semua orang tumbuh dalam keadaan yang sama.
Tidak semua orang membawa beban hidup yang sama.
Tetapi media sosial sering membuat semua kehidupan terlihat setara untuk dibandingkan.
Semua Orang Terlihat Baik-Baik Saja
Salah satu hal paling melelahkan dari media sosial adalah: semua orang terlihat baik-baik saja.
Orang-orang tetap tersenyum di foto.
Tetap terlihat produktif.
Tetap tampak kuat.
Padahal di balik layar, banyak manusia sebenarnya sedang kelelahan.
Ada yang burnout karena pekerjaan.
Ada yang cemas soal masa depan.
Ada yang diam-diam kehilangan arah hidupnya.
Ada yang bahkan sedang berusaha bertahan agar tidak menyerah pada hidup.
Namun dunia digital jarang memberi ruang untuk menunjukkan sisi rapuh itu.
Karena hari ini, manusia sering merasa harus terlihat berhasil agar dianggap bernilai.
Dan mungkin itu sebabnya banyak orang modern lelah bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional.
Mereka terus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar mereka pahami.
Harus sukses sebelum usia tertentu.
Harus punya pencapaian besar.
Harus terlihat berkembang setiap waktu.
Sampai akhirnya lupa bertanya:
“Hidup yang aku kejar ini, apakah benar-benar aku inginkan?”
Media Sosial dan Rasa Takut Tertinggal
Mungkin salah satu emosi paling umum hari ini adalah fear of missing out atau FOMO.
Rasa takut tertinggal itu bukan hanya dirasakan generasi muda di kota-kota besar atau kehidupan urban yang serba cepat.
Banyak generasi milenial pun diam-diam hidup dalam kecemasan yang sama.
Takut kalah cepat.
Takut hidup kita biasa-biasa saja.
Dan hebatnya, rasa takut itu terus dipelihara oleh media sosial.
Karena setiap hari kita melihat orang lain bergerak, sementara kita sendiri mungkin sedang diam untuk sekadar bertahan hidup.
Kenyataannya, hidup manusia memang tidak selalu bergerak lurus ke atas.
Ada fase bingung.
Ada fase merasa gagal.
Ada fase tidak bisa menentukan arah atau bahkan kehilangan arah.
Ada fase ketika seseorang hanya mencoba tetap kuat menjalani harinya.
Dan semua itu bukan tanda bahwa hidupnya buruk.
Itu hanya tanda bahwa ia manusia.
Hidup Tidak Harus Selalu Terlihat Hebat
Dan yang paling melelahkan dari media sosial ternyata bukan hanya tentang banyaknya informasi yang kita lihat setiap hari.
Tetapi tentang bagaimana ia perlahan membuat manusia merasa hidupnya selalu kurang.
Kurang cepat.
Kurang sukses.
Kurang bahagia.
Kurang menjadi seseorang.
Padahal bisa jadi, kita tidak benar-benar gagal.
Kita hanya terlalu sering melihat hidup orang lain, sampai lupa menikmati hidup sendiri.
Semakin dewasa, aku mulai sadar bahwa tidak semua orang harus punya hidup yang terlihat hebat untuk bisa merasa cukup.
Ada orang yang hidupnya sederhana, tapi tenang.
Ada yang jalannya lambat, tapi akhirnya sampai.
Ada yang tidak terlihat sukses di media sosial, tetapi diam-diam berhasil melewati banyak hal yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Dan mungkin, itu juga bentuk keberhasilan yang sering tidak dihitung dunia hari ini.
Karena hidup bukan hanya tentang siapa yang paling cepat terlihat berhasil.
Kadang hidup hanya tentang siapa yang masih bisa berjalan tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Di tengah dunia yang terus meminta manusia untuk berlari lebih cepat, berhenti sejenak, berhenti membandingkan hidup, lalu belajar menerima ritme hidup sendiri… rasanya juga sebuah bentuk keberanian.
Editor : Redaksi