Pagi ini, seperti biasa… aku bangun kesiangan.
06.45. Angka itu menyala di layar handphone-ku.
Toddler-ku masih terlelap di sampingku, napasnya tenang, wajahnya damai.
Hanya ada kami berdua di kasur itu.
Aku tahu, suamiku pasti sudah bangun sejak jam 5 pagi.
Dan seperti biasa, putri kecilku yang berusia 5 tahun sudah lebih dulu memulai harinya.
Ia bahkan sudah terbiasa tidur di kamarnya sendiri sejak adiknya lahir dua tahun lalu.
Aku menarik napas pelan.
Aku paham kebiasaan ini, kalau aku tidur lewat jam 10 malam, pagi akan selalu terasa berat.
Dan suamiku… sudah lama berhenti membangunkanku sejak aku tidak lagi bekerja di kantor.
Ketika aku benar-benar bangun, semuanya sudah rapi.
Sarapan sudah tersedia.
Sederhana, tapi penuh perhatian.
Telur mata sapi, kesukaanku dan anak-anak.
Tempe tepung, favorit suamiku.
Dan nasi hangat yang sudah siap di meja.
Aku berjalan ke kamar mandi.
Cuci muka. Sikat gigi.
Rutinitas kecil yang terasa otomatis.
Lalu aku duduk di sofa.
Dan seperti biasa… aku termenung.
Pikiranku mulai berjalan ke mana-mana.
Hari ini mau ngapain ya?
Anak-anak makan siang apa?
Mau ajak mereka ke mana?
Hal-hal sederhana, tapi selalu memenuhi kepala.
Namun pagi ini… ada yang berbeda.
Aku berhenti sejenak.
Aku melihat ke arah meja makan.
Suamiku dan putri kecilku sedang makan bersama.
Putriku bercerita tanpa jeda, tentang apa saja yang muncul di pikirannya.
Bertanya ini-itu.
Kadang tidak masuk akal, kadang lucu, kadang membuatku tersenyum sendiri.
Dan suamiku… mendengarkan.
Dengan sabar.
Dengan penuh perhatian.
Tanpa terlihat terganggu sedikit pun.
Padahal aku tahu, dulu, sebelum kami punya anak, dia bukan tipe yang suka “diganggu”.
Aku tersenyum kecil.
Cerewetnya anakku… persis sekali seperti ibu mertuaku.
Tapi karena masih kecil, semua itu terasa menggemaskan.
Dan entah kenapa… pemandangan sederhana itu terasa begitu hangat.
Begitu utuh.
Begitu… penuh cinta.
Dan tanpa aku sadari, aku teringat papa.
Papa yang sekarang sudah pulang.
Sudah berbahagia bersama-Nya.
Lima bulan lalu, papa pergi.
Semuanya terasa cepat.
Terlalu cepat.
Dadaku tiba-tiba terasa sakit.
Sesak.
Kami tidak pernah benar-benar siap…
karena dalam waktu yang begitu singkat,
papa harus pergi.
Sebulan sebelum ulang tahunku yang ke-41.
Dan setelah itu…
Hidup seperti berhenti.
Sebulan pertama setelah papa pergi,
air mataku seperti tidak mengenal waktu.
Bangun tidur, menangis.
Melihat foto, menangis.
Mendengar cerita tentang papa, menangis.
Bahkan saat sedang diam… tiba-tiba air mata itu jatuh begitu saja.
Aku kehilangan sekali.
Benar-benar kehilangan.
Seperti ada bagian dari diriku yang ikut pergi bersama papa.
Aku menjalani hari… tapi rasanya kosong.
Aku ada… tapi tidak benar-benar hadir.
Bahkan sampai hari ini,
perasaan itu belum sepenuhnya hilang.
Berat rasanya langkah kaki ini.
Ada hari-hari di mana semuanya terasa normal.
Aku bisa tertawa, bercanda dengan anak-anak, menjalani aktivitas seperti biasa.
Tapi ada juga hari-hari…
di mana rasa itu datang lagi tanpa permisi.
Tiba-tiba.
Diam-diam.
Dan dalam.
Karena bagaimanapun…
aku tetap anak kecilnya papa.
Selalu.
Bahkan setelah aku punya anak pun,
aku tetap dipanggil dengan nama kesayangan yang hanya papa yang boleh gunakan.
Tidak ada yang bisa menggantikan itu.
“Pah… di sana lagi ngapain?
Papa bahagia ya?
Kenapa sejak papa pergi, papa tidak pernah datang ke mimpiku?”
Napas ini terasa berat.
Seperti ada ruang kosong yang tidak bisa diisi apa pun.
Tapi pagi ini…
Di tengah pemandangan kecil itu,
seorang ayah yang mendengarkan anaknya,
seorang anak yang bercerita tanpa takut,
dan kehangatan yang terasa begitu tulus,
Aku seperti diingatkan sesuatu.
Bahwa cinta itu… tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berpindah bentuk.
Mungkin dulu aku merasakannya sebagai anak.
Sekarang aku melihatnya sebagai seorang ibu.
Dan di antara keduanya…
aku belajar memahami.
Kepergian papa ternyata mengubah banyak hal dalam hidupku.
Termasuk keputusan besar: meninggalkan pekerjaanku.
Dulu, aku pikir hidup adalah tentang mengejar.
Target.
Pencapaian.
Pengakuan.
Seolah kalau aku berhenti sebentar saja, aku akan tertinggal.
Tapi kehilangan… memaksaku berhenti.
Memaksaku melihat.
Memaksaku merasakan.
Bahwa waktu tidak bisa ditunda.
Bahwa kebersamaan tidak bisa diulang.
Dan bahwa orang yang kita cintai… tidak selalu punya waktu yang panjang bersama kita.
Sekarang…
Waktu terasa berbeda.
Hal-hal kecil yang dulu terlihat biasa,
justru sekarang terasa paling berharga.
Seperti pagi ini.
Sarapan sederhana.
Obrolan tanpa arah.
Kehadiran yang utuh.
Aku mulai sadar…
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk,
sampai lupa benar-benar melihat.
Lupa benar-benar hadir.
Dan mungkin…
Papa tidak pernah benar-benar pergi untuk menghilang,
tapi untuk mengajarkanku melihat hidup dengan cara yang baru.
Refleksi
Kehilangan tidak pernah benar-benar mudah.
Dan mungkin, tidak pernah benar-benar selesai.
Ada bagian dari hati kita yang akan selalu terasa kosong.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena kekosongan itu… adalah bukti bahwa kita pernah mencintai dengan sungguh.
Hari ini aku belajar, pelan-pelan:
Bahwa berduka bukan berarti lemah.
Bahwa menangis bukan berarti tidak ikhlas.
Dan bahwa rindu tidak selalu harus disembuhkan.
Ada rindu yang memang hanya bisa ditemani.
Aku juga belajar…
Bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah,
tapi tentang siapa yang kita genggam selama perjalanan itu.
Bahwa kehadiran jauh lebih berharga daripada kesempurnaan.
Dan bahwa cinta… seringkali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Orang yang kita cintai mungkin sudah tidak ada di sisi kita.
Tapi cintanya tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tinggal,
di cara kita mencintai anak-anak kita,
di cara kita memperlakukan keluarga kita,
dan di cara kita memaknai hidup dengan lebih dalam.
Dan mungkin…
Selama kita masih bisa merasakan itu,
selama kita masih bisa mencintai dengan cara yang sama.
Kita tidak pernah benar-benar kehilangan.
Editor : Redaksi