x jejakdanarah.com skyscraper
x jejakdanarah.com skyscraper

Quit Playing Games with My Heart

Avatar Redaksi

Karier & Finansial

“Quit playing games with my heart.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti lagu pagi itu.
Ia terdengar seperti sesuatu yang sudah terlalu lama kuabaikan.

Dan yang aneh, ini tidak ada hubungannya dengan cinta.


Pagi itu, Istara FM 101.1, radio dengan hits 90–2000an yang setia menemani pagiku, mengalun seperti biasa dari laptop yang selalu kuandalkan untuk memulai hari.

Tidak ada yang terasa berbeda, semuanya berjalan dalam rutinitas yang sudah terlalu akrab.

Sampai satu potongan lirik dari lagu Quit Playing Games (With My Heart) milik Backstreet Boys lewat begitu saja.

“Quit playing games with my heart.”

Seharusnya itu hanya lagu lama.
Sesuatu yang lewat, lalu hilang seperti pagi-pagi sebelumnya.

Tapi kali ini, aku berhenti sejenak.

Yang kurasakan, kalimat itu tidak terasa seperti lirik.
Ia terdengar seperti sesuatu yang sudah lama kurasakan,
hanya saja, baru kali ini aku benar-benar mendengarnya.

Aku tidak lagi berada di dunia korporasi hari ini.

Sebuah dunia yang terstruktur dan berjalan dalam sistem yang rapi.
Namun di balik itu, ada dinamika yang tidak selalu tertulis,
tentang bagaimana penerimaan dan penolakan bisa terasa, meski tidak pernah benar-benar diucapkan.

Tidak mampu bertahan?

Rasanya terlalu sederhana jika aku menyebutnya seperti itu.

Bukan karena ketidakmampuan,
tapi karena pada satu titik, dimana, saat ini, aku memilih untuk tidak melakukannya.

Keputusan itu tidak datang dari satu momen besar.
Ia tidak lahir dari satu kejadian yang langsung mengubah segalanya.

Tidak ada kejadian dramatis yang bisa dengan mudah dijadikan alasan.

Semuanya terlihat berjalan seperti biasa.

Dan justru karena itulah, butuh waktu lebih lama untuk benar-benar melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Aku..

pernah berada di fase di mana aku percaya bahwa selama semuanya masih berjalan, berarti semuanya baik-baik saja.

Datang 30 menit sebelum waktu bekerja, fokus bekerja,

menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.


Berusaha menjadi profesional,

berusaha memahami, berusaha menyesuaikan diri.

Dari luar, tidak ada yang terlihat salah.

Tapi di dalam, ada sesuatu yang pelan-pelan berubah.


Lingkungan kerja tidak selalu menunjukkan wajahnya secara jelas.

Kadang, ia hadir dalam bentuk yang lebih halus.

Dalam dinamika sosial yang terasa tidak sepenuhnya sehat,

di mana komunikasi tidak pernah benar-benar jelas,

ekspektasi sering berubah tanpa arah, dan ruang untuk berbicara terasa ada, tapi tidak benar-benar aman.


Dalam sistem kerja yang membuat kita terus menyesuaikan diri,

tanpa benar-benar tahu apakah kita sedang berkembang atau hanya bertahan.

Dan dalam pola kepemimpinan atau manajemen yang, tanpa disadari, menciptakan tekanan yang tidak selalu terlihat, tapi terasa.


Bukan tekanan untuk bertumbuh,
melainkan tekanan untuk terus menyesuaikan diri.


Ada satu hal yang baru saya pahami setelah mengambil jarak,

tidak semua lingkungan yang tidak sehat terlihat jelas sebagai “toxic”.

Tidak selalu ada konflik besar.
Tidak selalu ada perlakuan yang bisa langsung disebut salah.


Justru seringkali, semuanya berjalan cukup “baik” untuk membuat kita bertahan.

Cukup nyaman untuk tidak pergi,
tapi tidak cukup sehat untuk benar-benar tumbuh.


Dan disitulah letaknya.

Lingkungan seperti ini tidak memaksa kita keluar,
tapi juga tidak benar-benar membuat kita berkembang.

Ia membuat kita bertahan…
tanpa pernah benar-benar merasa utuh.


Aku masih berada di dalamnya,

dan tidak langsung menyebutnya sebagai toxic work environment.


Istilah itu terasa terlalu besar.

Aku menyebutnya sebagai proses.
Sebagai fase belajar.
Sebagai bagian dari perjalanan.

Dan aku bertahan dengan pemahaman itu cukup lama.


Sampai suatu titik, aku mulai menyadari bahwa yang melelahkan bukanlah pekerjaannya.

Bukan targetnya.
Bukan tanggung jawabnya.


Melainkan bagaimana aku merasa setiap harinya.

Ada rasa yang sulit dijelaskan, campuran antara ragu,

lelah, dan terus mempertanyakan diri sendiri.

Hal-hal kecil mulai terasa lebih berat.
Keputusan sederhana terasa lebih kompleks.
Dan tanpa sadar, aku mulai kehilangan kejelasan tentang diriku sendiri.


Aku mulai bertanya, tapi bukan tentang pekerjaan.

Aku bertanya pada diri saya sendiri.

Kenapa aku merasa seperti ini?
Kenapa aku harus terus meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja?
Kenapa aku mulai merasa tidak nyaman menjadi diriku sendiri?


Jawabannya tidak datang sekaligus.

Ia datang pelan-pelan.


Dari hari-hari yang terasa sama, tapi meninggalkan rasa yang berbeda.

Dari momen-momen kecil yang sebelumnya terabaikan, tapi ternyata terus berulang.

Sampai aku menyadari satu hal:

Ini bukan lagi tentang pekerjaan.

Tapi ini tentang lingkungan.


Tentang bagaimana sebuah work environment,

baik dari sisi segala arah sosial lingkungan bekerja,

Dari level apapun,

bisa membentuk cara kita melihat diri sendiri, tanpa kita sadari.


Aku tidak melihatnya sebagai sesuatu yang harus disalahkan.

Setiap tempat punya dinamika.
Setiap sistem punya cara kerja.

Tapi aku mulai memahami bahwa tidak semua lingkungan selaras denganku,

Ataupun sebaliknya.

Dan yang lebih penting buatku dan dari sudut pandangku,

tidak semua lingkungan sehat untuk aku tinggali terlalu lama.


Keputusan untuk pergi tidak datang dengan emosi yang meledak-ledak.

Tidak ada kemarahan.
Tidak ada dorongan untuk melawan.

Yang ada justru kejelasan.

Kejelasan yang datang setelah cukup lama mendengarkan hal-hal kecil yang sebelumnya kuabaikan.


Aku memilih untuk pergi.

Bukan sebagai bentuk penolakan terhadap sesuatu,
tapi sebagai bentuk penerimaan terhadap diriku sendiri.


Bahwa ada batas yang perlu dijaga.
Bahwa ada ruang yang tidak lagi sehat untuk ditempati.
Dan bahwa bertahan juga membutuhkan alasan yang sehat.


Setelah aku keluar, banyak hal mulai terlihat lebih jelas.

Hal-hal yang dulu terasa biasa, ternyata menyimpan banyak sinyal yang tidak kusadari.


Ini bukan karena ketidaktahuan,
tapi karena aku belum siap untuk benar-benar melihatnya.

Dan mungkin, itu memang bagian dari proses.


Hari ini, ketika aku melihat ke belakang, aku tidak melihat keputusan itu sebagai penyesalan.

Aku melihatnya sebagai bagian dari perjalanan memahami diri sendiri.

Perjalanan yang mengajarkan saya bahwa menjaga diri, 

termasuk kesehatan mental, bukan sesuatu yang bisa ditunda.

Bahwa rasa tidak nyaman yang terus berulang bukan sesuatu yang harus dinormalisasi.


Dan bahwa memilih diri sendiri bukanlah keputusan yang egois.


“Quit playing games with my heart” akhirnya berubah makna.


Bukan lagi tentang seseorang.
Bukan tentang situasi tertentu.

Tapi saat ini tentang diriku sendiri.

Tentang keputusan untuk berhenti mengabaikan apa yang aku yang sebenarnya benar-benar sudah aku rasakan.
Tentang keberanian untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang tidak lagi selaras.


Hari ini, aku tidak lagi berada di tempat itu.

Dan bukan berarti semuanya menjadi lebih mudah.

Tapi ada satu hal yang berubah,

aku tidak lagi harus meyakinkan diriku setiap hari bahwa semuanya baik-baik saja.


Mungkin, pada akhirnya, ini bukan tentang meninggalkan pekerjaan.

Tapi tentang kembali.

Kembali ke diri sendiri,
dengan lebih jujur, lebih sadar, dan lebih utuh.


Jejak & Arah
Pada akhirnya, mungkin arah tidak selalu datang dari apa yang kita pilih untuk tetap jalani.

Kadang, ia justru muncul dari keputusan yang tidak mudah,
keputusan untuk berhenti,
untuk mengambil jarak,
dan untuk jujur pada diri sendiri.

Karena ada hal-hal yang tidak perlu dipertahankan terlalu lama,
bukan karena tidak berharga,
tapi karena sudah tidak lagi selaras.

Dan mungkin, di situlah semuanya mulai terasa lebih jelas.

Kadang, arah tidak datang dari apa yang kita pertahankan.
Tapi dari apa yang akhirnya kita berani lepaskan.

Artikel Terbaru
Selasa, 07 Apr 2026 16:27 WIB | Refleksi Diri

Antara Bertahan atau Mengubah Hidup?

Dilema di usia 40: bertahan atau mengubah hidup. Sebuah perjalanan batin menuju makna, kejujuran diri, dan belajar berserah kepada Tuhan. ...
Kamis, 02 Apr 2026 12:23 WIB | Identitas & Pertumbuhan

RINDU yang Tidak Pernah Selesai Episode 4: Perempuan Ini

Di antara sunyi, hujan, dan chat dengan seseorang dari masa lalunya, Rindu mulai menemukan kembali dirinya, dan mempertanyakan hidup yang selama ini ia jalani. ...
Kamis, 02 Apr 2026 12:09 WIB | Relasi & Emosi

COME UNDONE

Refleksi tentang perasaan perempuan dalam hubungan yang perlahan berubah. Tentang “come undone”, kehilangan arah, dan perjalanan kembali menemukan diri sendiri. ...
Kamis, 02 Apr 2026 12:04 WIB | Relasi & Emosi

Cara Kami Berbeda. Cinta Kami Tidak. Jadi, Kenapa Jadi Sulit?

Kisah reflektif tentang pernikahan beda agama di Indonesia, tentang cinta, perbedaan, dan bagaimana sistem sering membuatnya terasa rumit. ...
Selasa, 31 Mar 2026 18:41 WIB | Karier & Finansial

Kalau Semua Dilepas, Aku Ini Siapa?

Refleksi mendalam tentang siapa diri kita tanpa jabatan, karier, dan pencapaian. Perjalanan memahami identitas, arah hidup, dan makna yang sering terlewat. ...
Jumat, 27 Mar 2026 20:22 WIB | Identitas & Pertumbuhan

RINDU yang Tidak Pernah Selesai Episode 3: Kata-kata yang Tidak Dipesan

Di antara deadline, keluarga, dan revisi tanpa akhir, Rindu mulai kehilangan suaranya, hingga satu pesan lama membuka kembali sesuatu yang hampir terlupakan. ...