Episode 1

RINDU yang Tidak Pernah Selesai - Episode 1

Reporter : Redaksi
Rindu, seorang ibu yang terlihat kuat, tapi diam-diam sedang mencari arah hidupnya.

Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika Rindu akhirnya duduk.

Bukan di sofa.
Bukan di kamar.

Tapi di kursi kecil di dapur, tempat yang selalu jadi saksi hari-harinya yang panjang.

Lampu dapur tidak terlalu terang. Sengaja.
Ia tidak butuh cahaya yang terlalu jelas untuk melihat hidupnya malam ini.

Di tangannya, segelas teh hangat yang sudah mulai mendingin.
Seperti dirinya.

Dari ruang depan, suara televisi masih menyala.
Anak-anaknya sudah tidur sejak satu jam yang lalu, setelah merengek, tertawa, lalu akhirnya terlelap di pelukannya.

Suaminya masih di depan.
Mungkin sedang menonton, mungkin juga sekadar lelah dan butuh diam.

Rindu tidak menyusul.

Ia butuh… jeda.


Hari ini seperti hari-hari lainnya.

Bangun pagi sebelum semua orang.
Menyiapkan sarapan.
Membangunkan anak-anak.
Merapikan rumah.
Menjawab chat pekerjaan.
Mengurus ini itu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dan di tengah semua itu, ia juga bekerja.

Bukan karena ingin.
Tapi karena harus.

Harga kebutuhan naik.
Masa depan anak-anak tidak bisa ditunda.
Dan suaminya… tidak bisa memikul semuanya sendirian.

Jadi Rindu ikut berjalan.

Walau kadang ia sendiri tidak tahu… ia sedang menuju ke mana.


Ia menyesap tehnya perlahan.

Hambar.

Atau mungkin lidahnya yang sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.

Matanya menatap kosong ke arah wastafel.
Piring sudah dicuci. Dapur sudah rapi.

Semuanya selesai.

Tapi entah kenapa, ia tidak merasa lega.


“Aku lagi ngapain, ya…”

Kalimat itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan.

Tidak ada yang menjawab.

Memang tidak pernah ada.


Rindu berdiri, berjalan ke arah cermin kecil yang menempel di dinding dekat kulkas.

Ia menatap dirinya sendiri.

Wajahnya… masih sama.

Masih Rindu yang dulu.
Atau setidaknya, terlihat seperti itu.

Tapi ada sesuatu yang berbeda.

Matanya.

Tidak lagi seterang dulu.

“Apa aku berubah, ya…”

Ia bertanya. Pada dirinya sendiri.

Cermin tidak menjawab.
Tapi untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak buru-buru berpaling.


Dulu, Rindu punya banyak hal yang ia sukai.

Menulis.
Mendengarkan musik sendirian.
Bahkan sekadar duduk tanpa melakukan apa-apa.

Sekarang?

Semuanya terasa seperti kemewahan.

Waktu luangnya selalu terisi oleh hal-hal yang “lebih penting”.

Anak.
Rumah.
Pekerjaan.
Kebutuhan.

Dirinya sendiri… selalu jadi yang terakhir.

Atau mungkin, sudah lama tidak masuk daftar.


Dari ruang depan, suara televisi berubah channel.

Rindu melirik sekilas, lalu kembali diam.

Ia tidak marah.
Tidak juga sedih.

Ia hanya… kosong.


“Tuhan…”

Ia memanggil pelan.

Tidak ada kata-kata panjang.
Tidak ada doa yang tersusun rapi.

Hanya satu panggilan.

Seperti seseorang yang tidak tahu harus mulai dari mana.

“Aku capek.”

Kali ini lebih jelas.

Tangannya menggenggam gelas teh sedikit lebih erat.

“Aku capek jadi kuat terus.”

Suara itu tidak bergetar.
Tidak dramatis.

Justru terlalu tenang.
Seperti sesuatu yang sudah lama dipendam.


Ia menunduk.

Untuk beberapa detik, tidak ada apa-apa.

Tidak ada suara.
Tidak ada jawaban.

Hanya napasnya sendiri.


“Aku harus gimana, Tuhan…”

Kalimat itu menggantung di udara.

Bukan pertanyaan yang menuntut jawaban cepat.

Lebih seperti… kejujuran yang akhirnya keluar.


Rindu tidak menangis.

Ia sudah terlalu sering menahan, sampai air matanya pun seperti lupa caranya jatuh.

Tapi dadanya terasa penuh.

Seperti ada sesuatu yang ingin keluar, tapi tidak tahu bentuknya apa.


Ia kembali duduk.

Tehnya sudah benar-benar dingin sekarang.

Ia tidak peduli.


Malam semakin larut.

Rumah semakin sunyi.

Dan di dapur kecil itu, Rindu duduk, sendirian, tapi tidak benar-benar sendirian.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak mencoba mengalihkan pikirannya.

Ia membiarkan semuanya datang.

Rasa lelah.
Rasa kosong.
Rasa kehilangan arah.

Semuanya.


Mungkin, ia tidak harus selalu kuat.

Mungkin, ia boleh… berhenti sebentar.


Ia menarik napas panjang.

Perlahan.

Lalu menghembuskannya.


“Aku tidak tahu arah hidupku sekarang…”

Ia berkata pelan.

“Tapi… aku masih di sini.”


Dan entah kenapa, kalimat itu terasa cukup.

Tidak menyelesaikan apa-apa.
Tidak memberi jawaban.

Tapi setidaknya, ia jujur.


Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa.

Tidak ada yang berubah.

Tapi di dalam diri Rindu, sesuatu mulai bergeser.

Kecil.

Hampir tidak terasa.


Mungkin bukan arah.

Mungkin belum.

Tapi setidaknya…
ia berhenti berbohong pada dirinya sendiri malam ini.


Dan mungkin,
itu adalah awal dari sesuatu yang selama ini ia cari.

Walau ia sendiri belum tahu namanya.

- Bersambung ke episode 2 -

Editor : Redaksi

Refleksi Diri
Populer
Berita Terbaru