RINDU yang Tidak Pernah Selesai Episode 2: Diam yang Berbicara

Reporter : Redaksi
Rindu terdiam dalam kesunyian di meja makan yang selalu menjadi tempatnya merenung.

Suaminya pulang lebih awal hari itu.

Rindu sedang di dapur waktu ia mendengar suara pintu.

Bukan dibanting.

Tidak pernah dibanting.

Suaminya, Bagas bukan tipe itu.

Tapi ditutup dengan cara yang spesifik, cara yang sudah ia hafal dalam delapan belas tahun: pelan sekali, seperti orang yang tidak ingin dilihat masuk.

Ia tidak memanggil namanya.


Rindu terus mengaduk sup.

Putrinya, Sasha sedang tidur siang.

Dan putra pertamanya, Kian di kamarnya dengan buku.

Rumah diam dengan cara yang terasa berbeda dari diam biasa, seperti rumah yang sedang menunggu sesuatu, meski tidak tahu apa.


"Bagas?"

Panggilannya tidak keras.

Cukup untuk sampai ke ruang tamu kalau memang ada yang mau mendengar.

Tidak ada jawaban.


Ia menemukannya sepuluh menit kemudian di ruang kerja.

Duduk di kursinya tapi layar laptop tertutup. Ini yang aneh.

Bagas selalu membuka laptop.

Bahkan saat makan, matanya separuh ada di layar.

Tapi sekarang ia hanya duduk, kedua tangannya rata di atas meja, menatap dinding.


"Kamu baik-baik saja?"

Ia menoleh.

Ada jeda kecil sebelum ia bicara, jeda yang Rindu kenal.

Jeda yang artinya ia sedang memilih versi mana dari dirinya yang akan muncul.

"Capek aja."


Rindu berdiri di ambang pintu.

Ia tidak masuk.

Entah kenapa ia tidak pernah benar-benar masuk ke ruang kerja itu lagi.

Ruang yang dulu ruang tamu kecil, yang dulu mereka pakai untuk nonton film berdua di lantai dengan selimut yang sama.

Sekarang ruang itu milik Bagas, dan Rindu selalu berdiri di luar seperti tamu.


"Mau makan dulu? Sup sudah hampir.. "

"Nanti aja."


Dua kata.

Nadanya bukan kasar.

Tidak juga dingin dalam arti dramatis, tidak seperti es, tidak seperti hujan.

Lebih seperti... udara di ruangan yang jendelanya lama tidak dibuka.

Tidak ada yang salah.

Tapi rasanya sesak kalau kamu berdiri di dalamnya terlalu lama.

"Oke," kata Rindu.

Ia kembali ke dapur.


Makan malam pukul tujuh.

Kian minta diizinkan membawa buku ke meja.

Rindu mengizinkan, Bagas tidak melarang, jadi itu artinya boleh.

Sasha menceritakan sesuatu tentang kucing tetangga yang masuk ke halaman mereka dan makan tanaman Rindu.


Rindu merespons, Bagas merespons juga, sekali, dengan senyum kecil yang tidak sampai ke matanya.

Rindu makan sup buatannya sendiri dan mencoba mengingat kapan terakhir kali ia memasak sesuatu yang memang ia inginkan, bukan sesuatu yang ia tahu akan dimakan semua orang tanpa komplain.

Ia tidak bisa ingat.


"Ini enak, Bu," kata Kian tiba-tiba, tanpa mengangkat mata dari bukunya.

Rindu menatap anaknya.

Sembilan tahun, rambut agak kusut, telunjuk masih di baris yang ia baca.

Ia tidak tahu kenapa kalimat itu, kalimat pendek, biasa, dari anak sembilan tahun yang bahkan tidak sepenuhnya hadir, terasa seperti sesuatu yang ingin ia simpan.


"Makasih, Yan."

Bagas tidak bilang apa-apa.

Mungkin ia tidak mendengar.

Mungkin ia sedang memikirkan hal lain.

Mungkin dua belas tahun pernikahan memang seperti ini, kamu berhenti mengucapkan hal-hal yang dulu terasa perlu diucapkan, bukan karena tidak mau, tapi karena kamu lupa bahwa itu pernah penting.


Rindu minum air putihnya.

Ia tidak tahu lagi mana yang lebih menyakitkan: kalau Bagas memang tidak peduli, atau kalau ia peduli tapi sudah terlalu lelah untuk menunjukkannya.


Setelah anak-anak tidur, Rindu duduk di meja kerjanya sendiri, sudut kecil di ujung kamar tidur, meja bekas yang ia amplas sendiri, yang masih ia banggakan pelan-pelan dalam hati kalau dipikir-pikir.


Ia membuka laptop.

Ada dua email masuk dari klien.

Ada satu notifikasi Instagram.

Dari Dimas.

Bukan pesan baru, hanya ia menyukai sebuah story lama yang Rindu posting minggu lalu, kutipan yang Rindu tulis sendiri: "Ada orang-orang yang pergi dari hidupmu bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena mereka tidak punya bahasa untuk tetap tinggal."


Rindu menatap notifikasi itu.

Lalu menatap dinding.

Lalu kembali ke notifikasi.

Di kamar yang sama, dari balik pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, ia bisa mendengar Bagas menyikat gigi.


Suara yang paling biasa di dunia.

Suara yang sudah ia dengar ribuan kali.

Dan entah kenapa malam ini suara itu terasa seperti suara seseorang yang tinggal di apartemen sebelah, dekat secara fisik, tapi tidak ada urusannya dengan hidupmu.


Ia membuka chat dengan Dimas.

Tidak ada pesan baru sejak dua hari lalu, percakapan pendek, sopan, sedikit hati-hati di kedua sisi.


Apa kabar. Sudah lama. Kamu masih nulis?


Hal-hal yang orang tanyakan ketika mereka ingin tahu lebih tapi belum tahu apakah boleh.


Rindu mengetik: Kamu masih suka kopi yang terlalu pahit?

Ia hapus.


Ia ketik lagi: Tadi baca kutipan yang kamu like. Kebetulan atau memang sengaja?

Ia hapus lagi.


Akhirnya ia tidak mengetik apa-apa.

Ia tutup aplikasinya dan buka dokumen kerja, brief untuk klien properti, tiga paragraf yang harus selesai malam ini.


Ia menulis dengan kecepatan yang sudah otomatis, kata-kata yang benar tapi tidak terasa miliknya, kalimat-kalimat yang akan dibaca orang lain dan tidak akan pernah tahu siapa yang menulisnya.

Di belakangnya, suara sikat gigi berhenti.

Lalu suara langkah.

Lalu bunyi kasur, Bagas sudah berbaring.

Tidak ada selamat malam.

Tidak ada kamu kerja sampai kapan. Tidak ada apa-apa.


Rindu menyelesaikan brief pukul sebelas kurang seperempat.

Ia simpan dokumen.

Ia tutup laptop.

Ia duduk sebentar dalam gelap.

Bukan gelap total, ada cahaya kecil dari luar jendela, lampu jalan yang masuk tipis lewat celah gorden.

Ia bisa melihat siluet Bagas di kasur.

Punggungnya menghadap ke arahnya, seperti biasa, seperti selalu.

Ia ingat dulu, awal-awal menikah, waktu mereka masih tinggal di kontrakan kecil di Depok. 

Bagas pernah bilang bahwa ia selalu tidur menghadap ke mana pun Rindu berada.


Biar kamu tahu aku di sana, katanya. Waktu itu Rindu tertawa dan bilang itu kalimat paling lebay yang pernah ia dengar.

Sekarang ia ingin sekali mendengar kalimat lebay itu lagi.


Ia berdiri.

Ia berjalan pelan ke sisi kasurnya.

Ia berbaring dengan hati-hati agar tidak membangunkan siapa-siapa, meski ia tahu Bagas sudah tidur dan anak-anak di kamar mereka sendiri dan tidak ada yang perlu ia jaga ketenangannya kecuali ketenangan yang sudah rapuh ini.


Ia berbaring menghadap langit-langit.

Kipas angin berputar.

Di luar, tidak ada suara apa-apa.

Rindu menutup matanya dan berpikir tentang kutipan yang Dimas like.

Tentang orang-orang yang tidak punya bahasa untuk tetap tinggal.


Ia menulis kalimat itu enam bulan lalu, iseng, jam dua pagi, sambil menunggu render video klien.


Waktu itu ia tidak sedang memikirkan siapa-siapa.

Atau mungkin ia sedang memikirkan semua orang sekaligus, suaminya, ibunya, versi dirinya yang lebih muda yang percaya bahwa cinta itu cukup kalau memang cukup.


Mungkin masalahnya bukan tidak ada bahasa.

Mungkin masalahnya adalah dua orang yang punya bahasa berbeda, dan sudah terlalu lama tidak ada yang mau belajar menerjemahkan.

Ia tidak tahu ini lebih menyedihkan atau lebih adil dari versi pertama.

Mungkin keduanya.


Besok ia akan bangun pukul 5:47.

Ia akan membuat kopi dengan panci kecil pemberian ibunya.

Ia akan menulis daftar hal yang harus diselesaikan hari itu.

Ia akan mengepak tas Kian dan menjawab pertanyaan Sasha tentang apakah ikan punya perasaan.


Dan mungkin - mungkin - ia akan membuka chat dengan Dimas dan mengetik sesuatu yang tidak ia hapus.


Atau mungkin tidak.


Untuk sekarang, yang ada hanyalah langit-langit, kipas angin, dan dua orang dewasa yang berbagi kasur seperti dua negara yang berbagi perbatasan, berdampingan, tapi masing-masing dengan hukumnya sendiri, dengan udaranya sendiri, dengan segalanya yang tidak bisa begitu saja dilewati tanpa izin.

Rindu menutup matanya lebih rapat.

Ia tidak menangis.


Bukan karena tidak mau, tapi karena tubuhnya sudah lupa bagaimana caranya menangis untuk hal-hal yang tidak bisa diberi nama.

Ia hanya berbaring.

Dan menunggu pagi.

— Bersambung ke Episode 3 —

Editor : Redaksi

Refleksi Diri
Populer
Berita Terbaru