RINDU yang Tidak Pernah Selesai Episode 3: Kata-kata yang Tidak Dipesan

Reporter : Redaksi
Rindu mendengarkan lagu lama yang membuatnya mengenang masa indah itu.

Pagi itu, Rindu termenung.

Bukan karena Bagas.

Kliennya mengirim revisi keempat pukul 10 pagi.


Bukan revisi.

Rindu tidak menyebutnya revisi dalam hati, ia menyebutnya penghapusan.

Tiga hari kerja, dua belas paragraf, satu tone of voice yang ia bangun

dengan hati-hati seperti orang memasang rumah kartu, semuanya diganti.


Yang tersisa hanya judulnya.

Dan judulnya pun salah ketik.

Ia membaca email itu dua kali.

Lalu menutup laptop.


Lalu membukanya lagi karena ada dua email lain yang belum dibaca dan deadline tidak peduli dengan perasaannya.

Kliennya, startup skincare dari Jakarta Selatan, didirikan oleh perempuan dua puluh delapan tahun yang sering menyebut dirinya visioner di bio Instagram-nya, menulis dengan nada yang sangat ramah.


Ini yang selalu membuat Rindu lebih lelah dari seharusnya.

Kalau nadanya kasar, ia bisa marah.

Tapi kalau nadanya ramah sambil menghancurkan pekerjaannya, ia tidak tahu harus menaruh perasaannya di mana.


“Kak Rindu, maaf ya merepotkan hehe. Sebenernya arahnya udah oke, cuma aku mau yang lebih… gimana ya, lebih fun? Lebih playful? Yang ini agak berat bacanya. Padahal produknya kan untuk perempuan yang pengen happy dan glowing! Jadi mungkin bisa disesuaikan? Makasih banyak ya Kak, kamu pasti bisa deh!”


Rindu membaca kalimat terakhir itu tiga kali.

Kamu pasti bisa deh.

Ia menarik napas.

Melepasnya pelan.


Membuka dokumen baru dan mulai menulis ulang dari awal, bukan karena ia setuju, tapi karena ia sudah terlalu lama di industri ini untuk tidak tahu bahwa berdebat dengan klien yang ramah jauh lebih melelahkan dari berdebat dengan klien yang kasar.


Yang kasar bisa dilawan.

Yang ramah hanya bisa dilayani.

Jadi ia melayani.


Sasha pulang pukul dua belas dengan lutut kotor dan semangat yang tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya.

"Bu, aku tadi main lompat tali sama Naura! Aku menang tiga kali!"

"Bagus." Rindu tidak mengangkat mata dari layar.

"Empat kali. Eh, tiga. Tapi yang sekali itu curang."


Rindu menoleh ke arah putrinya itu dan tersenyum tipis.

"Makan dulu, ya. Nasinya di magic com."


TIba-tiba Sasha berdiri di depan meja kerjanya selama dua detik, Rindu merasakannya tanpa balik melihat, semacam berat kecil di pinggir kesadarannya, lalu berlari ke dapur dengan suara sandal yang terlalu keras untuk rumah yang terlalu kecil.


Rindu menyelesaikan satu paragraf.

Menghapusnya.

Menulis ulang.

Menghapus lagi.


Fun.

Playful.

Happy dan glowing.


Ia tidak tahu kenapa kata-kata itu terasa seperti hinaan.. padahal bukan.

Atau mungkin bukan hinaan untuk tulisannya, tapi untuk sesuatu yang lain. Untuk versi dirinya yang dulu percaya bahwa menulis adalah tentang kejujuran, tentang menemukan kata yang paling tepat untuk sesuatu yang paling sulit diungkapkan.


Sekarang ia menulis tentang serum vitamin C dengan nada yang happy dan glowing dan dibayar per kata, dan ia melakukannya dengan baik, dan itulah yang membuatnya sesak.. bahwa ia melakukannya dengan sangat baik sehingga tidak ada yang tahu betapa jauhnya jarak antara tulisan itu dan dirinya yang sesungguhnya.


Dari dapur, suara Sasha menyanyikan sesuatu. Lagu dari kartun yang Rindu tidak hafal judulnya.


Ia mengetik: Glowing dari dalam, karena kulit yang sehat dimulai dari rutinitas yang menyenangkan.

Ia baca ulang.

Lalu ia simpan.

Bukan karena bagus.

Tapi karena cukup.


Pukul tiga sore, Kian pulang.

Pukul empat, Bagas keluar dari ruang kerja untuk pertama kalinya hari itu.

Ia mengambil air, berdiri di depan kulkas sebentar, kembali masuk.

Ia melewati meja kerja Rindu tanpa berhenti.

Bukan karena tidak melihat.

Tapi karena sudah lama mereka membangun kesepakatan diam-diam ini: siang hari adalah milik masing-masing, dan milik masing-masing tidak perlu disapa.


Rindu menyelesaikan revisi keempat pukul setengah lima.


Ia kirim.

Ia tutup laptop.


Ia duduk dengan punggung tegak dan mata menatap dinding selama mungkin tiga menit, waktu yang tidak cukup untuk disebut istirahat tapi terlalu lama untuk disebut jeda.


Lalu ia berdiri dan pergi ke dapur untuk mulai memasak malam.

Di tengah memotong bawang, tangannya berhenti.

Bukan karena mata pedih.


Matanya sudah kebal, sudah bertahun-tahun…

tapi karena tiba-tiba ia tidak ingat kenapa ia memilih bawang goreng untuk malam ini.


Apakah ada yang minta?

Apakah ia yang ingin?

Atau hanya karena bawang itu yang pertama ia ambil dari kulkas dan ia tidak punya energi untuk membuat keputusan yang lebih besar dari itu?


Ia tidak bisa jawab.

Dan tidak bisa menjawab pertanyaan sekecil itu tentang dirinya sendiri terasa, entah kenapa, seperti kehilangan yang lebih besar dari yang seharusnya.


Notifikasi itu datang pukul delapan malam.

Anak-anak sedang mandi.


Bagas sudah kembali ke ruang kerjanya setelah makan malam yang berlangsung dua puluh menit dan diisi terutama oleh cerita Sasha tentang sistem pemerintahan yang baru saja ia pelajari di sekolah dan yang ia yakini sangat mirip dengan cara kerja kerajaan semut.


Rindu sedang berdiri di depan wastafel, mencuci piring.

Ponselnya bergetar di meja.

Ia tidak langsung mengambilnya.

Ia selesaikan dua piring, satu mangkuk, tiga sendok.

Lalu ia keringkan tangannya dengan lap yang sudah agak lembab dan ia ambil ponselnya dengan cara yang ia harap terasa biasa.. karena ia sudah tahu, entah dari mana ia tahu, bahwa pesan itu dari Dimas.


Dan memang.

“Hei. Aku lagi baca ulang tulisanmu yang lama. Yang tentang kota yang tidak pernah tidur itu. Kamu ingat?”


Rindu berdiri di dapur dengan ponsel di tangan dan piring terakhir masih berair di sebelahnya.


Ia ingat.

Tentu ia ingat.


Tulisan itu ia buat delapan tahun lalu, dimuat di majalah kecil yang sekarang sudah tidak terbit, tentang Jakarta di jam tiga pagi dari sudut pandang orang yang tidak bisa tidur bukan karena insomnia tapi karena terlalu banyak yang sedang ia rasakan.


Waktu itu Dimas yang pertama mengirim pesan setelah tulisan itu terbit.

Waktu itu pesan pertamanya juga tentang tulisan itu.

Jadi sekarang ia mulai lagi dari sana.


Rindu tidak tahu apakah itu disengaja.

Tapi ia merasa sesuatu bergerak di dadanya.

Bukan detak jantung yang lebih cepat.


Bukan itu.. lebih seperti sesuatu yang selama ini tertidur menggeser posisinya sedikit.


Seperti orang yang tidur dan tiba-tiba, tanpa bangun, berbalik ke sisi yang lain.

Ia mengetik: Ingat. Itu tulisan paling jujur yang pernah aku buat.

Kirim.


Ia letakkan ponselnya menghadap bawah dan selesaikan mencuci piring. Tangannya tidak gemetar.

Ia tidak tahu apakah itu pertanda baik atau buruk.

Dua menit kemudian ponselnya bergetar lagi.


“Aku pikir begitu waktu pertama baca. Kenapa kamu berhenti nulis yang seperti itu?”


Rindu membaca kalimat itu berdiri di dapur yang sudah sepi, dengan suara air dari kamar mandi anak-anak yang mulai berhenti, dengan lampu dapur yang agak terlalu terang untuk pertanyaan seperti ini.


Kenapa ia berhenti.

Ia tahu jawabannya.


Beberapa jawaban, sebenarnya, yang semuanya benar dan tidak ada yang cukup: karena tidak ada yang membayar untuk kejujuran.


Karena hidup menjadi terlalu penuh untuk ditulis dengan cara yang membutuhkan kekosongan.


Karena di suatu titik ia berhenti merasa punya hak atas perasaannya sendiri apalagi untuk menuliskannya.


Tapi semua itu terlalu panjang untuk pesan malam hari di dapur.

Jadi ia menulis:

“Hidup menjadi lebih sibuk dari yang aku rencanakan.”

Kirim.


Balasannya cepat:

“Atau mungkin lebih sunyi dari yang kamu harapkan?”


Rindu menaruh ponselnya.


Ia berjalan ke kamar anak-anak, menengok Sasha yang sudah setengah tidur dengan rambut masih agak basah, menarik selimutnya sedikit.

Mengetuk pintu Kian.

Mendengar "udah, Bu" dari dalam yang artinya ia sudah siap tidur dan tidak butuh ditemani, cara anak sembilan tahun bilang bahwa ia baik-baik saja tanpa harus mengatakannya.


Ia kembali ke kamar.

Bagas belum masuk.

Lampu belajar di sudut meja kerjanya masih menyala, laptopnya terbuka, kursinya kosong, ia pasti ke kamar mandi atau mengambil sesuatu.


Rindu duduk di tepi kasur.


Ia tidak langsung berbaring.

Tangannya mengambil ponsel lagi.        

Bukan untuk membalas.


Ia membuka aplikasi musik.


Tanpa berpikir panjang,

ia memilih sesuatu yang lama.

Sesuatu yang dulu pernah ia dengarkan,

saat hidup masih terasa miliknya sendiri.

Kisah Klasik Untuk Masa Depan mulai diputar.


Gitar pembuka itu datang pelan,

seperti ingatan yang tidak diminta.


Akrab.

Dan sedikit menyakitkan.


Rindu memejamkan mata.


Lalu bagian itu datang..


“Kita adalah kisah klasik untuk masa depan…”


Ia tersenyum kecil.


Dulu ia pikir lagu ini tentang orang lain.

Tentang hubungan.

Tentang cinta.


Sekarang ia tahu,

lagu itu sedang berbicara tentang dirinya sendiri.


Tentang semua versi dirinya yang perlahan ia tinggalkan.

Tentang pilihan-pilihan kecil yang ia kira sementara,

yang ternyata menetap.


Tentang bagaimana ia,

tanpa sadar,

menjadi seseorang yang dulu tidak pernah ia rencanakan.


Lagu itu terus berjalan.


Dan untuk beberapa menit,

Rindu tidak menjadi apa-apa.


Bukan ibu.

Bukan istri.

Bukan penulis untuk klien.


Ia hanya Rindu.


Dan itu terasa asing,

sekaligus sangat akrab.


“Atau mungkin lebih sunyi dari yang kamu harapkan?”


Kalimat itu kembali muncul di kepalanya.


Dan untuk pertama kalinya,

ia tidak menolaknya.


Ia mendengarkannya.


Seperti ia mendengarkan lagu itu.


Tanpa buru-buru menjawab.


Bagas masuk ke kamar beberapa menit kemudian.

Ia tidak menyalakan lampu.


Bergerak dalam gelap dengan cara yang menunjukkan ia hafal di mana semua benda berada. Ia berbaring di sisinya.


Punggungnya menghadap ke arah Rindu, seperti biasa.

Tidak ada selamat malam.

Rindu tidak mengharapkannya lagi.


Ini yang mungkin paling menyedihkan dari semua yang menyedihkan,

bukan bahwa ia masih mengharap dan tidak dapat, tapi bahwa ia sudah berhenti mengharap dan itu terasa normal.


Ia menutup matanya.

Di dalam gelap di balik kelopak matanya,

ia melihat kursor berkedip di dokumen kosong,

bukan dokumen klien,

bukan brief,

bukan caption produk skincare.


Dokumen miliknya.

Putih.

Menunggu.


Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia ingin menulis sesuatu yang tidak ada yang minta.


Besok,

mungkin.


Atau malam ini,

kalau ia bisa mengumpulkan cukup keberanian untuk bangun dan membuka laptopnya bukan karena harus,

tapi karena mau.


Ia belum yakin bisa.

Tapi kenyataan bahwa ia menginginkannya,

kenyataan bahwa keinginan itu masih ada,

belum mati, hanya tertidur di bawah semua yang harus dan semua yang seharusnya, itu sendiri sudah terasa seperti sesuatu.


Kecil.

Tapi nyata.

Dan malam ini, nyata saja sudah cukup.


— Bersambung ke Episode 4 —

 

Editor : Redaksi

Refleksi Diri
Populer
Berita Terbaru