Rumah Literasi Digital mengapresiasi langkah PT Siber Shop Teknologi Indonesia yang menyampaikan per

Permohonan Maaf PT Siber Shop Diapresiasi RLD, Momentum Memperkuat Ekosistem Media yang Beretika

Reporter : Redaksi
Ilustrasi reflektif tentang pentingnya dialog, etika media, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga ekosistem informasi digital yang sehat.

 

Jejakdanarah.com — Di tengah derasnya arus informasi digital, hubungan antara media, narasumber, dan perusahaan kerap menghadapi dinamika yang tidak sederhana. Ketika perbedaan pandangan muncul, cara menyikapinya sering kali menjadi penentu apakah sebuah persoalan berkembang menjadi konflik berkepanjangan atau justru menjadi ruang pembelajaran bersama.

Dalam konteks itulah Rumah Literasi Digital (RLD) mengapresiasi langkah PT Siber Shop Teknologi Indonesia yang secara terbuka menyampaikan permohonan maaf terkait polemik permintaan penghapusan sejumlah berita dari media siber. Pernyataan tersebut dipublikasikan melalui laman resmi perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab atas dinamika yang terjadi.

Bagi RLD, sikap terbuka untuk menyampaikan permohonan maaf secara publik merupakan langkah positif yang patut dihargai. Dalam setiap interaksi antara perusahaan, narasumber, dan media massa, komunikasi yang terbuka serta penghormatan terhadap mekanisme yang berlaku menjadi fondasi penting dalam menjaga iklim demokrasi dan kebebasan berekspresi.

Ketua Rukun Warta Rumah Literasi Digital, Fatchur, mengatakan bahwa peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi seluruh pihak mengenai pentingnya memahami ekosistem pers, regulasi yang mengaturnya, serta mekanisme penyelesaian sengketa pemberitaan yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan dan Kode Etik Jurnalistik.

“Kami meyakini bahwa setiap pihak memiliki hak untuk mengajukan keberatan terhadap suatu pemberitaan. Namun, keberatan tersebut sebaiknya disampaikan melalui mekanisme yang telah tersedia, seperti hak jawab, hak koreksi, atau jalur penyelesaian sengketa pers yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, prinsip kebebasan pers dan hak publik atas informasi tetap terjaga,” ujar Fatchur.

Menurutnya, tantangan dunia digital saat ini semakin kompleks. Di satu sisi, media dituntut untuk menjaga akurasi, independensi, dan profesionalisme dalam menjalankan fungsi jurnalistik. Di sisi lain, masyarakat, pelaku usaha, maupun institusi juga perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai etika digital serta tata kelola informasi di ruang publik.

Karena itu, RLD mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk perusahaan teknologi, media massa, organisasi pers, komunitas literasi digital, akademisi, hingga masyarakat luas untuk bersama-sama membangun ekosistem informasi yang sehat, terbuka, dan bertanggung jawab.

“Kami tidak melihat peristiwa ini sebagai ruang untuk saling menyalahkan, melainkan sebagai momentum untuk memperkuat literasi digital, meningkatkan pemahaman terhadap etika jurnalistik, dan membangun dialog yang lebih konstruktif antara media dan para pihak yang menjadi objek pemberitaan,” lanjutnya.

RLD juga menyampaikan apresiasi kepada media-media yang tetap menjunjung profesionalisme jurnalistik serta organisasi pers yang aktif mengawal kebebasan pers dan independensi redaksi. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi aset penting dalam menjaga kualitas demokrasi sekaligus menjamin hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipercaya.

Ke depan, Rumah Literasi Digital menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan teknologi, komunitas media, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat melalui kegiatan edukasi, diskusi publik, pelatihan literasi digital, maupun penguatan pemahaman mengenai etika jurnalistik dan tata kelola informasi digital.

Lebih dari Sekadar Polemik

Peristiwa ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dalam ruang informasi publik tidak selalu harus berujung pada pertentangan yang berkepanjangan. Ketika setiap pihak memilih untuk mengedepankan dialog dan menghormati mekanisme yang tersedia, sebuah polemik dapat menjadi ruang pembelajaran bersama.

Di tengah perkembangan dunia digital yang semakin cepat, menjaga ekosistem media yang sehat bukan hanya tanggung jawab jurnalis atau perusahaan media. Pelaku usaha, institusi, komunitas, dan masyarakat juga memiliki peran yang sama pentingnya dalam membangun budaya komunikasi yang terbuka, bertanggung jawab, dan saling menghormati.

Pada akhirnya, kualitas ruang publik tidak diukur dari seberapa sedikit perbedaan yang muncul, melainkan dari seberapa dewasa setiap pihak menyikapi perbedaan tersebut. Sebab dari setiap peristiwa, selalu ada pelajaran yang dapat menjadi arah bagi langkah berikutnya.

Editor : Redaksi

Refleksi Redaksi
Sabtu, 11 Apr 2026 12:55 WIB
Selasa, 07 Apr 2026 16:27 WIB
Kamis, 02 Apr 2026 12:09 WIB
Selasa, 17 Mar 2026 08:29 WIB
Populer
Berita Terbaru