Pengantar
Kadang sebuah tulisan datang bukan dari rencana panjang, tetapi dari sebuah percakapan sederhana.
Tulisan ini berawal dari sebuah refleksi yang dibagikan oleh Lena, sahabat dari Brigitta, penulis Jejak & Arah. Ia menuliskan kegelisahan kecil tentang bagaimana rasanya hidup di zaman ketika berita dari seluruh dunia datang begitu cepat, kadang bahkan sebelum kita sempat benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Kami menata ulang catatan ini agar lebih utuh dibaca, tanpa mengubah kegelisahan yang ingin disampaikan.
—
Kadang saya memikirkan hal ini.
Kita hidup di zaman yang terasa agak… aneh.
Bukan karena hal-hal buruk terjadi. Hal buruk sebenarnya selalu ada sejak dulu. Kalau kita melihat sejarah manusia, hampir setiap zaman punya ceritanya sendiri tentang perang, konflik, kekerasan, dan kehilangan.
Dunia memang tidak pernah benar-benar sunyi dari tragedi.
Jadi sebenarnya tragedi bukan hal baru.
Yang terasa berbeda sekarang mungkin bukan tragedinya.
Yang terasa berbeda adalah cara kita menghadapinya.
Hari ini hampir semua hal bisa sampai ke layar kita dalam hitungan detik.
Ada notifikasi berita di ponsel.
Bom meledak di suatu kota.
Penembakan terjadi di tempat lain.
Serangan teror muncul di negara yang kemarin terasa sangat jauh dari kehidupan kita.
Kita membaca judulnya.
Mungkin berhenti sebentar.
“Gila… ngeri sekali.”
Lalu jari kita bergerak lagi.
Scroll.
Di bawah berita itu ada video anjing lucu.
Ada resep makanan lima menit.
Ada orang yang sedang berdebat tentang topik random di internet.
Dan tanpa sadar kita sudah berpindah ke hal lain.
Begitu saja.
Kadang saya menyadari betapa cepatnya itu terjadi.
Baru saja membaca berita tentang tragedi besar di suatu tempat, beberapa detik kemudian perhatian kita sudah tertarik pada hal lain yang sama sekali tidak berhubungan.
Kontrasnya terasa aneh.
Tapi juga terasa sangat normal.
Karena begitulah cara informasi bekerja sekarang.
Semuanya datang sekaligus.
Semuanya bercampur.
Kadang saya bertanya-tanya: apakah kita mulai menjadi kebal?
Apakah terlalu sering melihat berita buruk membuat kita perlahan kehilangan kemampuan untuk benar-benar merasakan sesuatu?
Namun semakin dipikirkan, mungkin jawabannya tidak sesederhana itu.
Mungkin kita bukan kebal.
Mungkin kita hanya hidup di zaman yang dipenuhi terlalu banyak informasi.
Setiap hari kita menerima kabar dari berbagai penjuru dunia.
Dari kota yang bahkan belum pernah kita dengar sebelumnya.
Dari negara yang mungkin tidak pernah kita kunjungi.
Dari tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari kehidupan kita.
Semua itu muncul di tempat yang sama: layar ponsel kita.
Berita perang.
Berita serangan.
Berita bencana.
Lalu di bawahnya ada meme.
Di bawahnya lagi ada video orang liburan.
Atau video seseorang mencoba kopi di kafe baru.
Semuanya bercampur dalam satu aliran informasi yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Dan kita melihat semuanya hampir setiap hari.
Masalahnya, manusia sebenarnya tidak dirancang untuk memproses begitu banyak tragedi sekaligus.
Dulu, orang hanya mengetahui peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Jika ada tragedi, biasanya itu terjadi di tempat yang dekat, di kota yang mereka kenal, di lingkungan yang mereka lihat langsung.
Sekarang situasinya sangat berbeda.
Kita bisa mengetahui peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari tempat kita berdiri hanya beberapa menit setelah itu terjadi.
Setiap ledakan.
Setiap serangan.
Setiap bencana.
Semuanya datang hampir secara real-time.
Jika kita benar-benar merasakan semua itu setiap hari, mungkin kita tidak akan kuat.
Mungkin kita akan hidup dalam kecemasan yang terus-menerus.
Karena itu, tanpa sadar kita belajar membuat jarak.
Kita tahu berita itu nyata.
Kita tahu orang-orang di sana benar-benar menderita.
Namun pada saat yang sama, hidup kita juga tetap harus berjalan.
Kita tetap harus bangun pagi.
Menyiapkan diri untuk hari itu.
Pergi bekerja.
Masuk sekolah.
Menghadiri rapat.
Makan siang.
Bertemu teman.
Di sela-sela rutinitas itu, berita-berita tentang tragedi dunia lewat seperti bayangan.
Tidak sepenuhnya hilang.
Tetapi juga tidak sepenuhnya tinggal.
Kadang kita membacanya saat menunggu kendaraan.
Kadang saat duduk di kafe.
Kadang sebelum tidur.
Beberapa detik kita memikirkan apa yang terjadi.
Lalu perhatian kita kembali terseret oleh hal lain.
Dan jari kita kembali scroll.
Mungkin itu bukan berarti kita tidak peduli.
Mungkin itu hanya cara manusia bertahan.
Karena di sudut pikiran kita, ada satu kesadaran yang diam-diam muncul: dunia ini sebenarnya cukup rapuh.
Hal buruk bisa terjadi kapan saja.
Bahkan di tempat yang terasa aman.
Sejak dulu, kematian memang selalu berada di pinggir kehidupan manusia.
Namun sekarang bayangannya terasa lebih sering muncul.
Bukan karena tragedi baru muncul di zaman ini, tetapi karena teknologi membuat kita melihat semuanya.
Setiap hari.
Setiap jam.
Kadang bahkan setiap beberapa menit.
Di layar yang sama yang kita gunakan untuk melihat foto teman, membaca pesan, atau mencari hiburan kecil di sela hari.
Ironisnya, semua itu hadir dalam ruang yang sama.
Tragedi dunia.
Dan kehidupan sehari-hari.
Kesedihan besar.
Dan hal-hal ringan yang membuat kita tersenyum sebentar.
Semuanya bercampur.
Dan kita, entah bagaimana, belajar hidup di tengah semuanya.
Kita membaca sesuatu yang berat.
Lalu beberapa menit kemudian hari kembali berjalan seperti biasa.
Dan mungkin itu bukan sesuatu yang harus kita rasa bersalah.
Karena mungkin itu hanyalah cara manusia beradaptasi.
Cara kita menjaga diri agar tidak tenggelam dalam beratnya dunia.
Karena meskipun kita tahu dunia ini rapuh, besok pagi kita tetap bangun lagi seperti biasa.
Menyeduh kopi.
Menyiapkan hari.
Menjalani rutinitas.
Dan di sela-sela semua itu, dunia terus bergerak.
Berita terus datang.
Notifikasi terus muncul.
Dan kita terus mencoba menjalani hidup dengan cara yang kita bisa.
Mungkin itu bukan tanda bahwa kita kehilangan empati.
Mungkin itu hanya cara generasi kita belajar bertahan hidup di dunia yang terus mengingatkan kita betapa mudahnya semuanya bisa berubah.
—
Catatan Refleksi Penulis
Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, mungkin kita memang tidak selalu punya ruang untuk merasakan setiap tragedi secara penuh. Kadang kita hanya sempat berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan hari.
Namun mungkin yang penting bukan seberapa lama kita berhenti, melainkan apakah kita masih ingat bahwa di balik setiap berita yang lewat di layar kita, selalu ada kehidupan nyata di sana.
Dan sesekali, mungkin tidak ada salahnya untuk berhenti sedikit lebih lama sebelum kembali scroll.
Editor : Redaksi