Dunia Kita Saat Ini: di Layar Ada Perang, di Meja Masih Ada Kopi

Reporter : Redaksi
Seorang perempuan memegang ponsel dengan berita perang di layar sambil memegang secangkir kopi panas, menggambarkan kontras kehidupan sehari-hari di era digital.

Ada satu momen kecil yang mungkin sering terjadi, tetapi jarang benar-benar kita pikirkan.

Pagi hari.

Alarm berbunyi.

Kita membuka mata, meraih ponsel di samping tempat tidur, lalu melihat layar yang mulai dipenuhi notifikasi.

Pesan masuk.

Berita baru.

Seseorang menandai kita di media sosial.

Di antara semua itu, kadang muncul sebuah headline yang berat.

Tentang perang di suatu negara.

Tentang serangan di sebuah kota.

Tentang bencana yang membuat banyak orang kehilangan rumahnya dalam satu malam.

Kita membaca beberapa baris.

Melihat foto.

Kadang menonton video singkat.

Lalu kita menarik napas pelan.

“Ya Tuhan…”

Beberapa menit kemudian, kita bangun dari tempat tidur.

Menuju dapur.

Menyalakan kompor.

Menyeduh kopi.

Dan hari pun dimulai seperti biasa.

Ada sesuatu yang terasa sedikit aneh dari momen seperti itu.

Di layar ponsel kita, dunia bisa terlihat sangat kacau.

Namun di meja kita, secangkir kopi tetap mengepul seperti pagi-pagi yang lain.

Seorang teman pernah berkata sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi cukup menggambarkan zaman ini.

“Kadang rasanya seperti dunia sedang berantakan, tapi aku tetap harus masuk kerja jam delapan.”

Kalimat itu mungkin terdengar biasa saja.

Namun sebenarnya sangat jujur.

Karena dunia memang tidak berhenti hanya karena kita sedang mencoba memahaminya.

Transportasi tetap berjalan.

Rapat tetap dimulai.

Tugas tetap menunggu.

Dan hidup tetap meminta kita hadir di dalamnya.

Bayangkan sebuah perjalanan pagi yang sangat biasa.

Seseorang duduk di kereta menuju kantor.

Di tangannya ada ponsel.

Ia membaca berita tentang konflik di suatu negara yang jaraknya ribuan kilometer.

Ia melihat gambar bangunan yang hancur.

Orang-orang berdiri di antara puing.

Ia membaca beberapa baris.

Lalu kereta berhenti.

Pintu terbuka.

Orang-orang turun.

Ia ikut berjalan keluar menuju kantor.

Di meja kerjanya sudah ada pekerjaan yang menunggu.

Email harus dibalas.

Rapat harus dihadiri.

Hidup kembali mengambil alih.

Atau seorang ibu yang sedang menunggu anaknya pulang sekolah.

Ia duduk di ruang tamu.

Televisi menyala.

Di layar muncul laporan tentang bencana alam di tempat lain.

Rumah-rumah rusak.

Orang-orang mengungsi.

Reporter berbicara dengan suara serius.

Ibu itu menonton beberapa menit.

Lalu ia berdiri menuju dapur.

Karena nasi harus dimasak.

Karena anaknya akan pulang sebentar lagi.

Karena makan malam harus tetap ada di meja.

Hidup tetap berjalan.

Di zaman ini, berita dari seluruh dunia sering terasa sangat dekat.

Bukan karena jaraknya benar-benar berubah.

Tetapi karena semuanya muncul di tempat yang sama: layar yang kita bawa ke mana-mana.

Di bus.

Di kantor.

Di ruang tunggu.

Di meja makan.

Peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari kita bisa muncul hanya beberapa menit setelah terjadi.

Seolah-olah dunia yang sangat besar tiba-tiba masuk ke dalam ruang kecil di tangan kita.

Namun hidup kita sendiri tetap berlangsung di tempat yang jauh lebih sederhana.

Di dapur.

Di kantor.

Di perjalanan pulang.

Di meja makan bersama keluarga.

Di percakapan singkat dengan teman.

Kadang jarak antara dua dunia itu terasa sangat kontras.

Di layar kita melihat sesuatu yang besar, dramatis, bahkan menakutkan.

Namun di sekitar kita, kehidupan berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang.

Seseorang sedang memesan kopi.

Seseorang sedang menunggu pesan dari orang yang ia sayangi.

Seseorang sedang terburu-buru mengejar jadwal.

Seseorang sedang mencoba menyelesaikan pekerjaannya sebelum sore.

Dua dunia itu berjalan berdampingan setiap hari.

Dunia besar yang penuh berita.

Dan dunia kecil tempat kita benar-benar hidup.

Mungkin itulah sebabnya manusia secara alami menciptakan jarak.

Bukan karena kita tidak peduli.

Tetapi karena hati manusia tidak selalu mampu menanggung terlalu banyak kesedihan sekaligus.

Jika setiap tragedi dunia benar-benar kita rasakan sepenuhnya setiap hari, mungkin kita tidak akan mampu menjalani hidup dengan tenang.

Kita tidak akan bisa bekerja dengan fokus.

Tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.

Tidak akan bisa tertawa bersama orang-orang yang kita sayangi.

Karena itu, tanpa sadar kita belajar menaruh sebagian dari semua itu sedikit lebih jauh.

Bukan untuk melupakan.

Tetapi untuk bertahan.

Bertahan?

Ada statement yang memang akan mewakilkan, mungkin untuk sebagian besar orang.

“Aku tetap tertawa hari ini. Bukan karena dunia baik-baik saja. Tapi karena kalau tidak begitu, aku tidak tahu bagaimana menjalani hari.”

Kita tetap membuat rencana kecil.

Tetap pergi makan bersama teman.

Tetap menonton film.

Tetap mendengarkan musik di perjalanan pulang.

Tetap mencari sesuatu yang membuat hari terasa sedikit lebih ringan.

Bukan karena dunia tidak serius.

Tetapi karena hidup manusia tidak bisa hanya diisi oleh kesedihan.

Jika melihat sejarah manusia, sebenarnya hal seperti ini bukan sesuatu yang baru.

Di tengah perang, orang tetap menulis lagu.

Di tengah krisis, orang tetap membuat cerita.

Di masa sulit, orang tetap berkumpul, makan bersama, dan mencoba tertawa.

Bukan karena mereka tidak peduli dengan dunia.

Tetapi karena mereka tahu bahwa hidup tidak bisa dijalani jika semuanya hanya berisi tragedi.

Manusia selalu membutuhkan ruang kecil untuk bernapas.

Mungkin itulah yang sedang kita lakukan sekarang.

Kita membaca berita dunia.

Kadang merasa sedih.

Kadang merasa tidak berdaya.

Lalu kita kembali menjalani hidup.

Bekerja.

Belajar.

Berbincang dengan teman.

Tertawa sebentar.

Menikmati secangkir kopi.

Melihat langit sore di perjalanan pulang.

Hal-hal kecil yang tidak pernah masuk berita.

Namun justru itulah yang membuat hidup terasa nyata.

Mungkin kita memang tidak bisa memperbaiki seluruh dunia.

Sebagian besar dari kita bahkan tidak bisa mengubah peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari tempat kita berdiri.

Tapi paling tidak.. kita masih bisa melakukan sesuatu yang sederhana.

Kita bisa tetap menjadi manusia.

Tetap memiliki empati.

Tetap mengingat bahwa di balik setiap headline ada kehidupan nyata.

Ada keluarga.

Ada rumah.

Ada cerita yang tidak pernah kita kenal.

Catatan Refleksi Penulis

Di zaman ketika tragedi dari seluruh dunia bisa muncul di layar kita hampir setiap hari, mungkin kita memang tidak selalu mampu merasakan semuanya dengan utuh.

Namun mungkin yang penting bukan seberapa lama kita berhenti membaca sebuah berita.

Melainkan apakah kita masih ingat bahwa di balik setiap headline, selalu ada kehidupan nyata.

Ada seseorang yang kehilangan rumahnya.
Ada keluarga yang sedang mencoba bertahan.
Ada orang-orang yang kehidupannya berubah dalam satu malam.

Kadang yang bisa kita lakukan memang hanya berhenti sebentar.

Menarik napas.

Menyadari bahwa dunia ini jauh lebih besar daripada kehidupan kita sendiri.

Dan pada saat yang sama, menyadari bahwa hidup kita juga tetap harus berjalan.

Bahwa masih ada meja makan.

Masih ada percakapan kecil.

Masih ada orang-orang yang kita sayangi.

Dan mungkin di situlah keseimbangan itu berada.

Di layar kita melihat dunia yang besar dan rapuh.

Namun di meja kita, secangkir kopi masih hangat.

 

 

Editor : Redaksi

Refleksi Diri
Populer
Berita Terbaru