Jejakdanarah.com - Perubahan zaman bergerak semakin cepat. Persoalan ekonomi, politik, teknologi hingga hubungan antarnegara saling berkelindan dan memengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam situasi tersebut, kader organisasi mahasiswa tidak cukup hanya memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat. Mereka juga membutuhkan kemampuan untuk memahami persoalan sebelum menentukan sikap.
Hal tersebut menjadi salah satu penekanan Tri Prakoso dalam kegiatan Sekolah Kader GMNI. Ia mendorong kader untuk membangun budaya membaca sebagai bagian dari proses kaderisasi dan pembentukan kemampuan berpikir.
Menurut Tri Prakoso, literasi memiliki peran penting agar kader tidak berhenti pada pengetahuan di permukaan, tetapi mampu melihat berbagai persoalan melalui perspektif yang lebih luas, termasuk dalam memahami geoekonomi, geostrategi, dan geopolitik.
Literasi sebagai Bekal Membaca Realitas
Literasi sering kali dipahami sebatas kemampuan membaca buku atau memperoleh informasi.
Namun dalam kehidupan kader dan gerakan mahasiswa, maknanya jauh lebih luas.
Literasi menjadi kemampuan untuk membaca realitas.
Seorang kader tidak cukup hanya mengetahui bahwa sebuah kebijakan telah dibuat. Ia perlu memahami gagasan yang melatarbelakanginya, kepentingan yang berada di belakangnya, serta konteks sosial, ekonomi, dan politik yang membentuk keputusan tersebut.
Tanpa kebiasaan membaca, sebuah persoalan mudah dilihat secara sederhana. Sebuah kebijakan dapat langsung dinilai benar atau salah tanpa memahami alasan, proses, maupun kepentingan yang menyertainya.
Padahal, realitas sosial tidak selalu sesederhana kesimpulan pertama.
Karena itu, budaya membaca menjadi penting untuk melatih kader melihat persoalan dari berbagai sisi.
Memahami Pemikiran untuk Membaca Kekuasaan
Tri Prakoso juga menekankan pentingnya mengenali berbagai pemikiran yang membentuk cara pandang seseorang.
Untuk memahami pemikiran seorang tokoh, misalnya, seseorang perlu mengetahui gagasan dan bacaan yang memengaruhi tokoh tersebut. Dari sana, kader dapat melihat bagaimana sebuah ide berkembang dan kemudian memengaruhi keputusan maupun kebijakan.
Membaca pemikiran tokoh seperti Adam Smith, misalnya, bukan semata-mata untuk menghafal teori ekonomi.
Lebih jauh, kader dapat memahami bagaimana sebuah gagasan ekonomi lahir, berkembang, dan kemudian memberikan pengaruh terhadap cara masyarakat melihat ekonomi serta hubungan antara negara, pasar, dan masyarakat.
Dengan demikian, membaca bukan sekadar mengumpulkan informasi.
Membaca adalah proses membangun kemampuan untuk mempertanyakan.
Ketika Literasi Menjadi Bekal Perjuangan
Bagi kader yang membawa semangat keberpihakan kepada rakyat, pengetahuan memiliki posisi penting.
Keberpihakan tanpa pengetahuan berisiko berhenti sebagai slogan. Sebaliknya, pengetahuan tanpa keberpihakan dapat kehilangan arah.
Keduanya membutuhkan keseimbangan.
Kader membutuhkan ketajaman berpikir sekaligus keteguhan berpihak.
Hal itu menjadi semakin relevan ketika persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya berasal dari dinamika lokal. Perubahan ekonomi global, konflik antarnegara, kebijakan perdagangan, perkembangan investasi hingga perubahan geopolitik dapat membawa dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan rakyat.
Karena itu, kemampuan memahami geoekonomi, geostrategi, dan geopolitik bukan hanya persoalan pengetahuan internasional.
Ia berkaitan dengan kemampuan memahami realitas yang pada akhirnya bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.
Kader Tidak Cukup Hanya Pandai Berbicara
Kaderisasi pada akhirnya tidak semestinya hanya menghasilkan kader yang mampu berbicara di depan forum.
Kader juga perlu memiliki kemampuan untuk berpikir sebelum berbicara, membaca sebelum menyimpulkan, serta menguji sebuah pendapat sebelum mempercayainya.
Budaya membaca melatih seseorang untuk tidak terburu-buru menerima sebuah kesimpulan.
Sebuah informasi perlu diperiksa. Sebuah pendapat perlu diuji. Sebuah kebijakan perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Dari proses itulah kemampuan analisis tumbuh.
Dan bagi organisasi mahasiswa, kemampuan tersebut menjadi penting karena kader akan berhadapan dengan persoalan masyarakat yang terus berubah.
Memahami Ekonomi, Tidak Hanya Politik
Dalam pemaparannya, Tri Prakoso juga menyampaikan pentingnya memperluas pengetahuan kader terhadap dunia ekonomi, termasuk investasi dan saham.
Pengetahuan tersebut menjadi salah satu cara agar kader tidak hanya melihat realitas melalui perspektif politik, tetapi juga memahami mekanisme ekonomi yang ikut membentuk kehidupan masyarakat.
Kondisi ekonomi, investasi, pasar, lapangan pekerjaan, hingga kebijakan ekonomi global memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, memahami ekonomi menjadi bagian dari upaya memahami persoalan rakyat secara lebih utuh.
Kader yang berbicara mengenai kesejahteraan masyarakat, misalnya, perlu memiliki pemahaman mengenai bagaimana kesejahteraan tersebut dibentuk, faktor apa saja yang memengaruhinya, serta bagaimana kebijakan ekonomi dapat memberikan dampak berbeda bagi kelompok masyarakat.
Sekolah Kader sebagai Ruang Membentuk Cara Berpikir
Sekolah kader pada akhirnya bukan hanya ruang untuk mendapatkan materi.
Lebih jauh, ia merupakan ruang untuk membentuk cara berpikir.
Kader yang baik bukanlah kader yang merasa paling tahu. Justru sebaliknya, kader perlu memiliki kesadaran bahwa pengetahuan harus terus dicari, diperbarui, dan diuji.
Sebab zaman terus bergerak.
Konstelasi politik berubah. Ekonomi global berkembang. Teknologi mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi. Kepentingan antarnegara bergeser. Persoalan masyarakat pun ikut berkembang.
Jika realitas berubah, maka cara membaca realitas juga harus terus diperbarui.
Di sinilah literasi menemukan maknanya sebagai bagian dari perjuangan intelektual kader.
Membaca adalah cara mengenali dunia.
Menganalisis adalah cara memahami dunia.
Dan keberpihakan adalah cara menentukan untuk apa pengetahuan itu digunakan.
Karena itu, literasi tidak semestinya menjadi kegiatan tambahan dalam kaderisasi.
Ia harus menjadi bagian dari kehidupan kader itu sendiri.
Sebab seorang kader yang ingin memperjuangkan perubahan harus terlebih dahulu mampu memahami perubahan yang sedang terjadi.
Pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang membuka halaman demi halaman buku.
Membaca berarti belajar memahami sejarah, manusia, ekonomi, politik, kekuasaan, dan perubahan zaman.
Dan setelah semua itu dipahami, seorang kader dihadapkan pada pertanyaan yang lebih penting:
Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan?
Sebab perjuangan yang besar tidak hanya membutuhkan keberanian untuk bergerak.
Ia membutuhkan pengetahuan untuk memahami, kesadaran untuk menentukan sikap, dan keberpihakan untuk menentukan arah.
Editor : Deasy Arista Sari