Terasing di Era Kegaduhan

Reporter : Redaksi
Percakapan sederhana di coffee shop kadang menjadi ruang kecil untuk berhenti sejenak dari kegaduhan dunia.

Malam itu seorang teman membaca tulisan saya, Dunia Kita Saat Ini: di Layar Ada Perang, di Meja Masih Ada Kopi.

Teman itu, Ali.

Seorang teman bicara yang sering berbagi pandangan hidup dari sudut pandang manusia usia kepala empat.

Bukan teman sembarang teman.

Ali adalah seorang jurnalis yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia media. Cara ia melihat kehidupan sering kali tenang, jernih, dan memberi perspektif baru.

Saya sendiri menaruh hormat pada cara ia memandang banyak hal.

Malam itu ia mengirim satu pesan singkat.

“Mbak, bikin tulisan Terasing Dalam Kegaduhan.”

Saya membaca kalimat itu beberapa kali.

Menarik sekali.

Terasing dalam kegaduhan.

Dua kata yang terasa seperti bertabrakan, tetapi justru terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang.

Kegaduhan biasanya menggambarkan keramaian.

Suara yang bersahut-sahutan.

Percakapan yang tidak berhenti.

Banyak orang berbicara pada waktu yang bersamaan.

Sementara kata terasing justru membawa perasaan yang berbeda.

Sendiri.

Terpisah.

Tidak benar-benar terhubung.

Paradoks yang aneh.

Logikanya, bagaimana mungkin seseorang merasa terasing di tengah kegaduhan?

Namun semakin dipikirkan, mungkin justru itulah gambaran kehidupan kita sekarang.


Lalu saya berpikir, bagaimana kalau judulnya:

“Terasing di Era Kegaduhan.”

Mas Ali, kamu setuju kan?


Hari ini dunia hampir tidak pernah benar-benar sunyi.

Selalu ada sesuatu yang berbunyi.

Notifikasi.

Pesan masuk.

Berita baru.

Komentar baru.

Seseorang membagikan opini.

Seseorang lain menanggapinya.

Percakapan berjalan tanpa henti di layar kita.

Di timeline.

Di grup chat.

Di kolom komentar.

Seolah-olah dunia sedang berbicara terus-menerus.

Namun kadang saya berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri.

“Kadang timeline ramai banget ya.. tapi aku tetap merasa sendirian.”


Kita hidup di zaman yang sangat terhubung.

Dalam hitungan detik kita bisa berbicara dengan seseorang di kota lain.

Dalam beberapa menit kita bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia yang jauh.

Kita bisa melihat kehidupan orang lain.

Mendengar pendapat mereka.

Mengetahui apa yang mereka pikirkan hari ini.

Secara teknis, manusia belum pernah se-terhubung ini sebelumnya.

Namun anehnya, semakin banyak orang mulai merasa semakin sendiri.

“Di layar ponselku ada banyak percakapan, tapi tidak semuanya terasa seperti hubungan.”


Kadang kita membaca ratusan opini dalam satu hari.

Orang berdebat tentang politik.

Orang berdebat tentang isu sosial.

Orang berdebat tentang banyak hal.

Semua orang berbicara.

Semua orang ingin didengar.

Mereka punya sudut pandang berbda-beda.

Namun semakin banyak suara muncul, semakin sulit rasanya untuk benar-benar mendengar satu sama lain.

Kegaduhan perlahan menggantikan percakapan itu.

“Semua orang seperti sedang bicara, tapi rasanya tidak ada yang benar-benar mendengar.”


Ada masa ketika kesunyian terasa menakutkan.

Sunyi dianggap kosong.

Karena itu manusia selalu mencari suara.

Radio dinyalakan.

Televisi menyala di ruang tamu.

Musik diputar di perjalanan.

Sekarang bentuknya sedikit berbeda.

Kita membuka aplikasi.

Menggeser layar.

Mencari sesuatu yang baru.

Sesekali hanya untuk memastikan bahwa dunia masih bergerak.

Bahwa kita tidak sendirian.


Namun justru di tengah semua itu, ruang hening perlahan menjadi sesuatu yang langka.

Kita jarang benar-benar duduk tanpa distraksi.

Jarang benar-benar diam.

Jarang memberi ruang bagi pikiran kita sendiri untuk berbicara.

Karena setiap kali ada jeda kecil, tangan kita hampir otomatis meraih ponsel.

Mencari sesuatu untuk dilihat.

Sesuatu untuk dibaca.

Sesuatu untuk mengisi kekosongan beberapa detik.

“Notifikasi terus bunyi, tapi hati tetap terasa sepi.”


Padahal mungkin justru di dalam keheningan itulah manusia biasanya menemukan dirinya.

Di dalam hening, kita mulai mendengar pikiran sendiri.

Mengingat hal-hal yang selama ini kita abaikan.

Memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.

Namun di dunia yang selalu gaduh, ruang seperti itu semakin jarang kita temui.


Mungkin itu sebabnya banyak orang merasa terasing, meskipun mereka dikelilingi begitu banyak suara.

Bukan karena dunia menjadi sepi.

Justru karena dunia terlalu bising.

Begitu banyak yang berbicara, sampai kita tidak tahu lagi suara mana yang benar-benar penting.

Begitu banyak yang ingin didengar, sampai kita lupa bagaimana rasanya benar-benar mendengarkan.

“Ahh! Terlalu bising, aku cuma butuh sedikit keheningan.”


Catatan Refleksi Penulis
Di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, mungkin kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak percakapan.

Kadang yang kita butuhkan justru adalah ruang.

Ruang untuk diam.

Ruang untuk bernapas.

Ruang untuk benar-benar hadir di dalam kehidupan kita sendiri.

Karena tanpa kita sadari, dunia sekarang sering terasa terlalu penuh.

Terlalu banyak berita.

Terlalu banyak opini.

Terlalu banyak suara yang datang bersamaan.

Setiap hari kita membaca banyak hal, mendengar banyak hal, melihat banyak hal. Namun di tengah semua itu, kita jarang benar-benar berhenti untuk bertanya pada diri sendiri: bagaimana sebenarnya perasaan kita hari ini?

Kadang kita begitu sibuk mengikuti kegaduhan dunia, sampai lupa memberi waktu untuk mendengar suara hati sendiri.

Padahal manusia tidak hanya butuh informasi.

Manusia juga butuh ketenangan.

Butuh ruang untuk mencerna kehidupan.

Butuh waktu untuk sekadar duduk, menarik napas, dan merasa cukup dengan hari yang sedang dijalani.

Mungkin kita memang hidup di era kegaduhan.

Dunia tidak pernah benar-benar diam.

Namun bukan berarti kita harus selalu ikut terbawa di dalamnya.

Sesekali, tidak apa-apa untuk melangkah sedikit menjauh.

Mematikan notifikasi.

Menutup layar.

Membiarkan dunia berjalan tanpa kita selama beberapa saat.

Karena sering kali justru dalam keheningan itulah kita kembali menemukan sesuatu yang sangat penting.

Ketenangan.

Kejernihan.

Dan mungkin juga diri kita sendiri.

Dan mungkin di tengah dunia yang begitu gaduh ini, yang kita cari sebenarnya bukan lebih banyak suara, melainkan sedikit ruang untuk hening.

Ya.. Keheningan meski sesaat.

 

 

Editor : Redaksi

Refleksi Diri
Populer
Berita Terbaru