Jejakdanarah.com - Batik akan mengambil jalan yang berbeda di Surabaya pada Hari Batik Nasional (HBN) 2026. Bukan hanya dipajang sebagai kain atau dikenakan sebagai busana, batik akan dibawa lebih dekat ke ruang publik, berjumpa dengan teknologi, generasi muda, seni, hingga menyusuri Sungai Kalimas.
Yayasan Batik Indonesia (YBI) bersama Komite Hari Batik Nasional 2026 menyiapkan rangkaian HBN ke-17 pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Surabaya.
Salah satu agenda yang paling menarik perhatian adalah Batik Berlayar pada 2 Oktober 2026. Sekitar 10 perahu akan dihias dengan batik Jawa Timur dan bergerak dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel).
Namun, perjalanan perahu tersebut bukan sekadar pertunjukan. Di baliknya ada gagasan yang lebih besar, membawa batik keluar dari ruang yang selama ini membuatnya terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Bukan Hanya Melihat, tetapi Mengalami Batik
Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, Gita Pratama Kartasasmita, mengatakan konsep HBN tahun ini berangkat dari pertanyaan sederhana tentang bagaimana masyarakat dapat memiliki hubungan yang lebih dekat dengan batik.
“Bagaimana kalau tahun ini kita tidak hanya melihat batik, tetapi benar-benar mengalaminya.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam rangkaian HBN 2026.
Batik kemudian tidak hanya ditempatkan sebagai benda budaya yang dipamerkan. Ia hadir dalam berbagai pengalaman yang menggabungkan tradisi dengan teknologi, kreativitas, fashion, seni, dan aktivitas masyarakat.
Pameran akan berlangsung di Grand Atrium dan Corridor Tunjungan Plaza 3. Para perajin dari berbagai daerah di Jawa Timur akan mendapat ruang untuk memperkenalkan karya mereka.
Pengunjung juga akan menemukan elemen interaktif. Salah satunya berupa layar yang memungkinkan pengunjung memilih visual pakaian dengan motif batik. Lantai pun dirancang menjadi bagian dari pengalaman visual tersebut.
Rangkaian acara dilengkapi fashion show, Reels Competition, workshop digital berbasis AI untuk UMKM, pertunjukan seni dan musik, serta program kreatif untuk anak-anak.
Sejumlah talkshow juga akan membicarakan masa depan batik, termasuk teknologi, keberlanjutan, identitas, industri kreatif, dan hubungan batik dengan generasi muda.
Tulungagung dan Cerita yang Ada di Balik Motif
HBN 2026 memberi perhatian khusus kepada Batik Tulungagung.
Beberapa motif yang akan diperkenalkan antara lain Lurik Bhumi Ngrowo, Gajah Modo, Bangoan, Majanan, dan Kalangbret.
Ketua Panitia HBN 2026 sekaligus Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur, Wirasno, menjelaskan bahwa pilihan tersebut tidak terlepas dari kondisi batik dan para perajinnya.
Ia menyebut telah melihat kondisi batik di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Tulungagung dinilai masih mempertahankan motif dan produksi batiknya, meski keberadaan perajin juga menghadapi tantangan.
Bagi Wirasno, perajin merupakan ujung tombak dalam keberlangsungan batik. Mereka bukan hanya membuat kain, tetapi juga menjaga pengetahuan, teknik, motif, serta filosofi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, memperkenalkan motif daerah juga berarti membuka kesempatan agar karya para perajin semakin dikenal.
Dalam HBN 2026, perajin dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur akan dilibatkan dalam rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa cerita batik Jawa Timur tidak hanya berasal dari satu kota atau satu jenis motif.
Batik Berlayar di Sungai Kalimas
Jika pameran di Tunjungan Plaza membawa batik bertemu teknologi dan pengunjung, Batik Berlayar membawa cerita itu ke ruang publik yang berbeda.
Pada 2 Oktober, sekitar 10 perahu bermotif batik Jawa Timur akan menyusuri Sungai Kalimas dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam.
Pertunjukan tari, musik, perkusi, dan permainan cahaya akan menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Gita menyebut program ini sebagai cara untuk menghadirkan batik di luar ruang pamer.
“Kalau biasanya kita membawa batik ke sebuah gedung, kali ini kita bawa batik berlayar.”
Kalimas menjadi panggung terbuka. Masyarakat tidak harus datang ke sebuah ruang pamer untuk bertemu dengan batik.
Konsep tersebut sekaligus memperluas cara memaknai batik. Warisan budaya tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang formal. Ia dapat masuk ke ruang kota dan menjadi bagian dari pengalaman masyarakat.
Ketika Generasi Muda Menjadi Bagian dari Masa Depan Batik
Di tengah upaya membawa batik ke ruang yang lebih luas, generasi muda menjadi bagian penting dari pembicaraan.
Gita mengatakan anak muda perlu memiliki alasan sendiri untuk menyukai batik. Bukan sekadar karena mereka diminta mengenakannya.
Dalam survei yang dipaparkan dalam rangkaian HBN, anak muda disebut masih menyukai batik. Namun, batik juga dinilai belum selalu praktis untuk digunakan sehari-hari dan lebih sering dikaitkan dengan acara tertentu.
Di sinilah tantangannya.
Batik perlu menemukan bentuk penggunaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya pakaian formal, tetapi juga dapat hadir melalui fashion, sepatu, tas, dan berbagai produk kreatif lainnya.
Teknologi digital juga membuka kemungkinan baru untuk memperkenalkan batik dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi sekarang.
“Bagi kami, Gen Z pakai batik saja sudah bagus.”
Bagi Gita, kecintaan terhadap batik tidak harus dibangun dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya.
Yang lebih penting adalah membuat generasi muda menemukan hubungan mereka sendiri dengan batik.
Menjaga Batik Berarti Menjaga Kehidupan di Baliknya
Cerita tentang batik pada akhirnya tidak berhenti pada motif.
Ada perajin yang membuatnya. Ada pengetahuan yang harus diwariskan. Ada bahan dan proses produksi. Ada pasar yang menentukan apakah produk tersebut dapat terus dibuat.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian RI, Reni Yanita, melihat batik sebagai sebuah ekosistem.
Di dalamnya terdapat komunitas, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, perajin, hingga konsumen.
Pemerintah memiliki peran sebagai regulator sekaligus memberikan dukungan kepada pelaku industri. Salah satunya melalui fasilitas, termasuk restrukturisasi mesin dan peralatan.
Menurut Reni, upaya menjaga batik juga harus memberikan kehidupan yang layak bagi para perajin.
“Kita tidak ingin perajin atau kota batik tinggal sejarah.”
Pesan tersebut menjadi penting ketika industri batik menghadapi perubahan pasar.
Dalam pemaparannya, Reni menyinggung perlambatan ekspor batik serta pentingnya pasar domestik. Ia juga menyoroti perlunya adaptasi produk agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Adaptasi tersebut dapat menyentuh motif, warna, penggunaan pewarna alami, maupun pengembangan produk.
Dengan begitu, keberlanjutan batik tidak hanya berbicara mengenai bagaimana mempertahankan sesuatu yang sudah ada, tetapi bagaimana membuatnya tetap memiliki ruang untuk tumbuh.
Dari Warisan Budaya Menjadi Bagian dari Kehidupan
Hari Batik Nasional memiliki akar sejarah yang kuat. Pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia telah berlangsung selama 17 tahun, dan 2 Oktober kemudian diperingati sebagai Hari Batik Nasional.
Namun, perjalanan sebuah warisan budaya tidak selesai hanya karena telah mendapatkan pengakuan.
Batik tetap membutuhkan orang yang membuatnya, orang yang menggunakannya, pasar yang menerimanya, serta generasi yang bersedia mempelajari dan mengembangkannya.
Itulah yang coba dibaca melalui HBN 2026.
Teknologi digunakan bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi membuka cara baru untuk memperkenalkannya. Ruang publik digunakan agar batik tidak berhenti di ruang pamer. Generasi muda dilibatkan agar hubungan dengan batik tidak putus pada pergantian generasi.
Dan di Sungai Kalimas, batik akan mengambil bentuk yang paling mudah dilihat, sejumlah perahu bergerak membawa motif Jawa Timur menyusuri kota.
Mungkin di situlah pesan HBN 2026 menemukan bentuknya.
Batik tidak harus tinggal diam agar tetap menjadi warisan.
Ia bisa bergerak bersama zaman, bertemu dengan teknologi, masuk ke kehidupan sehari-hari, dan menemukan generasi yang akan membawanya lebih jauh.
Kali ini, ia bahkan berlayar.
Editor : Redaksi