Di Antara Grafik dan Naluri: Menjadi Ibu di Era Informasi

Reporter : Redaksi
Ibu muda memeluk bayinya di kamar bayi yang nyaman, menggambarkan kedekatan dan relasi emosional antara ibu dan anak.

Pengantar Redaksi
Kali ini izinkan aku menulis sedikit lebih santai.

Beberapa waktu lalu sahabatku, Lena, mengirimkan tulisan berjudul “Dunia Penuh Tragedi, Tapi Kita Tetap Scroll.”

Tulisan itu cukup banyak dibaca dan meninggalkan kesan yang kuat.

Lena memang selalu menulis dengan cara yang jujur dan reflektif.

Beberapa hari lalu ia kembali mengirimkan tulisan lain.

Kali ini temanya berbeda.

Lebih personal.

Dan entah kenapa, sebagai sahabatnya, aku membaca tulisan ini dengan perasaan yang jauh lebih tersentuh.

Mungkin karena aku mengenal Lena cukup lama, lebih dari delapan tahun.

Kami adalah sahabat jarak jauh.

Lena tinggal di benua lain, sementara aku di Surabaya.

Tapi kami hidup di zaman teknologi yang membuat jarak terasa jauh lebih kecil.

Kami jarang bertemu secara fisik, tetapi kami bisa saling menyapa lewat video call kapan saja.

Bahkan perbedaan waktu kami hanya sekitar satu jam.

Karena itu, aku seperti menyaksikan perjalanan hidupnya dari jauh.

Sejak awal mengenalnya, Lena bukan tipe orang yang mudah berubah arah hidupnya.

Ia punya ritme sendiri.

Ia tahu apa yang ia suka, dan apa yang tidak.

Termasuk satu hal yang dulu sering kami tertawakan bersama: menjadi ibu.

Karena jika mengenal Lena, rasanya sulit membayangkan dia ingin hidup yang “seramai” itu.

Sampai akhirnya ia menikah.

Aku bahkan terbang sekitar enam jam hanya untuk menghadiri pernikahannya.

Sebuah intimate wedding yang sepenuhnya ia rancang sendiri.

Pernikahan yang hangat, sederhana, dan terasa sangat personal.

Dari semua tamu yang hadir, rasanya sulit membedakan mana keluarga dan mana sahabat.

Semua orang terasa menyatu dalam kebahagiaan Lena dan suaminya.

Dan setelah itu, tentu muncul pertanyaan yang hampir selalu datang setelah pernikahan.

Lalu apa berikutnya?

Sejujurnya, sampai hari ini aku masih sedikit tidak menyangka.

Lena… menjadi seorang ibu.

Yang membuatku semakin kagum adalah bagaimana ia menjalani semuanya.

Ia merawat bayinya dengan penuh perhatian, banyak hal ia lakukan sendiri, dengan kesabaran yang tidak sedikit.

Tulisan berikut lahir dari pengalaman itu.

Bukan sebagai panduan parenting.
Bukan juga sebagai jawaban atas semua pertanyaan tentang membesarkan anak.

Melainkan sebagai refleksi kecil tentang menjadi ibu di zaman yang penuh informasi.


Menjadi Ibu di Era Informasi
oleh Lena

Sejak menjadi ibu, aku mulai menyadari sesuatu yang tidak pernah benar-benar kupikirkan sebelumnya.

Menjadi ibu di zaman sekarang terasa… ramai.

Bukan karena bayinya.

Bayi sebenarnya sederhana.

Ia lapar, ia minum.
Ia lelah, ia tidur.
Ia ingin dipeluk, ia menangis.

Yang membuatnya terasa rumit justru semua hal di sekelilingnya.

Begitu seorang bayi lahir, internet seolah ikut lahir bersamanya.

Sebelum aku benar-benar percaya diri menggendong bayiku sendiri, aku sudah membuka puluhan tab pencarian.

Berapa mililiter bayi seharusnya minum?
Apakah pola tidur ini normal?
Persentil berapa yang dianggap sehat?

Dalam beberapa detik, ratusan jawaban muncul.

Kadang saling bertentangan.

Aku sering membayangkan bagaimana ibu-ibu dulu menjalani semua ini.

Ibuku tidak memiliki grafik perkembangan di ponselnya.

Jika aku menangis lebih lama dari biasanya, mungkin ia hanya akan menggendongku lebih lama.

Jika aku sulit tidur, mungkin ia hanya menghela napas dan berkata,
“Ya sudah, memang begini bayi.”

Nasihat datang dari nenek, dari tetangga, dari seseorang yang pernah melewati hal yang sama.

Pengetahuan bergerak pelan.

Sekarang semuanya datang sekaligus.

Ada grafik, aplikasi, forum, konsultan tidur, influencer parenting, dan ribuan artikel yang menjelaskan cara “terbaik” membesarkan anak.

Kadang rasanya seperti aku sedang mengelola proyek penelitian kecil.

Aku mencatat berapa banyak bayiku minum.
Berapa lama ia tidur.
Berapa banyak popok basah.

Dan di tengah semua itu, kadang muncul satu pertanyaan kecil yang tidak selalu berani diucapkan keras-keras:

Apakah aku melakukan ini dengan benar?

Ironisnya, banyak ibu hari ini sebenarnya sangat berusaha.

Kami membaca penelitian.
Kami mempelajari perkembangan anak.
Kami mencoba melakukan semuanya dengan lebih sadar dan penuh perhatian.

Tetapi ketika informasi tidak pernah berhenti datang, sesuatu yang lebih tenang kadang tertutup.

Naluri.

Naluri yang mengenali tangisan bayi sendiri.

Naluri yang tahu bahwa bayi ini lapar meskipun jadwal berkata sebaliknya.

Naluri yang hanya bisa dipelajari dari waktu yang dihabiskan bersama.

Kadang pelajaran terbesar menjadi ibu hari ini bukan tentang menemukan lebih banyak informasi.

Justru tentang belajar menutup ponsel sebentar.

Menggendong bayi.

Dan percaya bahwa hubungan kecil antara ibu dan anak itu lebih tua daripada semua artikel yang pernah ditulis di internet.

Di tengah semua grafik dan nasihat, ada sesuatu yang tidak pernah berubah.

Bayiku masih menggenggam jariku dengan sangat kuat.

Ia masih tertidur di dadaku.

Dan ketika ia memandangku, rasanya seperti seluruh dunia berhenti sebentar.

Pada saat-saat seperti itu, semua grafik dan persentil terasa jauh sekali.

Yang tersisa hanya dua manusia yang sedang belajar mengenal satu sama lain.

Seorang ibu.
Dan seorang anak yang baru saja tiba di dunia.


Catatan Redaksi
Tulisan Lena mungkin berbicara tentang menjadi ibu.

Namun sebenarnya ia juga menyentuh sesuatu yang lebih luas: bagaimana manusia hidup di tengah dunia yang semakin penuh informasi.

Hari ini kita semua hidup dikelilingi data, grafik, dan nasihat yang datang tanpa henti.

Kita sering percaya bahwa semakin banyak informasi, semakin dekat kita pada jawaban yang benar.

Namun dalam banyak relasi manusia, tidak semua hal bisa dijelaskan oleh data.

Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami lewat kehadiran.

Lewat waktu yang dihabiskan bersama.

Tulisan Lena mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang semakin cepat, hubungan manusia tetap tumbuh dengan cara yang sangat lama.

Pelan.
Dekat.
Dan sering kali tanpa banyak teori.

 

 

Editor : Redaksi

Refleksi Diri
Populer
Berita Terbaru