Bicara tentang kehidupan, rasanya sulit memisahkannya dari keimanan.
Bukan berarti setiap orang harus selalu berbicara tentang iman.
Dan sejujurnya, tulisan ini juga bukan tentang seberapa kuat atau seberapa religius seseorang.
Menurutku, itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan.
Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya sendiri.
Ada yang berjalan dengan keyakinan yang sangat teguh, ada yang berjalan sambil terus bertanya, dan ada juga yang mungkin masih mencari.
Dan mungkin, semua perjalanan itu sama-sama bagian dari proses manusia memahami hidup.
Namun semakin lama aku menjalani kehidupan, semakin aku menyadari ada satu hal yang sering sekali disebut dalam kehidupan beriman, tetapi justru jarang benar-benar kita pahami secara mendalam.
Sebuah kalimat yang sering terdengar dalam doa, dalam khotbah, dalam percakapan rohani, bahkan dalam nasihat ketika seseorang sedang melewati masa sulit.
Kalimat itu adalah:
Janji Tuhan.
Kalimat yang terdengar sederhana, tetapi semakin kupikirkan, semakin aku menyadari bahwa aku sendiri belum benar-benar memahami maknanya.
Karena jika dipikir-pikir, sebuah pertanyaan sederhana mulai muncul di dalam benakku.
Memangnya Tuhan pernah berjanji apa?
Kapan?
Dan bagaimana kita tahu bahwa itu memang janji Tuhan?
Sebelum melanjutkan tulisan ini, izinkan aku mengatakan satu hal kepada para pembaca.
Dalam tulisan ini aku akan banyak berbicara dari sudut pandang iman Katolik, dari apa yang aku kenal melalui Kitab Suci.
Tidak ada maksud untuk membandingkan atau membedakan keyakinan.
Ini hanya jalur yang aku kenal, dan dari sanalah refleksi ini lahir.
Ketika Hidup Mulai Berubah
Aku mulai memikirkan pertanyaan itu dengan serius ketika hidup berubah cukup drastis saat memasuki usia empat puluh tahun.
Di usia itu, ada banyak hal yang tiba-tiba terasa berbeda.
Beberapa hal yang dulu terasa stabil mulai bergeser.
Beberapa rencana yang pernah terlihat jelas tiba-tiba berubah arah.
Dan beberapa hal yang pernah terasa pasti perlahan runtuh satu per satu.
Ada masa di mana aku merasa seperti berdiri di tengah kehidupan yang tiba-tiba berubah bentuk.
Apa yang dulu terasa jelas, menjadi kabur.
Apa yang dulu terasa pasti, menjadi penuh pertanyaan.
Kadang perubahan itu datang perlahan.
Kadang juga datang sekaligus, seperti gelombang yang memukul tanpa peringatan.
Dan ketika terlalu banyak hal berubah dalam waktu yang bersamaan, manusia sering mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidupnya.
Termasuk hubungannya dengan Tuhan.
Ada malam-malam di mana aku hanya bisa duduk diam.
Bukan karena aku tidak ingin berdoa.
Tetapi karena aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa kepada Tuhan.
Doa yang biasanya mengalir terasa terhenti.
Ada begitu banyak pertanyaan yang berputar di dalam pikiran.
Tuhan, sebenarnya Engkau sedang melakukan apa dalam hidupku?
Apakah ini bagian dari rencana-Mu?
Atau aku yang salah mengambil jalan?
Dan di tengah semua pertanyaan itu, satu kalimat terus muncul di dalam pikiranku.
Jika orang sering berkata tentang janji Tuhan,
sebenarnya janji itu apa?
Mencari Jawaban Sendiri
Untuk waktu yang cukup lama, aku mencoba mencari jawabannya sendiri.
Aku mencoba mengingat kembali banyak hal yang pernah kudengar tentang janji Tuhan.
Tentang berkat.
Tentang masa depan yang baik.
Tentang kehidupan yang dipelihara Tuhan.
Namun semakin kupikirkan, semakin aku menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti kalimat-kalimat indah yang sering kita dengar.
Ada doa yang tidak segera dijawab.
Ada harapan yang tidak terjadi sesuai rencana.
Ada jalan hidup yang tiba-tiba berubah tanpa kita mengerti alasannya.
Dan di tengah semua itu, aku mulai menyadari sesuatu yang cukup jujur dalam diriku.
Bahwa selama ini mungkin aku memahami janji Tuhan dengan cara yang terlalu sederhana.
Seolah-olah janji Tuhan berarti hidup akan berjalan baik-baik saja.
Padahal kehidupan manusia tidak selalu seperti itu.
Kadang justru di tengah iman, kita tetap mengalami kebingungan.
Tetap mengalami kehilangan.
Tetap mengalami masa-masa di mana kita tidak mengerti apa yang sedang Tuhan lakukan.
Sebuah Percakapan yang Mengubah Cara Pikirku
Suatu hari, aku akhirnya menanyakan pertanyaan itu kepada seseorang yang sangat aku percaya.
Seseorang yang sudah lama aku anggap seperti kakak sendiri.
Aku bertanya dengan jujur.
“Kak, bagaimana sebenarnya kita melihat janji Tuhan? Maksudku… kapan Tuhan janji sih? Dan bagaimana kita memaknai janji itu?”
Ia tidak langsung menjawab panjang.
Tetapi kata-katanya membuatku berpikir cukup lama.
Ia berkata bahwa bagi dia, janji Tuhan yang umum sebenarnya bisa kita lihat di dalam Alkitab.
Janji-janji yang diberikan kepada umat Tuhan secara luas.
Misalnya janji bahwa Tuhan menjaga perjalanan umat-Nya.
Bahwa Tuhan memelihara kehidupan mereka.
Bahwa Tuhan menjadikan umat-Nya kepala dan bukan ekor.
Bahwa Tuhan menjaga lumbung kehidupan mereka.
Semua itu adalah janji yang tertulis di dalam firman Tuhan.
Namun ia juga mengatakan sesuatu yang menurutku jauh lebih dalam.
Bahwa ada juga janji Tuhan yang bersifat pribadi.
Janji yang lahir dari hubungan yang karib dengan Tuhan.
Janji yang kita pahami melalui tuntunan Roh Kudus.
Janji yang mungkin tidak selalu bisa dijelaskan kepada orang lain, tetapi entah bagaimana kita tahu bahwa itu adalah sesuatu yang Tuhan taruh di dalam hati kita.
Lalu aku bertanya lagi.
“Kapan Tuhan sebenarnya berjanji?”
Ia menjawab dengan sederhana.
Baginya, Tuhan berjanji setiap saat.
Karena janji Tuhan tidak dibatasi oleh waktu manusia.
Janji-Nya kekal.
Ketika aku bertanya bagaimana memaknai janji itu, ia mengatakan sesuatu yang sangat jujur.
Bahwa dalam perjalanan hidup akan ada masa di mana kita benar-benar tidak mengerti apa-apa.
Ada masa kita merasa kosong.
Tidak tahu harus melakukan apa.
Tidak yakin apakah keputusan yang kita ambil benar.
Ada masa kita bertanya:
Apakah aku salah jalan?
Apakah aku salah memilih?
Apakah aku salah mendengar?
Namun akan ada juga momen yang berbeda.
Momen ketika kita melangkah dengan keyakinan yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Dan ketika kita menjalaninya, suatu hari kita tiba-tiba sadar.
“Oh… ini ternyata yang pernah Tuhan taruh di hatiku.”
Di situlah kita mulai memahami.
Bahwa ada janji Tuhan yang memang bersifat pribadi.
Private.
Spesial.
Dan hanya kita yang benar-benar memahami perjalanan janji itu.
Memahami Janji Tuhan Secara Berbeda
Percakapan itu membuatku melihat janji Tuhan dengan cara yang berbeda.
Selama ini mungkin aku terlalu memahami janji Tuhan seperti cara manusia berjanji.
Seolah-olah janji harus memiliki waktu yang jelas.
Bentuk yang pasti.
Dan hasil yang bisa langsung terlihat.
Padahal mungkin janji Tuhan tidak selalu seperti itu.
Mungkin janji Tuhan bukan tentang hidup yang selalu berjalan mudah.
Bukan juga tentang semua doa yang langsung dijawab sesuai keinginan kita.
Mungkin janji Tuhan lebih sederhana dari itu.
Bahwa di tengah semua musim kehidupan, baik ketika semuanya terasa baik, maupun ketika banyak hal runtuh, Tuhan tetap ada.
Tetap berjalan bersama kita.
Tetap menopang langkah kita.
Catatan Penulis
Setelah lebih dari empat puluh tahun menjalani kehidupan, aku masih tidak bisa mengatakan bahwa aku sudah benar-benar memahami janji Tuhan.
Sejujurnya, aku masih sering bertanya.
Masih sering ragu.
Masih sering tidak mengerti mengapa beberapa hal terjadi seperti yang terjadi.
Namun ada satu hal kecil yang mulai aku sadari.
Jika melihat perjalanan hidup dari jauh, ada begitu banyak momen di mana aku merasa tidak akan mampu melanjutkan.
Tetapi entah bagaimana, aku tetap berjalan sampai hari ini.
Bukan karena aku selalu kuat.
Bukan karena aku selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Tetapi mungkin karena ada sesuatu yang terus menopang langkahku, bahkan ketika aku sendiri tidak menyadarinya.
Dan mungkin, hanya mungkin, itulah yang dimaksud dengan janji Tuhan.
Bukan janji bahwa hidup akan selalu mudah.
Bukan janji bahwa semua keinginan kita akan terpenuhi.
Tetapi janji bahwa kita tidak benar-benar berjalan sendirian.
Dan mungkin memahami janji Tuhan bukan sesuatu yang selesai dalam satu hari.
Mungkin itu adalah sesuatu yang perlahan kita pahami,
seiring perjalanan hidup yang terus berjalan.
Dan mungkin juga…
pemahaman itu baru datang setelah banyak hal dalam hidup kita runtuh.
Editor : Redaksi