Ada banyak hal dalam hidup yang bisa kita jelaskan dengan logika.
Kita bisa menjelaskan pilihan karier, keputusan pindah kota, bahkan alasan kita bertahan dalam situasi tertentu.
Tapi tidak dengan cinta.
Cinta sering datang tanpa penjelasan yang rapi.
Ia tidak bertanya latar belakang, tidak meminta persetujuan siapa pun, dan tidak pernah benar-benar menunggu kita siap.
Dan mungkin, justru karena itu, cinta sering kali berbenturan dengan hal-hal yang dibuat manusia terasa harus “rapi” aturan, sistem, dan batas-batas yang tidak selalu kita pilih sendiri.
Tulisan ini mungkin menyentuh wilayah yang bagi sebagian orang terasa sensitif: agama, keyakinan, dan bagaimana keduanya hadir dalam sebuah hubungan.
Namun di sini, tidak ada niat untuk memperdebatkan benar atau salah.
Tidak ada upaya untuk menggugat, apalagi menilai.
Ini hanyalah sebuah refleksi..
yang lahir dari cerita seorang sahabat, tentang bagaimana dua orang dengan keyakinan yang berbeda memilih untuk tetap berjalan bersama.
Karena pada akhirnya, ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa kita sederhanakan hanya menjadi kategori yang rapi.
Seperti yang pernah terasa dalam lirik Mangu..
tentang bagaimana perasaan bisa tetap tumbuh, bahkan ketika dunia di sekelilingnya tidak selalu memberi ruang yang mudah.
Dalam relasi, kita sering diajarkan untuk mencari yang “sejalan”.
Seiman. Sepemikiran. Sepadan.
Tapi bagaimana jika yang kita temukan adalah seseorang yang berbeda,
namun tetap terasa seperti rumah?
Dan di titik itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi tentang apa yang benar menurut sistem,
tetapi tentang apa yang jujur kita rasakan sebagai manusia.
Di antara banyak hal yang sulit dijelaskan, mungkin cerita seperti ini tidak dimaksudkan untuk dipahami sepenuhnya.
Ia hanya perlu dirasakan.
Pelan-pelan.
Aku Katolik.
Suamiku Buddha.
Kalau kami tinggal di banyak negara lain, itu mungkin bukan cerita yang menarik sama sekali.
Dua orang berbeda latar belakang bertemu, jatuh cinta, lalu menikah.
Selesai.
Tapi di Indonesia, hal sesederhana itu tiba-tiba menjadi rumit.
Karena di sini, pernikahan hampir selalu harus melalui agama.
Dan jika dua orang memiliki agama yang berbeda, sistem seolah berhenti sebentar dan berkata: tunggu dulu.
Seolah-olah cinta harus terlebih dahulu mendapat persetujuan teologis sebelum boleh dianggap sah.
Sebagai seseorang yang besar di luar negeri, hal ini selalu terasa sedikit aneh bagiku.
Di banyak negara, agama adalah pilihan pribadi.
Sangat pribadi.
Ia tidak tertulis di kartu identitas. Negara tidak mencatatnya. Dan negara tentu tidak ikut menentukan apakah dua orang boleh menikah berdasarkan agama mereka.
Negara hanya melihat dua orang dewasa yang ingin membangun hidup bersama.
Itu saja.
Tidak ada yang bertanya apakah keyakinan mereka sama.
Tidak ada yang meminta seseorang mengganti agama agar pernikahan bisa terjadi.
Agama adalah urusan hati.
Negara mengurus hukum.
Di Indonesia, dua hal itu sering bercampur.
Dan kadang aku bertanya-tanya kenapa.
Bukankah keyakinan adalah sesuatu yang paling pribadi dalam hidup seseorang?
Sesuatu yang seseorang pilih untuk dirinya sendiri.
Kalau seseorang memilih menjadi Katolik, Buddha, Muslim, atau tidak terlalu religius sama sekali, itu seharusnya menjadi ruang yang sangat pribadi.
Tetapi di Indonesia, agama bahkan tertulis di KTP.
Ia menjadi identitas administratif.
Sesuatu yang harus dicatat, dilaporkan, dan sering kali, tanpa disadari, dijadikan batas.
Yang terasa ironis adalah ini:
Agama adalah pilihan.
Cinta tidak.
Kita bisa memilih apa yang ingin kita percaya.
Kita bisa memilih ritual apa yang ingin kita jalani.
Tetapi kita tidak pernah benar-benar memilih dengan siapa kita jatuh cinta.
Cinta datang tanpa terlalu peduli pada kolom agama di kartu identitas.
Ia datang pada manusia.
Pada cara seseorang tertawa.
Pada cara seseorang memperlakukan kita.
Pada cara seseorang hadir dalam hidup kita.
Bukan pada label agama mereka.
Itulah sebabnya kadang terasa aneh ketika negara merasa perlu ikut mengatur sesuatu yang begitu pribadi.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan tentang agama yang sama.
Hubungan adalah tentang rasa hormat.
Apakah dua orang bisa menerima perbedaan.
Apakah mereka bisa hidup berdampingan tanpa mencoba mengubah satu sama lain.
Aku Katolik.
Suamiku Buddha.
Dan kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari, hal itu hampir tidak pernah menjadi masalah.
Kami hanya dua orang yang saling mencintai dan mencoba menjalani hidup bersama dengan baik.
Kadang aku berpikir mungkin pertanyaannya bukan:
apakah agama harus sama?
Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
Kenapa negara merasa perlu ikut campur dalam sesuatu yang seharusnya sangat pribadi?
Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah pernikahan bertahan bukanlah agama yang sama.
Tetapi dua orang yang memilih untuk saling menghormati.. setiap hari.
Mungkin kita tidak selalu perlu sepakat untuk bisa memahami.
–
Mungkin tidak semua cerita harus kita setujui.
Dan tidak semua pilihan harus kita jalani.
Tapi ada satu hal yang seringkali terlupakan,
bahwa setiap orang sedang berusaha menjalani hidupnya sebaik yang mereka bisa, dengan versi kebenaran yang mereka pahami.
Dan dalam relasi, mungkin yang paling kita butuhkan bukan selalu kesamaan.
Melainkan ruang.
Ruang untuk berbeda.
Ruang untuk tetap tinggal.
Ruang untuk saling menghormati tanpa harus menjadi sama.
Karena pada akhirnya,
arah yang kita pilih dalam hidup..
sering kali tidak ditentukan oleh apa yang paling ideal,
tetapi oleh siapa yang tetap kita pilih,
setiap hari.
Editor : Redaksi