x jejakdanarah.com skyscraper
x jejakdanarah.com skyscraper

Museum Digital UNAIR Hadirkan Cara Baru Merawat Sejarah dengan AI

Avatar Brigitta N. Ferdiana

TEKNOLOGI

Jejakdanarah.com - Sejarah tidak selalu tersimpan dalam benda yang berada di balik kaca museum. Ada pula yang tersimpan dalam foto lama, dokumen, arsip keluarga, dan cerita yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.

Ketika teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mudah digunakan, arsip-arsip tersebut memiliki cara baru untuk diolah dan diperkenalkan kembali.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Kuliah Umum Museum Digital bertema “AI dan Warisan Budaya di Era Digital” yang digelar Universitas Airlangga (UNAIR) di Majapahit Hall, Gedung ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR, Surabaya, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan Museum Digital UNAIR kepada masyarakat. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pemanfaatan AI untuk pendidikan dan pelestarian sejarah, tetapi juga mengikuti praktik mengolah arsip menggunakan teknologi tersebut.

Restorasi foto lama, digitalisasi arsip, hingga pembuatan konten sejarah menjadi bagian dari kegiatan.

Museum Digital UNAIR

Kepala Bidang Kearsipan Pusat Administrasi Sekretariat UNAIR, Kiswari SSos, mengatakan Museum Digital UNAIR menjadi sarana untuk menjaga perjalanan sejarah kampus sejak berdiri hingga perkembangannya saat ini.

Meski berada di ruang yang tidak besar, museum tersebut terbuka untuk masyarakat dan tidak dipungut biaya.

“Museumnya kecil karena memang tempatnya kecil, tetapi museum kami tidak berbayar dan terbuka untuk umum. Jadi, siapapun boleh melihatnya,” ujar Kiswari.

UNAIR juga melakukan pembaruan cerita dalam museum setiap dua tahun agar informasi yang disajikan tetap relevan. Museum tersebut tidak hanya menarik perhatian masyarakat Indonesia. Sejumlah mahasiswa dari Malaysia dan Australia juga tercatat pernah mengunjunginya.

Bagi Kiswari, dokumentasi sejarah perlu dirawat agar perjalanan UNAIR tidak berhenti sebagai cerita yang hanya diketahui oleh generasi tertentu.

“Cerita-cerita tentang UNAIR ini kalau tidak kita lestarikan akan jadi cerita belaka saja nantinya,” tegasnya.

AI dan Pendidikan

Pembahasan mengenai sejarah kemudian bertemu dengan perkembangan teknologi.

Yutika Amelia Effendi SKom MKom PhD menjelaskan bahwa AI kini berkembang dari sekadar asisten menjadi teknologi yang dapat berkolaborasi dengan manusia dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan.

Namun, kemampuan AI tidak berarti manusia bisa menyerahkan seluruh proses kepadanya. Kreativitas, pertimbangan etis, penilaian terhadap informasi, dan tanggung jawab tetap membutuhkan peran manusia.

“AI itu bisa digunakan di berbagai domain. Makanya sekarang apa-apa multidisiplin dan kolaborasi, karena memang tidak bisa hanya bekerja sendiri,” ungkap Yutika.

Dalam pendidikan, AI dapat digunakan sebagai tutor untuk membuka diskusi, mengeksplorasi gagasan, serta membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Tetapi setiap informasi yang dihasilkan tetap perlu diperiksa. AI dapat memberikan informasi yang sudah kedaluwarsa, bias, bahkan referensi yang tidak benar. Karena itu, penggunaan AI membutuhkan kemampuan untuk bertanya, memeriksa, memperbaiki, dan mengambil keputusan.

Metode AVRCG

Yutika memperkenalkan metode AVRCG, yang terdiri dari Ask, Verify, Refine, Create, dan Disclose. Ask berarti merumuskan pertanyaan atau persoalan dengan jelas.

Kemudian Verify, yaitu memeriksa fakta secara mandiri. Setelah itu pengguna masuk ke tahap Refine untuk memperbaiki dan mengasah kueri. Jika hasilnya sudah sesuai, pengguna dapat masuk ke tahap Create untuk menghasilkan karya.

Tahap terakhir adalah Disclose, yaitu mengungkapkan secara transparan penggunaan AI dalam karya yang dibuat.

“Pengguna harus mendefinisikan masalah dengan presisi, memeriksa fakta secara mandiri, mengasah kueri, dan senantiasa transparan terhadap penggunaan AI di akhir hasil karya,” terang Yutika.

Ia juga mengingatkan agar posisi manusia dan AI tidak terbalik.

“Tidak boleh kebalik, human-nya yang co-pilot, AI-nya yang pilot. Itu tidak boleh,” pesannya.

Restorasi Foto Lama

Pemanfaatan AI kemudian diperlihatkan melalui sesi praktik yang dipandu praktisi sekaligus filmmaker AI, Deni Adi Santoso. Peserta diajak memperbaiki foto lama yang kusam, berjamur, sobek, atau memiliki resolusi rendah menggunakan ChatGPT.

Foto yang telah diperbaiki kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk konten sejarah, mulai dari artikel budaya, keterangan foto bergaya museum, hingga video pendek menggunakan Google Flow dengan teknologi Veo 3.

Deni juga menjelaskan bahwa restorasi berbeda dengan manipulasi. Dalam restorasi, pengguna dapat membersihkan noda, meningkatkan resolusi, memperbaiki warna, dan memperkuat detail tanpa mengubah identitas objek dalam foto.

Sementara manipulasi dapat mengubah struktur wajah atau menambahkan objek yang sebenarnya tidak terdapat dalam foto asli. Perubahan semacam itu dapat mengurangi nilai historis sebuah arsip.

“Dulu sejarah tersimpan dalam gedung, tetapi zaman sekarang diri kita bisa menyimpan sejarah itu,” ujar Deni.

Menurutnya, AI seharusnya digunakan sebagai alat untuk merawat sejarah, bukan mengubah fakta sejarah.

Arsip Keluarga Bisa Diselamatkan

Praktik kemudian diperluas ke arsip yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu dokumentasi keluarga.

Peserta belajar mengembangkan foto lama menjadi artikel budaya, keterangan foto, maupun video pendek. Deni juga membagikan cara sederhana menyimpan arsip keluarga secara digital.

Salah satu contoh penamaan file yang digunakan adalah [Tahun_Keluarga_Bapak Karim Memcuci Motor].

Arsip kemudian dapat disimpan melalui Google Drive atau hard disk eksternal. Cara sederhana tersebut membantu keluarga menjaga dokumentasi agar tidak hilang atau tercecer.

Deni sengaja memperbanyak praktik agar peserta dapat langsung mencoba teknologi yang diperkenalkan.

“Saya tidak mau banyak teori di sini, saya mau mengajak praktik saja,” ujarnya.

AI, Deni dan UNAIR

Kehadiran Deni sebagai narasumber juga membawa cerita tersendiri.

Pada 2013, ia pernah mengalami penolakan ketika mencoba masuk UNAIR. Tiga belas tahun kemudian, ia kembali ke kampus tersebut sebagai narasumber dalam kegiatan yang membahas AI dan pelestarian sejarah.

“Saya juga punya sejarah dengan UNAIR. Dulu 2013 saya ditolak UNAIR, dan saat ini 2026 saya bisa hadir di UNAIR menjadi narasumber berkat AI,” kata Deni.

Teknologi yang kini menjadi bagian dari pekerjaannya justru membawanya kembali ke kampus yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Membaca Peristiwa

Ada pertemuan yang menarik antara museum, manusia, dan AI.

Museum menyimpan jejak masa lalu. AI menawarkan cara baru untuk membaca, mengolah, dan memperkenalkan kembali jejak tersebut. Keduanya bertemu pada satu kebutuhan sederhana: membuat cerita tetap hidup dan dapat ditemukan oleh generasi berikutnya.

Di UNAIR, gagasan itu tidak berhenti pada pembicaraan tentang teknologi. Peserta diajak mengambil foto lama, memperbaikinya, membaca kembali konteksnya, lalu mengubahnya menjadi cerita yang bisa dinikmati dalam bentuk digital.

Di titik ini, AI menjadi lebih dari sekadar alat.

Ia membantu sebuah foto lama kembali memiliki ruang untuk bercerita. Arsip yang sebelumnya tersimpan di dalam album atau lemari dapat menemukan bentuk baru. Cerita keluarga, perjalanan sebuah tempat, hingga sejarah sebuah institusi dapat diperkenalkan kepada orang-orang yang tidak pernah mengalaminya secara langsung.

Kisah Deni Adi Santoso sendiri terasa seperti bagian kecil dari cerita tersebut.

Ia memiliki perjalanan dengan UNAIR sejak 2013. Tiga belas tahun kemudian, ia kembali ke kampus tersebut sebagai narasumber, membawa pengalaman dan pengetahuannya tentang AI untuk dibagikan dalam ruang yang membicarakan masa depan sekaligus cara merawat masa lalu.

Ada sesuatu yang menarik dari pertemuan itu.

Sebuah tempat bisa menjadi bagian dari perjalanan seseorang, lalu hadir kembali bertahun-tahun kemudian dengan cerita yang berbeda. Kali ini, Deni datang bukan hanya membawa pengalamannya sendiri, tetapi juga berbagi bagaimana teknologi dapat membantu orang lain merawat cerita dan arsip yang mereka miliki.

Begitu pula dengan arsip.

Sebuah foto lama mungkin terlihat sederhana. Namun ketika seseorang memberinya konteks, memperbaiki kualitasnya, lalu menceritakan kembali kisah di baliknya, foto itu mendapatkan kehidupan kedua.

Di sinilah AI membuka kemungkinan baru. Bukan untuk menggantikan cerita yang sudah ada, melainkan membantu manusia menemukan cara baru untuk menyampaikannya.

Sejarah akhirnya tidak hanya tinggal di museum, buku, atau album keluarga. Ia bisa hadir di layar, menjadi materi pembelajaran, video, atau cerita digital yang lebih dekat dengan generasi hari ini.

Dan mungkin, di situlah pertemuan antara jejak dan arah menjadi menarik: jejak memberi kita sesuatu untuk diingat, sementara teknologi membantu menemukan arah baru agar ingatan itu tetap sampai kepada mereka yang belum pernah mengalaminya.

Artikel Terbaru
Senin, 24 Agu 2026 09:58 WIB | TECH & LIFESTYLE

Meracik Parfum, Menemukan Aroma yang Lebih Personal di Small Party with Arroma

Small Party with Arroma di Surabaya mengajak peserta meracik parfum sendiri sambil mengeksplorasi aroma gourmand, karamel, dan cokelat secara personal. ...
Senin, 24 Agu 2026 09:38 WIB | SPORTS & OTOMOTIF

Dari Meja Domino ke Porprov 2027, Orado Surabaya Menyusun Jalan Menuju Lima Emas

Orado Surabaya menyiapkan atlet menuju Porprov Jatim 2027 lewat Gebu Minang Cup 4. Kompetisi ini diikuti 128 peserta dari berbagai daerah. ...
Senin, 24 Agu 2026 08:46 WIB | SPORTS & OTOMOTIF

Adu Strategi di Meja Domino, 64 Jurnalis Menjadi Bagian dari Perjalanan Olahraga Prestasi

Turnamen Domino Jurnalis 2026 di Surabaya diikuti 64 jurnalis. ORADO Jatim dan KONI Jatim mendorong domino berkembang sebagai olahraga prestasi. ...
Jumat, 21 Agu 2026 19:55 WIB | NEWS

Dindik Jatim Gandeng HGI di Tengah Bayang-Bayang Judi Online

Dindik Jatim menjajaki kerja sama dengan HGI di bidang pendidikan. Rekam jejak Higgs Domino membuat kerja sama ini mendapat sorotan. ...
Rabu, 19 Agu 2026 13:08 WIB | INTERNATIONAL

Setelah Menepi karena Kasus Narkoba, Yoo Ah-in Kembali ke Layar Lebar

Yoo Ah-in kembali mengambil proyek film setelah lama menepi. Ia akan membintangi Vampir, film terbaru sutradara Exhuma. ...
Rabu, 19 Agu 2026 12:01 WIB | INTERNATIONAL

Saham Unitree Melonjak Lebih dari 600 Persen, Robot Humanoid China Jadi Sorotan

Saham Unitree Robotics melonjak lebih dari 600 persen saat debut di bursa Shanghai. Robot humanoid China kini menjadi sorotan investor. ...