Nama Nadiem Makarim kembali ramai dibicarakan dan menjadi isu yang cukup viral setelah Kejaksaan Agung mendalami kasus pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Program yang dulu menjadi bagian dari digitalisasi pendidikan itu kini justru memunculkan banyak pertanyaan di publik. Mulai dari pemilihan Chromebook, efektivitas penggunaannya di sekolah, hingga dugaan adanya penyimpangan dalam proses pengadaan.
Setelah membaca berita-berita terkait, aku justru jadi bingung.
Karena entah kenapa, kasus ini terasa berbeda dibanding berita korupsi atau proyek bermasalah lainnya.
Mungkin karena banyak dari generasi kita dulu melihat Nadiem bukan sekadar pejabat. Tapi simbol perubahan. Simbol anak muda yang datang membawa harapan baru tentang pendidikan, teknologi, dan cara berpikir modern.
Kita hidup di masa ketika nama-nama startup mulai dianggap keren. Digitalisasi terdengar seperti masa depan. Teknologi dipercaya bisa membuat semuanya lebih cepat, lebih efisien, dan lebih baik.
Termasuk pendidikan.
Kalau dipikir-pikir, Nadiem sebenarnya sudah sukses dengan Gojek yang ia bangun. Ketika kemudian dia dipercaya menjadi bagian dari barisan menteri Republik Indonesia, rasanya seperti ada harapan bahwa seseorang dari dunia teknologi akhirnya mencoba membawa perubahan nyata ke sistem pendidikan kita.
Makanya ketika program laptop Chromebook masuk ke sekolah-sekolah, banyak orang awalnya percaya bahwa ini bagian dari kemajuan. Anak-anak dianggap harus mulai dekat dengan teknologi. Sekolah dianggap perlu mengejar perkembangan zaman.
Dan di sini kita sedang tidak membahas politik terkait apa pun. Tulisan ini aku buat karena aku merasa ada sesuatu yang terasa aneh sekaligus mengganggu di kepala.
Karena semakin ke sini, aku merasa generasi usia 35–55 sebenarnya sedang berada di fase yang cukup melelahkan.
Kita generasi yang tumbuh di era buku tulis, perpustakaan, dan kapur papan tulis.
Lalu tiba-tiba dipaksa hidup di dunia yang semuanya serba digital.
Anak sekolah pakai aplikasi.
Tugas dikirim online.
Belajar lewat gadget.
Sekarang Artificial Intelligence atau AI mulai masuk ke ruang belajar.
Dan di tengah semua perubahan itu, kita terus mencoba percaya bahwa semua ini memang benar-benar membawa pendidikan ke arah yang lebih baik.
Makanya ketika muncul kasus Chromebook ini, yang terasa bukan cuma soal laptop.
Tapi rasa percaya yang perlahan ikut terganggu.
Karena kalau dipikir-pikir, masyarakat sebenarnya tidak anti teknologi. Banyak orang tua justru ingin anaknya maju. Ingin anaknya memahami dunia digital lebih cepat dibanding generasinya dulu.
Tapi di sisi lain, masyarakat juga mulai lelah dengan terlalu banyak jargon transformasi yang kadang terasa jauh dari realita.
Sekolah belum semua siap.
Internet belum merata.
Guru masih banyak yang harus beradaptasi.
Dan orang tua juga masih sama-sama belajar memahami dunia digital yang berubah terlalu cepat.
Kadang aku bahkan sering bertanya dalam hati, apakah pendidikan hari ini benar-benar sedang dibangun untuk membantu anak belajar lebih baik, atau kita hanya sedang sibuk mengejar terlihat modern?
Karena jujur saja, semakin banyak teknologi masuk ke kehidupan sehari-hari, semakin banyak juga rasa skeptis yang ikut tumbuh.
Bukan karena masyarakat suka curiga.
Tapi karena generasi hari ini terlalu sering melihat harapan besar dijual lewat kata-kata seperti:
transformasi,
digitalisasi,
masa depan,
inovasi.
Namun di belakangnya, tetap muncul masalah yang akhirnya membuat publik kembali kecewa.
Dan mungkin itu yang membuat respons masyarakat terhadap kasus ini terasa unik.
Banyak orang tidak langsung membenci Nadiem.
Tapi juga tidak bisa sepenuhnya tenang.
Ada rasa heran.
Ada rasa curiga.
Ada juga rasa kecewa kecil yang sulit dijelaskan.
Seolah publik sedang bertanya:
“jadi sebenarnya masalahnya di sistemnya, manusianya, atau semuanya memang belum benar-benar siap?”
Dan menurutku, itu sangat menggambarkan generasi kita hari ini.
Generasi yang hidup di tengah perubahan terlalu cepat, tapi juga terlalu sering menyaksikan sesuatu berjalan tidak sesuai harapan.
Generasi yang dipaksa terus beradaptasi, sambil diam-diam mulai lelah untuk percaya sepenuhnya.
Apalagi kalau menyangkut pendidikan.
Karena pendidikan selalu terasa personal bagi banyak orang tua.
Kita mungkin tidak terlalu peduli soal banyak proyek lain. Tapi ketika menyangkut sekolah dan masa depan anak, semuanya terasa lebih sensitif.
Sebab setiap orang tua pasti ingin percaya bahwa sistem pendidikan sedang benar-benar dibangun untuk masa depan anak-anaknya, bukan sekadar proyek yang terlihat modern di atas kertas.
Dan mungkin itu yang sebenarnya dirasakan banyak orang ketika membaca berita Chromebook kemarin.
Bukan sekadar soal laptop.
Bukan sekadar soal anggaran.
Tapi tentang harapan generasi kita terhadap pendidikan yang perlahan terasa semakin rumit.
Karena semakin dewasa, aku mulai sadar bahwa teknologi memang bisa membantu banyak hal.
Tapi teknologi tidak pernah otomatis membuat sebuah sistem menjadi matang.
Yang paling sulit tetap manusianya.
Cara mengelolanya.
Cara menjalankannya.
Dan cara menjaga kepercayaan masyarakat di tengah dunia yang sekarang terlalu mudah gaduh.
Mungkin itu sebabnya generasi hari ini terlihat semakin skeptis.
Bukan karena mereka negatif.
Tapi karena terlalu banyak harapan pernah dijual atas nama perubahan, sementara masyarakat sebenarnya hanya ingin sesuatu yang sederhana: pendidikan yang benar-benar bisa dipercaya untuk masa depan anak-anak mereka.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terus sibuk mengejar kata “modern”, banyak orang tua hari ini sebenarnya hanya ingin memastikan satu hal sederhana.
Bahwa anak-anak mereka tetap mendapatkan masa depan yang baik, tanpa harus tumbuh di tengah sistem yang terus membuat orang dewasa kebingungan untuk percaya.
Editor : Redaksi