Jejakdanarah.com - Ada satu hal yang menentukan perjalanan tebu setelah meninggalkan kebun: kualitas.
Bagi petani, pekerjaan tidak selesai ketika tebu berhasil dipanen. Tebu masih harus sampai ke pabrik dalam kondisi yang baik. Di PG Pradjekan, Bondowoso, perhatian itu dirangkum dalam prinsip MBS: Manis, Bersih, dan Segar.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas tebu sejak dari kebun hingga masuk ke pabrik. Kualitas bahan baku kemudian berkaitan dengan proses pengolahan dan rendemen yang dihasilkan.
Karena itu, petani didorong tidak hanya mengejar hasil panen. Mereka juga perlu memperhatikan bagaimana tebu dipanen, dijaga kebersihannya, dan dikirim ke pabrik.
Bukan Sekadar Tebu yang Dipanen
Tebu berkualitas dimulai dari waktu panen. Petani perlu memanen tebu ketika mencapai tingkat kemasakan yang optimal. Setelah itu, mereka perlu menjaga tebu tetap minim kotoran.
Hal berikutnya adalah kesegaran. Petani perlu segera mengirim tebu setelah menebangnya. Dengan cara tersebut, petani membantu menjaga kualitas bahan baku yang diterima PG Pradjekan.
Tiga hal itu menjadi inti dari MBS. Manis karena matang optimal, bersih dari kotoran, dan segar karena segera dikirim setelah ditebang.
Kualitas tersebut kemudian masuk ke tahap berikutnya, yaitu proses pengolahan di pabrik.
Kualitas Tebu Bertemu dengan Rendemen
Bagi petani, istilah rendemen memiliki kaitan dengan hasil yang mereka dapatkan dari tebu yang ditanam.
Semakin baik kualitas tebu yang dikirim ke pabrik, semakin besar peluang memperoleh hasil pengolahan dan rendemen yang optimal. Kondisi itu juga dapat mendukung hasil usaha dan pendapatan petani.
Di PG Pradjekan, pasokan tebu berkualitas dari petani turut mendukung kinerja pabrik. SGN menyebut PG Pradjekan secara konsisten menunjukkan hasil dan rendemen yang baik. Di sinilah hubungan antara kebun dan pabrik menjadi penting.
Petani menentukan kualitas bahan baku melalui proses budidaya dan panen. Setelah itu, pabrik mengolah tebu tersebut menjadi gula. Keduanya berada dalam satu rangkaian yang sama.
Dengan demikian, kualitas tebu tidak hanya menjadi urusan petani. Kualitas juga menjadi bagian dari proses pengolahan di pabrik.
APTRI: Petani Harus Terus Menjaga Kualitas
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPC APTRI) PG Pradjekan Bondowoso, Rolis Wikarsono, mengajak petani terus meningkatkan kualitas tebu.
Menurut Rolis, prinsip MBS perlu menjadi perhatian petani ketika mengirimkan tebu ke pabrik.
“Petani harus terus menjaga kualitas tebunya. Tebu yang Manis, Bersih, dan Segar akan memberikan hasil yang lebih baik ketika masuk ke pabrik.”
Rolis juga mengajak petani mengirimkan tebu dengan mutu MBS ke PG milik PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Tujuannya adalah mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Namun, ia juga melihat persoalan ini dari sisi pendapatan petani.
“Dengan hasil yang baik, tentu harapannya pendapatan petani juga dapat meningkat,” ujar Rolis.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kualitas tebu memiliki kepentingan langsung bagi petani. Mereka tidak hanya berbicara mengenai bahan baku untuk pabrik, tetapi juga mengenai hasil dari usaha budidaya yang mereka jalankan.
Dari Kebun ke Pabrik
Ada proses yang harus dilalui tebu sebelum menjadi gula. Tebu tumbuh dan dirawat di kebun. Petani kemudian menentukan waktu panen. Setelah ditebang, mereka perlu menjaga tebu tetap bersih dan segera mengirimkannya ke pabrik.
Setiap tahap memiliki peran dalam menjaga kualitas. Ketika tebu tiba di PG Pradjekan, pabrik menerima bahan baku untuk masuk ke proses pengolahan. Kualitas tebu yang baik kemudian mendukung proses tersebut dan peluang memperoleh rendemen yang optimal.
Karena itu, prinsip MBS sebenarnya menggambarkan satu rangkaian sederhana: menjaga kualitas sejak sebelum tebu meninggalkan kebun hingga masuk ke pabrik.
Bagi petani, rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya mendapatkan hasil yang lebih baik dari panen mereka.
SGN Perkuat Sinergi dengan Petani
PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) melihat hubungan dengan petani sebagai bagian penting dalam ekosistem pergulaan.
Perusahaan terus memperkuat sinergi dengan petani melalui pengelolaan bahan baku dan proses pengolahan yang optimal. SGN berharap kolaborasi tersebut dapat membangun ekosistem pergulaan yang semakin produktif.
Selain itu, perusahaan mengaitkan kerja sama tersebut dengan pemberian nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan petani tebu.
PG Pradjekan sendiri menjadi salah satu pabrik gula SGN yang bermitra dengan petani di Bondowoso. Di tempat ini, tebu petani masuk ke proses pengolahan untuk menghasilkan gula.
SGN merupakan sub-holding gula PT Perkebunan Nusantara III (Persero) yang bergerak di bidang agroindustri komoditas gula. Perusahaan berdiri pada 17 Agustus 2021 sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis gula PTPN Group.
MBS dan Harapan Petani
Tidak ada angka dalam keterangan SGN yang menunjukkan berapa persen rendemen meningkat setelah petani menerapkan prinsip MBS. Tidak ada pula angka yang menunjukkan kenaikan pendapatan petani.
Karena itu, MBS tidak bisa disebut sebagai jaminan peningkatan pendapatan dengan besaran tertentu.
Yang disampaikan SGN adalah hubungan antara kualitas dan peluang hasil. Tebu yang matang optimal, minim kotoran, serta segera dikirim dapat membantu menjaga kualitas bahan baku. Kualitas yang baik kemudian mendukung proses pengolahan dan peluang memperoleh rendemen yang optimal.
Bagi petani, harapannya sederhana: kualitas tebu yang mereka jaga sejak dari kebun dapat menghasilkan nilai yang lebih baik ketika sampai di pabrik.
Di PG Pradjekan, harapan itu bertemu dengan upaya SGN memperkuat sinergi bersama petani. Sebab, sebelum menjadi gula di pabrik, setiap hasil pengolahan bermula dari tebu yang ditanam, dipanen, dijaga, dan dikirim oleh petani.
Editor : Redaksi