x jejakdanarah.com skyscraper
x jejakdanarah.com skyscraper

Judi Online Jadi Alternatif Penghasilan, Ketika Jalan Pintas Terlihat Seperti Jalan Keluar

Avatar Brigitta N. Ferdiana

REFLEKSI REDAKSI

Jejakdanarah.com - Sepuluh ribu rupiah.

Mungkin bagi sebagian orang, uang sebesar itu tidak terasa berarti. Bisa habis untuk ongkos, kopi, rokok, atau sekadar membeli sesuatu di minimarket.

Tetapi dalam perkara Yudi Surya, angka Rp10.000 menjadi bagian dari cerita yang akhirnya membawanya ke ruang sidang.

Warga Surabaya tersebut dijatuhi hukuman satu tahun penjara setelah dinyatakan terbukti tanpa izin ikut serta bermain judi. Dalam perkara tersebut, Yudi diketahui memainkan sejumlah permainan slot melalui Higgs Games Island (HGI), salah satunya Mahjong Ways 3.

Dalam persidangan, Yudi mengaku telah bermain judi slot online sejak 2021. Alasannya terdengar sederhana: mencari tambahan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keluarganya. Koin yang diperoleh dari permainan tersebut juga disebut kemudian dijual kembali kepada rekan-rekannya dengan nilai sekitar Rp50.000 hingga Rp60.000.

Kalau berhenti sampai di sini, kasus Yudi mungkin terlihat seperti perkara hukum biasa.

Seorang pria bermain judi online.

Ia tertangkap.

Ia diadili.

Ia dihukum.

Selesai.

Tapi benarkah selesai?

Sebab ada satu bagian dari perkara ini yang rasanya jauh lebih panjang daripada putusan satu tahun penjara: alasan mengapa ia mulai bermain.

Ia mencari tambahan penghasilan.

Dan alasan itu membuat persoalannya menjadi sedikit lebih rumit.

Judi yang Awalnya Hanya “Coba-Coba”

Ada sesuatu yang membuat judi online begitu mudah masuk ke kehidupan seseorang.

Ia tidak selalu datang dengan wajah yang menakutkan.

Kadang ia datang dengan angka kecil.

Rp10.000.

Tidak terasa seperti sebuah keputusan besar.

Tidak seperti mengambil utang puluhan juta. Tidak seperti mempertaruhkan rumah. Tidak seperti menjual sesuatu yang berharga.

Hanya sepuluh ribu rupiah.

Kalau kalah, mungkin tinggal berhenti.

Kalau menang, lumayan.

Begitulah sebuah keputusan kecil bisa mulai terasa masuk akal.

Dalam perkara Yudi, top up koin atau emas disebut dilakukan secara bertahap. Koin tersebut digunakan untuk memainkan sejumlah permainan slot. Dari permainan itu, koin yang diperoleh ketika menang kemudian dapat diperjualbelikan kembali.

Di titik ini, kita mulai melihat bagaimana sebuah aktivitas perjudian dapat terasa seperti aktivitas ekonomi kecil-kecilan.

Ada uang yang dikeluarkan.

Ada sesuatu yang dimainkan.

Ada hasil yang diharapkan.

Dan kalau beruntung, ada uang yang kembali.

Persoalannya, mekanisme itu tidak bekerja seperti pekerjaan.

Tidak ada pendapatan yang bisa diprediksi.

Tidak ada gaji di akhir bulan.

Tidak ada kepastian bahwa uang yang keluar akan kembali.

Tetapi bagi seseorang yang sedang membutuhkan uang, kemungkinan mendapatkan hasil dengan cepat bisa terasa sangat menarik.

Tidak perlu menunggu gajian.

Tidak perlu menunggu pelanggan.

Tidak perlu mencari pekerjaan tambahan.

Cukup ponsel.

Cukup internet.

Cukup uang untuk mulai.

Dan sebuah pikiran kecil:

“Siapa tahu menang.”

Kalimat itu terdengar sepele.

Tetapi mungkin banyak keputusan besar dalam hidup memang dimulai dari sesuatu yang terdengar sepele.

Mungkin yang Dicari Bukan Judi, Melainkan Uang

Kita sering menyederhanakan pemain judi online sebagai orang yang memang ingin berjudi.

Mungkin benar.

Tetapi tidak selalu sesederhana itu.

Ada orang yang bermain karena penasaran. Ada yang ikut teman. Ada yang mengejar kemenangan. Ada yang merasa permainan itu bisa menjadi hiburan. Ada pula yang akhirnya terjebak dan kesulitan berhenti.

Dan ada orang yang melihatnya sebagai cara mendapatkan uang tambahan.

Di sinilah kasus Yudi menjadi menarik untuk direnungkan.

Sebab mencari tambahan penghasilan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.

Banyak orang melakukannya.

Ada yang berjualan makanan setelah pulang kerja. Ada yang menjadi pengemudi online pada malam hari. Ada yang membuka toko kecil dari rumah. Ada yang mengambil pekerjaan freelance. Ada yang menjual barang bekas. Ada yang menerima pekerjaan apa saja selama bisa menambah pemasukan.

Motivasinya sama: kebutuhan.

Bedanya, pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan proses.

Ada tenaga yang harus dikeluarkan.

Ada waktu yang harus diberikan.

Ada pelanggan yang harus dicari.

Ada risiko gagal yang juga harus diterima.

Judi online menawarkan sesuatu yang berbeda.

Kecepatan.

Kemungkinan uang datang dalam waktu singkat.

Dan ketika seseorang sedang membutuhkan uang sekarang, kata “sekarang” sering kali lebih kuat daripada kata “risiko”.

Itulah salah satu alasan mengapa membicarakan judi online hanya sebagai persoalan moral terasa belum cukup.

Kita perlu melihat keadaan yang membuat seseorang bersedia mengambil risiko tersebut.

Ketika Uang Cepat Mulai Terlihat Seperti Penghasilan

Ada perbedaan besar antara mendapatkan uang dan mendapatkan penghasilan.

Penghasilan biasanya lahir dari sesuatu yang dikerjakan secara berulang. Ada pekerjaan, usaha, keterampilan, jasa, atau produk yang ditukar dengan uang.

Judi tidak bekerja seperti itu.

Ia tidak menjanjikan penghasilan.

Ia menjanjikan kemungkinan menang.

Tetapi dalam praktiknya, seseorang bisa mulai mencampurkan keduanya.

Ketika sekali bermain menghasilkan uang, pengalaman itu mudah diingat.

Kalah mungkin terasa sebagai kesialan.

Menang dianggap sebagai bukti bahwa permainan tersebut memang bisa menghasilkan.

Lalu muncul pikiran:

Kalau kemarin bisa, mungkin hari ini bisa lagi.

Kalau Rp10.000 bisa menjadi lebih banyak, mungkin besok bisa lebih banyak lagi.

Di sinilah masalah mulai bergeser.

Seseorang tidak lagi sekadar mencoba.

Ia mulai mengandalkan kemungkinan.

Dan ketika kalah, ada dorongan untuk mencoba sekali lagi agar uang yang hilang kembali.

Satu putaran.

Satu taruhan.

Satu kesempatan.

Lalu satu lagi.

Tanpa sadar, tujuan awal untuk mendapatkan tambahan uang bisa berubah menjadi usaha untuk mengejar uang yang sudah terlanjur hilang.

Yang tadinya ingin menambah pemasukan, akhirnya justru mengurangi pemasukan.

Yang Berbahaya Bukan Hanya Saat Kalah

Kita sering menganggap kekalahan sebagai titik paling berbahaya dalam perjudian.

Padahal kemenangan juga bisa menjadi masalah.

Bayangkan seseorang bermain dengan nominal kecil lalu menang.

Uang masuk.

Perasaan senang muncul.

Ia merasa pilihannya tidak sepenuhnya salah.

Pengalaman itu kemudian menjadi alasan untuk kembali bermain.

Besok mencoba lagi.

Lusa mencoba lagi.

Kalau menang, ia semakin yakin.

Kalau kalah, ia merasa masih punya kesempatan untuk mengembalikan uangnya.

Di sinilah perjudian bisa membentuk lingkaran.

Bukan lagi soal satu kali menang atau satu kali kalah.

Melainkan tentang terus kembali.

Dan teknologi membuat proses itu semakin mudah.

Tidak ada perjalanan menuju tempat perjudian.

Tidak ada pintu yang harus dibuka.

Tidak ada meja yang harus didatangi.

Semuanya bisa berlangsung dari layar ponsel.

Seseorang bisa sedang duduk di rumah bersama keluarga, berada di warung kopi, sedang beristirahat dari pekerjaan, atau sekadar berbaring di tempat tidur.

Judi online bisa berada di tempat yang sama dengan aplikasi untuk bekerja, berkomunikasi, berbelanja, dan melakukan pembayaran.

Jaraknya hampir tidak ada.

Lalu Di Mana Tanggung Jawab Platform?

Di sinilah pembicaraan tentang judi online seharusnya tidak berhenti pada pemain.

Sebab di balik seseorang yang duduk di depan layar, ada sebuah sistem yang membuat permainan itu bisa berlangsung. Ada platform, teknologi, akses, transaksi, hingga berbagai mekanisme yang memungkinkan seseorang masuk dan terus bermain.

Maka pertanyaannya menjadi lebih besar: ketika pemain ditangkap dan dihukum, bagaimana dengan pihak-pihak yang menyediakan ruang dan sistem tempat aktivitas itu berlangsung?

Seberapa jauh pengawasan dilakukan?

Seberapa cepat aktivitas perjudian terdeteksi?

Bagaimana transaksi di dalamnya dapat berlangsung?

Dan ketika sebuah platform diketahui digunakan untuk aktivitas perjudian, apa yang dilakukan untuk menghentikannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena pemberantasan judi online tidak seharusnya hanya mengejar orang yang berada di ujung rantai.

Pemain memang terlihat.

Tetapi di belakang layar ada ekosistem yang membuat perjudian dapat terus berjalan.

Kalau hanya pemain yang ditangkap sementara sumber dan jalurnya tetap terbuka, kita mungkin hanya sedang mengganti satu nama dengan nama lainnya.

Hari ini Yudi.

Besok bisa orang lain.

Ketika sebuah layanan digital digunakan untuk aktivitas ilegal, sejauh mana tanggung jawab penyedia layanan tersebut?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena platform digital bukan sekadar tempat kosong.

Ada sistem di belakangnya.

Ada mekanisme transaksi.

Ada pengelolaan akun.

Ada teknologi.

Ada aturan penggunaan.

Ada kemampuan untuk mendeteksi pola tertentu.

Dan pada banyak layanan digital, ada pula mekanisme untuk membatasi atau menindak aktivitas yang dianggap melanggar aturan.

Karena itu, ketika membicarakan pemberantasan judi online, rasanya kurang lengkap jika seluruh perhatian hanya diarahkan kepada orang yang berada di ujung layar.

Sekali lagi, pemain memang terlihat.

Tetapi ekosistem yang memungkinkan aktivitas tersebut berjalan juga layak diperhatikan.

Siapa yang menyediakan akses?

Bagaimana transaksi berlangsung?

Bagaimana aktivitas ilegal terdeteksi?

Seberapa cepat laporan ditindak?

Dan bagaimana sebuah sistem memastikan layanannya tidak menjadi ruang yang memudahkan aktivitas yang melanggar hukum?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti kita sedang mencari siapa yang harus disalahkan.

Justru sebaliknya.

Kita sedang mencari cara agar persoalan tidak terus berulang.

Karena jika satu pemain dihukum sementara sistem yang memungkinkan perjudian tetap mudah ditemukan, maka akan selalu ada kemungkinan muncul pemain berikutnya.

Yudi Tetap Harus Bertanggung Jawab

Di tengah refleksi ini, satu hal tetap harus jelas.

Yudi memiliki tanggung jawab atas pilihannya.

Kesulitan ekonomi tidak otomatis membuat perjudian menjadi benar.

Kebutuhan keluarga bukan alasan yang menghapus konsekuensi hukum.

Dan keputusan seseorang untuk bermain tetap merupakan keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.

Pengadilan Negeri Surabaya telah menjatuhkan hukuman satu tahun penjara setelah majelis hakim menyatakan Yudi terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana tanpa izin ikut serta bermain judi.

Dalam putusannya, hakim juga mempertimbangkan beberapa hal yang meringankan, termasuk pengakuan dan penyesalan terdakwa serta statusnya sebagai tulang punggung keluarga.

Hukum memiliki jalannya sendiri.

Tetapi kehidupan di luar ruang sidang memiliki pertanyaan yang lebih panjang.

Setelah seorang pemain dihukum, apa yang berubah?

Apakah orang lain menjadi lebih sulit menemukan judi online?

Apakah aksesnya berkurang?

Apakah promosi dan ajakannya berhenti?

Apakah orang yang sudah kecanduan mendapatkan jalan untuk berhenti?

Apakah orang yang sedang kesulitan ekonomi punya pilihan lain yang cukup mudah untuk ditemukan?

Kalau jawabannya belum, maka mungkin pekerjaan kita memang belum selesai.

Karena Orang yang Butuh Uang Akan Selalu Mencari Jalan

Ini bagian yang mungkin paling tidak nyaman untuk dibicarakan.

Orang yang sedang membutuhkan uang akan mencari uang.

Sesederhana itu.

Tagihan tidak menunggu kondisi ekonomi membaik.

Kebutuhan rumah tangga tidak berhenti hanya karena penghasilan sedang turun.

Anak tetap membutuhkan makan.

Transportasi tetap membutuhkan biaya.

Listrik tetap harus dibayar.

Dan ketika pemasukan tidak cukup, seseorang akan mencari tambahan.

Persoalannya adalah pilihan yang tersedia.

Kita sering mengatakan kepada orang-orang agar tidak mengambil jalan pintas.

Tetapi apakah kita sudah menyediakan jalan lain yang mudah ditemukan?

Kalau seseorang membutuhkan Rp100.000 tambahan hari ini, apakah ada cara legal yang bisa ia lakukan tanpa modal besar?

Kalau seseorang kehilangan pekerjaan, apakah ia tahu harus mencari ke mana?

Kalau seseorang memiliki keterampilan sederhana, apakah ada ruang untuk menjadikannya penghasilan?

Kalau seseorang sudah terlanjur kecanduan judi online, apakah ada tempat yang bisa membantunya keluar?

Pertanyaan seperti ini mungkin tidak menghasilkan berita yang dramatis.

Tidak ada penangkapan.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada foto tersangka.

Tetapi justru pekerjaan seperti inilah yang menentukan apakah kasus yang sama akan terus berulang.

Setelah Berita Ini Tidak Lagi Ramai

Hari ini nama Yudi Surya muncul dalam pemberitaan.

Orang membaca.

Orang berkomentar.

Ada yang marah.

Ada yang menyayangkan.

Ada yang mengatakan hukuman pantas diberikan.

Ada pula yang melihat kasus tersebut dari sisi kehidupan keluarganya.

Beberapa waktu lagi, perhatian publik mungkin berpindah.

Akan ada kasus baru.

Berita baru.

Nama baru.

Judi online mungkin kembali muncul ketika ada penangkapan berikutnya.

Siklusnya berulang.

Tetapi bagi Yudi, berita itu tidak berhenti ketika artikel terakhir tentang dirinya turun dari halaman utama.

Ada hukuman satu tahun yang harus dijalani.

Ada keluarga yang harus melanjutkan kehidupan.

Ada pekerjaan yang mungkin harus dicari kembali.

Ada konsekuensi yang tidak selesai dalam satu siklus pemberitaan.

Dan mungkin di situlah kita perlu melihat kasus ini dengan sedikit lebih pelan.

Yudi tidak memulai semuanya dengan sebuah keputusan besar.

Ia tidak tiba-tiba bangun suatu pagi lalu memutuskan untuk menghancurkan hidupnya.

Ada langkah-langkah kecil.

Ada uang yang relatif kecil.

Ada permainan.

Ada kemenangan yang mungkin terasa menyenangkan.

Ada kekalahan.

Ada keinginan mencoba lagi.

Ada harapan mendapatkan tambahan penghasilan.

Kemudian semuanya bergerak semakin jauh.

Sampai akhirnya permainan yang sebelumnya hanya berada di layar ponsel berubah menjadi perkara hukum.

Dari Rp10.000 menuju satu tahun penjara.

Jaraknya panjang.

Tetapi dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Harus Kita Takuti?

Mungkin bukan hanya kekalahan.

Bukan hanya kehilangan uang.

Bukan hanya hukuman.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang mulai percaya bahwa judi adalah salah satu cara untuk bertahan hidup.

Karena pada saat itu, masalahnya sudah lebih dalam.

Judi tidak lagi sekadar permainan.

Ia sudah masuk ke dalam cara seseorang melihat masa depannya.

Dan ketika seseorang yang sedang membutuhkan uang melihat perjudian sebagai alternatif penghasilan, kita seharusnya tidak hanya bertanya, “Kenapa dia berjudi?”

Kita juga perlu bertanya:

“Kenapa jalan itu terlihat sebagai pilihan?”

Pertanyaan tersebut tidak membebaskan siapa pun dari tanggung jawab.

Tetapi mungkin bisa membuat kita memahami persoalan dengan lebih lengkap.

Pemain harus bertanggung jawab.

Penyedia layanan harus menjalankan tanggung jawabnya sesuai hukum dan ketentuan yang berlaku.

Platform digital perlu memiliki pengawasan yang memadai.

Negara perlu memastikan penegakan hukum berjalan sampai ke ekosistemnya, bukan hanya berhenti pada orang yang paling mudah ditemukan.

Dan masyarakat perlu menyediakan lebih banyak ruang bagi orang-orang yang sedang mencari jalan untuk mendapatkan penghasilan secara legal.

Sebab selama kebutuhan tetap ada, manusia akan terus mencari jalan.

Dan kalau jalan yang salah ternyata jauh lebih mudah ditemukan daripada jalan yang benar, selalu ada kemungkinan seseorang akan memilihnya.

Bukan Alternatif Penghasilan

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menggunakan istilah “alternatif penghasilan” untuk judi online.

Karena judi tidak pernah memberikan penghasilan.

Ia memberikan kemungkinan.

Dan dua hal itu berbeda.

Penghasilan lahir dari sesuatu yang bisa dibangun.

Kemungkinan menang lahir dari sesuatu yang hasil akhirnya tidak bisa kita kendalikan.

Kasus Yudi Surya mungkin akan dikenang sebagai satu perkara judi online di Surabaya.

Tetapi bagi kita yang melihatnya dari luar ruang sidang, ada pelajaran yang lebih besar.

Jangan sampai seseorang baru menyadari bahwa judi bukan jalan keluar setelah ia kehilangan uang.

Jangan sampai keluarga baru menyadari bahayanya setelah utang menumpuk.

Jangan sampai negara baru bergerak setelah korban semakin banyak.

Dan jangan sampai kita hanya sibuk menghitung berapa pemain yang sudah dihukum tanpa bertanya mengapa selalu ada pemain berikutnya.

Karena pada akhirnya, persoalannya bukan hanya tentang satu orang yang duduk di depan layar.

Persoalannya adalah tentang sebuah masyarakat yang masih harus menjawab pertanyaan sederhana:

Kalau seseorang sedang butuh uang, sudahkah kita menyediakan jalan lain yang sama mudahnya untuk ditemukan?

Sebab jalan pintas memang terlihat menarik ketika seseorang sedang terburu-buru.

Tetapi ada jalan pintas yang tidak membawa kita lebih cepat sampai tujuan.

Ia hanya membawa kita lebih cepat ke tempat yang tidak pernah kita rencanakan.

Dan dalam kasus Yudi, tempat itu bernama penjara.

Artikel Terbaru
Selasa, 01 Sep 2026 19:03 WIB | NEWS

Kristiani, Warga Surabaya Tolak Rp10 Juta, Pertanyaan Rp1 Juta Justru Belum Selesai

Warga Surabaya Kristiani menolak tawaran Rp10 juta setelah mengaku diminta Rp1 juta untuk mengurus surat pengeluaran kendaraan barang bukti kecelakaan. ...
Selasa, 01 Sep 2026 18:22 WIB | NEWS

Junior Barista Showdown 2026, Barista Muda Bereksperimen Lewat Coffee Mixology

Junior Barista Showdown 2026 di The Alana Surabaya mempertemukan barista muda dan praktisi industri yang menguji kreatif, teknik serta rasa. ...
Selasa, 01 Sep 2026 18:02 WIB | NEWS

Petani PG Pradjekan Didorong Jaga Tebu MBS untuk Optimalkan Rendemen

Petani PG Pradjekan Bondowoso didorong menjaga tebu MBS untuk mendukung kualitas bahan baku, rendemen, hasil panen, dan pendapatan petani. ...
Selasa, 01 Sep 2026 17:10 WIB | LIFESTYLE

Perempuan Hebat di Sekitar Kita: Melia dan Gerakan Sunyi dari Dapur yang Menjaga Bumi

Melia adalah perempuan hebat berusia 60 tahun yang menjadikan eco enzym dan biopori sebagai cara hidup. ...
Minggu, 30 Agu 2026 16:52 WIB | NEWS

Saat Pemain Judi Online Dipidana, Djoni Pertanyakan Sistem Pengawasannya

Djoni Sudjatmoko mempertanyakan sistem pengawasan platform judi online saat membahas kasus Yudi Surya dalam diskusi Ekonomi Pancasila di Jombang. ...
Jumat, 28 Agu 2026 18:06 WIB | LIFESTYLE

EXCOTEL Surabaya Gandeng LVRI, 10 Veteran Bawa Cerita Sejarah ke Meja Wedang Jawi

EXCOTEL Surabaya menggandeng LVRI dalam Mixology with Veteran. Sebanyak 10 veteran meracik Wedang Jawi sambil berbagi cerita sejarah. ...