Jejakdanarah.com - Ada sesuatu yang terasa semakin mahal di negeri ini: menjadi idealis.
Idealisme masih ada. Yang berubah adalah harga yang harus dibayar untuk mempertahankannya.
Kehidupan semakin pandai mengajarkan manusia untuk berkompromi.
Dengan keadaan. Dengan kebutuhan. Dengan kekuasaan. Bahkan dengan sesuatu yang dulu diyakini tidak akan pernah bisa ditawar.
Di tengah politik yang terus bergerak, pemerintahan yang membawa janji perubahan, pembangunan yang terus dikejar, dan masyarakat yang harus berhadapan dengan kebutuhan hidup yang semakin nyata, idealisme perlahan bertemu dengan satu lawan yang sulit dikalahkan, yaitu keadaan.Keadaan tidak pernah berdebat. Ia datang dalam bentuk tagihan, pekerjaan, keluarga, biaya pendidikan, harga kebutuhan, dan kekhawatiran tentang hari esok.
Lalu pelan-pelan kita mulai berkata: nanti saja.
Nanti ketika keadaan lebih baik.
Nanti ketika situasi lebih aman.
Masalahnya, “nanti” sering menjadi tempat paling nyaman untuk menyimpan prinsip yang mulai kita tinggalkan.
Negeri yang Terlalu Sering Meminta Kita Memahami
Ada satu kata yang cukup akrab dalam kehidupan bernegara, memahami.
Masyarakat diminta memahami kondisi ekonomi, keterbatasan anggaran, kebutuhan pembangunan, dan berbagai kebijakan yang hasilnya mungkin belum bisa dirasakan hari ini.
Mungkin memang demikian.
Tidak ada negara yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu malam. Pemerintahan juga tidak mungkin membuat semua orang puas.
Tetapi ketika masyarakat diminta memahami, ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang.
Hak untuk bertanya.
Memahami tidak berarti menyetujui.
Mendukung tidak berarti menyerahkan seluruh nalar.
Dan mengkritik pemerintah tidak otomatis berarti membenci negara.
Demokrasi bukan hanya tentang memilih siapa yang memegang kekuasaan. Demokrasi juga tentang memastikan bahwa mereka yang memegang kekuasaan masih bisa ditanya.
Pemerintah boleh meminta rakyat percaya. Tetapi rakyat tetap berhak meminta alasan.
Itu bukan bentuk permusuhan.
Itu bagian dari hubungan yang sehat antara kekuasaan dan masyarakat.
Politik yang Akhirnya Sampai ke Meja Makan
Politik sering terasa jauh.
Ia berada di gedung pemerintahan, ruang rapat, parlemen, panggung politik, konferensi pers, dan layar media.
Namun dampaknya tidak tinggal di sana.
Ia turun ke pasar, kantor, pabrik, sekolah, jalan, dan rumah-rumah yang mungkin tidak pernah ikut membahas sebuah kebijakan, tetapi harus hidup dengan akibatnya.
Aturan berubah. Harga berubah. Pekerjaan berubah. Peluang berubah. Lingkungan berubah.
Dan pada akhirnya, semua itu sampai ke tempat yang paling sederhana, meja makan. Tempat kita mengisi perut, membicarakan hidup, dan mengumpulkan tenaga untuk kembali menghadapi hari esok.
Karena itu politik bukan hanya soal siapa yang berkuasa.
Politik adalah tentang bagaimana kekuasaan digunakan dan kepada siapa dampaknya akhirnya jatuh.
Sebuah kebijakan mungkin terlihat baik di atas kertas. Tetapi kehidupan tidak berjalan di atas kertas.
Ia berjalan di warung yang pembelinya berkurang, usaha kecil yang menghitung biaya setiap hari, keluarga yang menunda kebutuhan, dan pekerja yang berharap pekerjaannya masih ada bulan depan.
Rakyat mungkin tidak selalu memahami bahasa kebijakan. Tetapi rakyat tahu ketika hidup menjadi lebih sulit.
Ketika Idealisme Mulai Terasa Seperti Kemewahan
Semakin dewasa, hidup mengajarkan bahwa semuanya tidak sesederhana yang pernah dibayangkan.
Ada orang jujur yang tersingkir.
Ada orang yang memilih diam karena tahu risikonya.
Ada orang yang menerima kompromi karena ada keluarga yang harus dipikirkan.
Sulit menghakimi keberanian orang lain jika tidak ikut menanggung akibat dari keberanian tersebut.Idealisme paling mudah dipertahankan ketika tidak ada sesuatu yang dipertaruhkan.
Mudah mengatakan, “Jangan takut kehilangan.”
Sulit mengatakannya kepada seseorang yang kehilangan pekerjaan berarti kehilangan kemampuan menghidupi keluarganya.
Mudah mengatakan, “Beranilah melawan.”
Tetapi tidak semua orang memiliki tempat yang aman untuk berdiri sendirian.
Karena itu, tidak semua diam bisa disebut pengecut.
Tetapi tidak semua diam juga bisa dibenarkan.
Di antara keduanya ada manusia yang sedang mencoba bertahan.
Kompromi: Bertahan atau Menyerah?
Kompromi adalah bagian dari kehidupan.
Dalam keluarga, pekerjaan, bisnis, bahkan politik.
Tanpa kompromi, banyak hal mungkin tidak akan berjalan.
Masalahnya bukan pada kompromi.
Masalahnya muncul ketika kita mulai tidak tahu lagi apa yang sedang kita kompromikan.
Sedikit demi sedikit.
Hari ini satu hal. Besok hal lain.
Sampai sesuatu yang dulu terasa salah mulai terasa biasa.
Yang berbahaya bukan ketika manusia berkompromi. Yang berbahaya adalah ketika manusia mulai terbiasa mengkhianati prinsipnya sendiri.
Batas tidak selalu runtuh dengan suara keras.
Kadang ia hanya bergeser sedikit.
Lalu sedikit lagi.
Sampai suatu hari kita tidak lagi tahu kapan sebenarnya kita berhenti menjadi orang yang dulu kita percaya.
Ketika Pembangunan Bertemu Lingkungan
Persoalan yang sama terlihat ketika pembangunan bertemu lingkungan.
Semua orang menginginkan pembangunan.
Jalan yang lebih baik. Lapangan pekerjaan. Investasi. Kota yang berkembang. Ekonomi yang tumbuh.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Tetapi di balik setiap pembangunan selalu ada pertanyaan yang layak diajukan:
Apa yang harus dibayar untuk mencapainya?
Sebuah hutan mungkin hanya terlihat sebagai kawasan di peta. Bagi masyarakat tertentu, ia adalah sumber kehidupan.
Sebuah sungai mungkin hanya terlihat sebagai bagian dari ruang pembangunan. Bagi orang lain, ia adalah air yang digunakan setiap hari.
Alam tidak hadir dalam rapat.
Tidak berdiri di podium.
Tidak membuat konferensi pers.
Ia hanya diam.
Dan sering kali, diamnya baru terdengar ketika kerusakan sudah terlalu besar untuk dikembalikan.
Kita sering menyebutnya pembangunan ketika menikmati manfaatnya, dan menyebutnya kerusakan ketika harus menanggung akibatnya.
Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya dihitung dari berapa banyak yang berhasil dibangun.
Perlu dihitung juga apa yang hilang di sepanjang jalan.
Ketika Kekuasaan Mulai Tidak Nyaman Dipertanyakan
Kekuasaan memang tidak harus selalu benar.
Tetapi kekuasaan harus selalu bersedia dipertanyakan.
Sebab ketika sebuah keputusan menyentuh kehidupan banyak orang, penjelasan bukan sekadar urusan komunikasi. Ia bagian dari tanggung jawab.
Masyarakat boleh diminta bersabar.
Tetapi kesabaran tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda pertanyaan tanpa batas.
Masyarakat boleh diminta percaya.
Tetapi kepercayaan bukan cek kosong.
Dan kritik tidak seharusnya diperlakukan sebagai gangguan hanya karena datang dari arah yang tidak menyenangkan.
Kekuasaan yang sehat bukan kekuasaan yang tidak pernah dikritik. Kekuasaan yang sehat adalah kekuasaan yang tidak perlu takut ketika dikritik.
Di luar ruang pemerintahan, kehidupan terus berlangsung.
Ada orang yang menunggu pekerjaan.
Ada keluarga yang menghitung pengeluaran.
Ada pelaku usaha yang mencoba bertahan.
Ada lingkungan yang perlahan berubah.
Mereka tidak meminta semua keputusan menjadi sempurna.
Mereka hanya ingin tahu bahwa ketika sebuah keputusan dibuat atas nama kepentingan bersama, kepentingan mereka benar-benar ikut dihitung.
Sebab kekuasaan bukan hanya tentang kemampuan mengambil keputusan.
Kekuasaan juga tentang kesediaan mendengar akibat dari keputusan itu.
Idealisme Tidak Harus Berteriak
Mungkin karena itu idealisme masih dibutuhkan.
Justru ketika kehidupan semakin pragmatis.
Tetapi idealisme tidak harus selalu terlihat heroik.
Tidak harus menjadi suara paling keras.
Kadang ia hanya berupa keberanian untuk mengatakan tidak.
Kadang berupa keberanian untuk bertanya.
Kadang berupa keputusan untuk tidak mengambil sesuatu yang sebenarnya bisa diambil.
Dan kadang idealisme hanya berarti tetap memegang satu prinsip ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Mungkin menjadi idealis bukan berarti tidak pernah berkompromi. Mungkin menjadi idealis adalah tahu kapan harus berhenti berkompromi.
Sebab tidak semua hal harus diperjuangkan sampai habis.
Tetapi ada beberapa hal yang seharusnya tidak dijual hanya karena harganya sedang tinggi. Kejujuran. Keadilan. Martabat. Lingkungan.
Dan hak untuk bertanya.
Pada Akhirnya, Apa yang Tersisa?
Pemerintahan akan berganti. Kekuasaan akan berpindah. Tokoh politik akan datang dan pergi.
Narasi akan berubah.
Yang hari ini dipuji mungkin besok dikritik. Tetapi kehidupan akan tetap berjalan.
Anak-anak tumbuh. Orang tua menua. Orang-orang bekerja. Kota berkembang. Lingkungan terus berubah.
Dan manusia tetap harus menentukan pilihan setiap hari.Mungkin pada akhirnya bukan soal apakah seseorang berhasil menjadi idealis sepanjang hidupnya.
Tidak ada yang sesempurna itu.
Yang lebih penting adalah apakah masih ada beberapa batas yang tidak bersedia dilewati.
Sebab hidup memang membutuhkan kompromi.
Tetapi hidup juga membutuhkan arah.
Tanpa arah, kompromi hanya akan membawa kita semakin jauh dari tempat yang sebenarnya ingin dituju.
Barangkali negeri ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang merasa dirinya paling benar.
Yang dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang masih mau bertanya.
Masih mau mendengar. Masih mau mengoreksi.
Masih memiliki keberanian untuk mengatakan:
“Tidak semua hal boleh dibenarkan hanya karena keadaan.”
Sebab suatu hari nanti, ketika jabatan telah berganti, pemerintahan telah berubah, dan semua perdebatan politik menjadi bagian dari arsip sejarah, yang tersisa bukan hanya catatan tentang siapa yang pernah berkuasa.
Yang tersisa adalah bagaimana sebuah generasi memilih bersikap ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Apakah memilih diam.
Apakah memilih mengikuti.
Atau memilih tetap menjaga beberapa prinsip, meskipun harus berjalan lebih pelan.
Karena mungkin menjadi idealis bukan tentang memenangkan pertarungan.
Mungkin hanya tentang memastikan bahwa ketika semuanya selesai, kita masih mengenali diri sendiri.
Editor : Redaksi